Brayeung, Wisata Alam Eksotik di Aceh Besar

Lembah Brayeung anggun dalam pelukan perbukitan Leupueng, Aceh Besar. Panorama asri pegunungan, ditambah air jernih kehijau-hijauan yang terhampar dalam waduk, memukau siapa saja yang berkunjung ke lokasi wisata alam ini.
Objek yang terletak 26 kilometer dari Kota Banda Aceh ini, bukan sekadar alternatif bagi yang bosan dengan wisata pantai, tapi juga tempat mencari ketenangan batin dan melepas penat. Brayeung ramai dikunjungi wisatawan lokal tiap akhir dan hari libur.

Brayeung bisa ditempuh lewat Jalan Nasional Banda Aceh-Meulaboh. Perjalanan ke sini dijamin tak membosankan, karena sepanjang jalan kita disuguhkan pemandangan indah Samudera Hindia dan perbukitan.

Setiba di kawasan kilometer 23 atau di persimpangan depan Masjid Leupueng, perjalan harus dilanjutkan sekira 3 kilometer lagi ke dalam. Jalan aspal ke sini tak terlalu lebar. Sambil mencapai Brayeung, kita bisa menikmati hamparan sawah dan pepohonan rindang sepanjang jalan.

Memasuki Brayeung, suara air jatuh di bendungan yang terbentang di waduk terdengar bergemuruh. Air jernih kehijau-hijauan yang bersumber langsung dari pegunungan, berpadu dengan pepohonan lebat yang tumbuh di sisi kiri-kanannya cukup memanjakan mata.

Kicauan burung beradu dengan hembusan angin yang membuai pohon-pohon, menciptakan sebuah nyanyian alam yang menenangkan jiwa. Brayeung menyajikan sebuah keunikan dalam kawalan bebukitan hijau yang menjulang tinggi dihiasai riakan kabut.

Brayeung dulu hanyalah lembah yang jarang terjamah manusia. Tak ada pemukiman warga di lokasi. Karena sumber air yang melimpah dari pegunungan, pemerintah kemudian membangun bendungan raksasa di sana untuk mengairinya ke sawah-sawah.

Konon jejak bendungan itu sudah ada sejak penjajahan Belanda, kemudian diperbarui oleh pemerintah daerah. Selain dialiri ke sawah, air di waduk ini juga disuplai melalui PDAM ke rumah-rumah masyarakat.

Beberapa tahun setelah tsunami 2004 yang menerjang pesisir Aceh termasuk Leupung, lembah Brayeung mulai sering dikunjungi orang-orang untuk melepas penat.

Menurut Isa, warga setempat, mulanya yang datang mandi-mandi ke sana adalah pekerja kontruksi yang sedang membangun rumah bantuan korban tsunami di Leupueng, salah satu kawasan terparah disapu tsunami 10 tahun lalu. “Karena lokasi ini menarik dan tempatnya mungkin bagus untuk mandi-mandi, kemudian (pengunjung) makin bertambah banyak sampai sekarang,” tutur Isa yang kini ikut berjualan, mengais rezeki di lokasi tersebut.

Lembah Brayeung sekarang menjadi salah satu objek wisata pemandian favorit di Aceh Besar. Seiring semakin banyak yang berkunjung, warga sekitar pun keciprat berkah. Lapangan kerja baru terbuka di sana.

Mereka mendirikan kios penjaja makanan, minuman, dan gubuk-gubuk kecil tempat bersantai bagi pengunjung di bantaran waduk. Ada juga yang menyediakan jasa sewa ban, boat karet dan perahu bebek. Selebihnya terlibat sebagai pengelola, mengurus soal tiket masuk, kebersihan hingga parkir.

Pada Sabtu-Minggu atau hari libur lainnya, banyak warga datang ke sini baik dengan mobil maupun sepeda motor. Mereka bebas bersantai di gubuk-gubuk atau pinggiran waduk menikmati udara segar dan panorama Brayeung.

Ada juga yang menjadikannya sebagai ajang kumpul komunitas sambil bakar-bakar ikan. Pada 10 Mei 2015 lalu, Muharram Journalism College (MJC), sekolah jurnalistik milik Aliansi Jurnalis Independen Banda Aceh menggelar wisuda mahasiswanya di sana. “Sengaja wisuda dibuat di sini biar ada suasana baru dan dekat dengan alam,” kata Mukhtaruddin Yakob, Rektor MJC.

Ke Brayeung tentu belum lengkap bila tidak mandi. Nah, kalau mau lebih seru lagi, silakan menjelajah waduk dengan ban, perahu karet atau perahu bebek.

Cukup membayar Rp10 ribu hingga 40 ribu kepada penyewanya, kita bebas bersantai di aria tau menyisir sisi-sisi waduk yang bertebing pepohonan rimbun.

Lapar setelah bermain air atau menjelajah waduk? Tak perlu risau, karena di lokasi banyak terdapat kios-kios kecil yang menawarkan bermacam makanan dan minuman. Di sini juga ada musalla dan toilet. [Salman Mardira]