Peunayong “Chinatown-nya Banda Aceh”, Semua Ada di Sini

Waktu itu hari masih pagi. Tapi para pesembahyang mulai memadati Vihara Dharma Bhakti. Dari dalam ruangan, asap tampak mengepul tebal. Lilin ditata rapi di atas meja panjang. Nyala api membuat bangunan merah ini tampak semakin menyala. Bau dupa tercium amat kuat. Buah dan kue tersaji dalam nampan. Satu persatu pesembahyang hilir mudik memanjatkan doa. Mereka tampak bersuka cita. Imlek dirayakan tanpa raut kecemasan dan ketakutan.

Jika anda berkunjung ke Banda Aceh jangan lupa singgah ke Peunayong. Gampong (desa) yang terletak persis di tengah kota ini juga dikenal sebagai chinatown-nya Banda Aceh. Di sini lebih dari 2000 jiwa masyarakat keturunan Tionghoa bermukim. Mereka adalah Warga Tiongkok generasi ke-4 atau ke-5 dari buyut mereka yang datang pada abad ke-19. Dalam buku berjudul Etnis Cina Perantauan di Aceh karya A. Rani Usman menjelaskan jika mereka berasal dari suku Khek, yang berasal dari Provinsi Kwantung, Tiongkok. Di Peunayong mereka mencari nafkah dan berbaur dengan masyarakat pribumi lainnya.

Peunayong sendiri berasal dari kata peu dan payong yang berarti memayungi atau melindungi. Sejak dulu Peunanyong memang telah menjadi daerah internasional. Pada zaman kepemimpinan Sultan Iskandar Muda daerah ini dijadikan sebagai kota “spesial’. Disebut spesial karena Sultan memberikan rasa aman kepada para tamu yang datang ke daerah ini. Bahkan tak jarang Sultan juga menjamu tamu kerajaan yang datang dari Eropa maupun Tiongkok.

Peunayong merupakan lokasi bersejarah. Keterikatan Aceh dan Tiongkok semakin kuat kala Laksamana Cheng Ho melakukan kunjungan ke Kerajaan Samudera Pasai di utara Aceh pada tahun 1415. Laksamana Cheng Ho yang beragama Islam disambut baik bagaikan keluarga. Bahkan bukti kedekatan tersebut hingga kini masih dapat dilihat. Sebuah lonceng yang berada di komplek Museum Aceh. Lonceng yang dikenal sebagai lonceng cakradonya!

Tidak hanya pada zaman kesultanan saja. Keberadaan Peunanyong tetap dipertahankan saat zaman penjajahan Belanda. Daerah ini sengaja di desain dan dibangun dengan konsep kampung pecinan. Hingga kini kita masih dapat melihat sejumlah gedung peninggalan tempo dulu. Saksi bisu kemegahan Aceh pada zaman lampau. Namun sayang sejumlah gedung mulai dipugar bahkan tidak dijaga dengan baik sehingga rapuh di makan zaman.

Semuanya ada di Peunayong

Pada 26 Desember 2004 tsunami menyapu daratan Aceh. Peunayong termasuk salah satu daerah yang tersapu gelombang dahsyat tsunami. Kawasan ini lumpuh total. Puing-puing bekas bangunan berserakan. Mayat bergelimpangan. Peunayong berubah menjadi kota mati. Para penghuninya memilih mengungsi ke propinsi tetangga, Sumatera Utara.

Namun kini kondisi Peunayong semakin tertata rapi. Taman dengan pohon rindang di sepanjang median jalan. Bahkan kehidupan bisnis pun semakin menggeliat. Sebagai basis dari etnis Tionghoa, Peunayong memang menjadi sentra bisnis di Banda Aceh. Di kanan-kiri jalan ruko berdiri tegak. Berbagai barang pun dijual. Mulai dari toko eletronik, handphone, pakaian hingga restoran fast food.

Sejak pemerintah kota Banda Aceh mendeklarasikan tahun kunjungan wisata, sejumlah objek telah mendapat sentuhan perbaikan. Fasilitas bagi wisatawan pun disempurnakan. Hotel, toko sovenir, restoran, warung kopi maupun cafe jumlahnya semakin bertambah. Semuanya ada di Peunayong!

Pemerintah sadar bahwa wisatawan merupakan raja yang kebutuhannya harus terpenuhi. Apalagi wisata merupakan sumber pendapatan bagi daerah yang dampaknya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat. Wisatawan bisa berbelanja, menginap dan menikmati kuliner yang ada. Transaksi itu dilakukan langsung oleh para wisatawan kepada penduduk lokal.

Pengembangan wisata Banda Aceh pun dilakukan dengan menyentuh banyak aspek. Pemerintah kota mengembangkan wisata budaya, sejarah, religi, tsunami, wisata bahari hingga kuliner. Banda Aceh benar benar kaya akan potensi wisata. Salah satu daya tarik Banda Aceh adalah wisata kuliner. Jika anda ke Peunayong jangan lupa untuk menikmati kuliner dengan cita rasa sempurna. Mie razali, dan REX adalah dua lokasi yang bisa anda kunjungi.

Mie razali sudah ada sejak tahun 1967. Restorannya memang tampak sederhana. Hanya dua ruko saja. Tapi jangan salah, sudah banyak orang yang datang ke sana menikmati hidangan mie kelas dunia. Harganya sangat terjangkau. Mulai dari Rp. 10.000 hingga Rp. 40.000. Lokasinya pun sangat mudah ditemukan. Persis di seberang Vihara Dharma Bakti. Belum sempurna rasanya jika ke Banda Aceh tapi tidak menikmati mie Razali. Cita rasa sepanjang masa.

Mie campur ala Mie Razali

Selain Mie Razali ada juga REX. Lokasinya berada persis di depan Hotel Medan. Jika anda memilih menginap di salah satu hotel yang ada di Peunayong maka REX merupakan pilihan tepat untuk menikmati kuliner khas Aceh. Di sini berbagai makanan tersedia. Harganya sangat terjangkau. Di dekat REX juga terdapat toko souvenir “Piyoh”. Tidak ada salahnya setelah menikmati sepiring sate matang khas Aceh, anda langsung berbelanja souvenir untuk dibawa pulang.

Peunayong “Laboratorium” Toleransi di Banda Aceh
Tidak hanya lengkap dengan kebutuhan para wisatawan. Namun Peunayong juga menawarkan hal lain. Ada yang unik dari gampong ini. Plural dan toleran. Toleransi merupakan kata yang sangat akrab bagi masyarakat Aceh. Sejak dulu hidup berdampingan di tengah perbedaan sudah menjadi hal lumrah. Dulu Aceh pernah menjadi bangsa besar. Berhubungan dengan banyak negara di Eropa dan Asia.

Kala itu berinteraksi dengan komunitas yang datang dari beragam suku bangsa, agama dan bahasa telah menjadi pemandangan sehari-hari. Maka tidak mengherankan jika dulu kesultanan Aceh berhasil menggenggam persahabatan dengan Ratu Inggris, Kekhalifahan di Turki serta beraneka ragam kisah yang menyiratkan masa keemasan Aceh.

Kini jejak membanggakan tersebut masih tampak terlihat jelas. Sebut saja peninggalan fisik seperti makam para Sultan dan Sulthanah, komplek pemakaman para serdadu Belanda hingga keberadaan gampong yang pernah menjadi komplek kesultanan Aceh.

Namun selain bentuk fisik, sisa peninggalan itu ternyata juga hadir dalam bentuk nilai. Nilai itu mengalir dalam darah generasi Aceh masa kini. Sifat saling menghargai dan menghormati itu turun menurun dan tak pernah lengkang oleh waktu.

Di Peunayong, Mesjid, Vihara dan Gereja berada dalam satu daerah yang sama. Suara lonceng di tiap pekannya, atau suara azan yang berkumandang lima kali sehari menjadi sisi menarik lain dari Peunayong. Bahkan terkadang ritual ibadah menjadi tontonan warga.

Saya pernah meliput perayaan imlek di Banda Aceh. Liputan ini menjadi menarik karena imlek di laksanakan di negeri yang menerapkan syariat Islam. Apalagi Banda Aceh termasuk kota di propinsi Aceh yang tergolong ketat dalam menegakkan hukum Islam.

Waktu itu hari masih pagi. Tapi para pesembahyang mulai memadati Vihara Dharma Bhakti. Dari dalam ruangan, asap tampak mengepul tebal. Lilin ditata rapi di atas meja panjang. Nyala api membuat bangunan merah ini tampak semakin menyala. Bau dupa tercium amat kuat. Buah dan kue tersaji dalam nampan. Satu persatu pesembahyang hilir mudik memanjatkan doa. Mereka tampak bersuka cita. Imlek dirayakan tanpa raut kecemasan dan ketakutan.

Ada hal menarik yang tampak dari dalam Vihara. Sejumlah warga Banda Aceh non Tionghoa diizinkan untuk melihat lebih dekat bagaimana ritual sembahyang dilakukan. Meski diizinkan masuk, namun mereka lebih memilih berdiri di luar Vihara. Sesekali tampak beberapa warga yang mengambil foto untuk dijadikan kenang-kenangan. Sementara para pesembahyang merasa tidak keberatan. Ritual tetap dilakukan.

Saya menjumpai pesembahyang yang telah selesai berdoa. Bakri namanya. Dia adalah pengurus Vihara Dharma Bakti. Kami berbicara banyak hal. Termasuk bagaimana mereka bisa bertahan di Banda Aceh. Hidup, tinggal, bekeluarga, bekerja hingga menjalankan keyakinannya di negeri berjuluk serambi mekkah. “Kami nyaman dan senang merayakan imlek di Banda Aceh” kata Bakri

Menurutnya pemerintah kota Banda Aceh sejak dulu tidak pernah membatasi apalagi melarang umat non muslim dalam menjalankan ibadah dan keyakinan. Warga diberi kebebasan. Tidak hanya imlek, peringatan waisak, natal, paskah juga dilangsungkan penuh dengan rasa khidmat.

Interaksi sosial tentu tidak hanya terjadi dalam perayaan imlek saja. Hubungan toleransi itu juga tampak saat malam takbiran tiba. Biasanya pemerintah menggelar pawai obor dan karnaval mengelilingi kota. Kegiatan ini diikuti oleh ribuan warga. Jalan sesak di penuhi masyarakat. Dan Peunayong adalah salah satu daerah yang dilalui oleh para peserta konvoi. Takbir tahmid dan lantunan zikir dipanjatkan. Di sana warga berkumpul termasuk di dalamnya warga Tionghoa.

Banda Aceh di usia nya yang menebus 809 tahun seakan mempertegas bahwa berbeda adalah sebuah rahmat. Negeri syariat yang kini berupaya menjadi kota madani. Kota berperadaban. Beradab karena mayoritas dapat menjadi pelindung dan minoritas merasa terlindungi.

Kini berkunjung ke Banda Aceh tidak hanya sekedar menikmati keindahan alamnya semata. Atau melihat sisa dari kedahsyatan tsunami 2004 silam. Berwisata ke Banda Aceh juga bukan pula sekedar menikmati secangkir kopi atau lezatnya kuah belanga. Di Banda Aceh kita juga dapat belajar dan memahami. Jika hidup berdampingan di tengah perbedaan adalah sebuah anugerah yang terasa amat indah. Peunayong adalah buktinya. [Ariel Kahhari]

* Tulisan ini memenangkan juara kedua lomba Banda Aceh Blog Competition 2014. Tulisan dimuat kembali sesuai sumbernya: http://arielkahhari.wordpress.com