Pria Bawa 1074 Idang Catat Rekor Muri

Ini bukan pesta perkawinan, tapi pencatatan rekor MURI perkenalkan khasanah budaya Aceh.

Jalan Abu Lam U Banda Aceh seketika bagai panggung catwalk pada Minggu, 20 Agustus lalu. Tapi bukan fashion show. Melainkan ajang ‘culture show’ memeriahkan Aceh Internasional Halal Food Festival 2017.

Sebanyak 1.074 pria ragam usia dari 9 kecamatan di Banda Aceh berjalan pelan dengan rapi di depan Balaikota, sembari mengusung talam khas Aceh. Talam berbentuk kerucut itu dibungkus dengan kain kuning bercorak merah-hijau-hitam yang biasa ditemui dalam adat perkawinan Aceh. Tabuhan rapai dan serune kalee mengiringi aksi mereka.

Seribu lebih–dari rencana awal hanya 1.000–pria pembawa idang talam kemudian dicatat oleh Museum Rekor Indonesia (MURI). Itu merupakan kegiatan unik, karena belum ada di dunia: para pria membawa talam berisi kuliner khas setempat.

“Setelah kami verifikasi langsung di lapangan, ada 1.074 idang talam yang dibawa oleh 1.074 laki-laki pada acara ini. Dan kegiatan ini belum pernah terjadi sebelumnya baik di Indonesia maupun di luar negeri, sehingga kami mencatatnya sebagai sebuah Rekor MURI tingkat dunia,” kata Feisal Nadhirrahman, perwakilan MURI.

Aminullah Usman Walikota Banda Aceh orang paling bergembira hari itu. Event itu kata dia, salah satu upaya pemerintah memajukan sektor pariwisata di Aceh.

Pagelaran Aceh Internasional Halal Food Festival 2017, sebut Reza Fahlevi Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, sebagai wujud melestarikan beragam kuliner yang berkembang dalam kehidupan masyarakat Aceh, termasuk atraksi pria membawa idang talam yang merupakan warisan kekayaan budaya lokal. Event tersebut menurutnya dapat dijadikan daya tarik wisata Aceh.

Baca juga: Semarak Jajanan Halal Internasional

Pemecahan Rekor MURI Idang Terbanyak

Warga menyantap idang usai pemecahan rekor .

Budaya Idang

Atraksi bawa idang talam bukan hal asing dalam kehidupan masyarakat Aceh. Kebiasaan ini dapat ditemui pada acara-acara kenduri, mulai dari perayaan maulid Nabi hingga pesta perkawinan.

Membawa idang di pesta perwakinan Aceh dilakukan saat Tueng Linto Baro alias menyambut rombongan pengantin pria di rumah mempelai wanita. Tutupan idang berwarna kuning memiliki makna tersendiri.

Amirullah tokoh adat di Banda Aceh mengatakan, warna kuning melambangkan kerajaan Aceh. Talam juga harus ditutupi agar orang tidak bisa melihat isi talam sebelum dihidangkan. Sehingga hidangan dibagi sama rata.

“Kalau diisi dalam kantong plastik kan nampak. … Dalam talam ini diisi dengan lauk pauk, sama seperti kenduri maulid, kenduri nuzul quran, resepsi lain seperti antar linto,’’ ujar Amirullah, sebagaimana dikutip kba.one.

Talam hanya dibawa oleh pria. Dalam upacara perkawinan, kelompok pemuda dari rombongan Linto Baro membawa idang talam berisi alat-alat rumah tangga, biasa disebut Ija Tujoh. Sampai di lokasi pesta, idang disambut oleh kelompok pemuda dari pihak Dara Baro.

Event sudah berlalu. Tapi jika Anda ingin melihat atraksi bawa idang di Aceh, masih banyak kesempatannya. Anda cukup mendatangi acara pesta perkawinan di rumah-rumah warga. Dengan bersikap sopan-santun, Anda kemungkinan akan diterima pihak tuan rumah.[]

Foto by M Anshar

Pemecahan Rekor MURI Idang Terbanyak

Seribu lebih idang siap diangkat pria dalam pencatatan rekor MURI.

sertifikat rekor muri

Serah-terima sertifikat Rekor MURI Pembawa Idang Terbanyak dilangsungkan di halaman Kantor Wali Kota Banda Aceh, Minggu (20/8/2017).