Tak Salahnya Belanja Langsung ke 2 Kampung Suvenir ini, Mungkin Lebih Berkesan

Datang, lihat, dan beli. Mungkin inilah yang patut Anda lalukan di kampung suvenir Aceh.

By Rahmat Aulia

Jam masih menujukkan pukul sembilan pagi ketika kami menyambangi Gampong Dayah Daboh, Kecamatan Montasik, Aceh Besar. Gapura putih dengan papan penunjuk bertuliskan “Gampong Kreasi Suvenir Khas Aceh” menandakan kami sudah memasuki salah satu “kampung suvenir” yang dimiliki Provinsi Aceh.

Kami menemui Sumarni, satu dari sekian perajin yang telah menggeluti usaha suvenir khas Aceh ini sejak 1989. Pahit-getir menjalankan bisnis kerajinan cukup dirasakan oleh ibu tiga anak dan dua cucu ini.

Bu Sumarni bersama beberapa karyawannya, memproduksi ragam suvenir Aceh yang biasanya diburu wisatawan di sejumlah toko suvenir di Kota Banda Aceh. Di antaranya ada tas, dompet, sajadah, peci, dan rencong. Semuanya dengan motif khas Aceh dan biasanya terdapat bordiran.

Tas aceh

Tas motif khas Aceh produksi Gampong Dayah Daboh.

Menurutnya, selama ini permintaan suvenir Aceh jenis tas dan dompet cukup tinggi. Sehingga seringnya Bu Sumarni kewalahan memenuhi permintaan konsumen. Namun dia belum pernah menolak ketika ada orderan.

“Biasanya permintaan suvenir paling tinggi itu ketika ada suatu event besar di Aceh, seperti ada perhelatan olahraga dan pariwisata,” ujar Sumarni.

Baca juga: Peunayong Surganya Belanja Suvenir Aceh

Selain Sumarni, ada Ibu Ernawati yang telah malang-melintang dalam dunia produksi suvenir khas Aceh.

Wanita paruh baya kelahiran Sumatera Barat ini juga telah membuka toko suvenir di kawasan Aneuk Galong, Montasik. Di lantai duanya, ia gunakan bersama dengan beberapa pegawainya untuk memproduksi suvenir.

Perajin suvenir aceh

Perempuan perajin suvenir aceh di Montasik.

Jika Montasik terkenal sebagai sentral perajin suvenir khas Aceh, lain lagi dengan Gampong Baet Kecamatan Suka Makmur, Aceh Besar. Gampong ini terkenal sebagai sentral perajin rencong.

Rencong cukup melegenda. Suvenir Aceh ini berbentuk pisau runcing yang sudah ada sejak masa Kerajaan Aceh Darussalam.

Dulu sebelum tsunami, terdapat sekitar lima puluh tujuh tempat pembuatan rencong di Gampong Baet. Namun seiring berjalannya waktu, usaha ini perlahan mulai meredup hingga hanya tersisa sekitar empat atau lima usaha lagi.

Baca juga: Bawa Pulang 5 Brand Lokal ini

Mahdi, seorang perajin menuturkan, sehari ia bisa menghasilkan empat hingga lima rencong dengan durasi kerja dari pagi sampai sore. Misalkan ada permintaan khusus dengan ukiran yang agak rumit, ia hanya bisa membuat dua hingga tiga rencong saja.

Proses pengerjaan rencong sedikit lama. Perajin harus terlebih dulu memotong tanduk kerbau untuk dijadikan gagang. Tanduk yang sudah dipotong lalu dibentuk sesuai ukuran yang diinginkan pemesan.

Membuat rencong

Membuat rencong aceh.

“Setelah gagang selesai baru membentuk besi kuningan. Suhu untuk membentuk besi kuningan ini adalah 2000 derajat,” ungkap Pak Mahdi.

Selama ini, perajin memasarkan produk mereka ke toko-toko suvenir yang ada di Banda Aceh. Ada juga yang dikirimkan ke luar Aceh hingga luar negeri. Bahkan pernah pihak kerajaan di Malaysia memesan rencong ini untuk sebuah upacara kerajaan.

Pak Mahdi juga menuturkan, mereka selama ini terkendala jika ada wisatawan yang membawa pulang rencong ke daerahnya karena tidak bisa tembus Bea Cukai Bandara (kecuali dalam bagasi). Padahal rencong cukup potensial dan sangat diminati wisatawan mancanegara.

Jika ingin melihat langsung proses pembuatan ragam suvenir Aceh, Anda tak salahnya mendatangi Gampong Baet dan Gampong Dayah Daboh, Aceh Besar. Dibutuhkan sekitar tiga puluh menit berkendara dari Banda Aceh. Barangkali Anda akan lebih berkesan daripada hanya mengunjungi toko suvenir di Banda Aceh.[]

Photo by Mustawazir