Situs Lamuri Dipetakan

Benteng Indrapatra | Ahmad Ariska

Benteng Indrapatra | Ahmad Ariska


Banda Aceh – Lima ahli dari Aceh, Sumut, dan Malaysia, melakukan penelitian dan pemetaan terhadap situs Kerajaan Lamuri di Desa Lamreh, Kecamatan Mesjid Raya, Kabupaten Aceh Besar. Kegiatan ini berlangsung sejak Sabtu (27/9) sampai tanggal 12 Oktober 2014.

Kepala Pusat Penelitian Ilmu Sosial dan Budaya (PPISB) Unsyiah, Dr Husaini Ibrahim MA, kepada Serambi kemarin mengatakan, selain dirinya, penelitian ini melibatkan Prof Dr Datuk Muchtar bin Saidin, Kepala Pusat Penyelidikan Arkeologi Global (PPAG) University Sain Malaysia, Dr Supriyatno, Ketua Jurusan Program Pascasarjana USU Medan, Tgk Taqiyuddin Lc, ahli baca batu nisan, dan Dedi Satria, arkeolog.

“Kita juga melibatkan sejumlah anggota tim untuk dokumentasi, dan berbagai keperluan lainnya,” ungkap Husaini Ibrahim.

Husaini mengatakan, Lamuri adalah cikal bakal Kerajaan Aceh Darussalam. Hal ini bisa dilihat dari keberadaan ratusan batu nisan berbagai tipe dan jenis. Ia menyebutkan, tulisan-tulisan pada batu nisan di Lamuri ini menunjukkan keberadaan sebuah kerajaan Islam terawal di Nusantara (mencakup kawasan Melayu di Asia Tenggara).

“Karena terus-terusan menghadapi penyerangan dari India dan Kerajaan Pedir (Pidie sekarang), akhirnya pusat kerajaan Lamuri ini berpindah dari Lamreh ke Gampong Pande, di Kutaraja Banda Aceh sekarang,” kata ahli arkeologi yang menyelesaikan doktornya dengan disertasi berjudul “Awal Islam di Aceh, Analisis Arkeologi dan Sumbangannya pada Nusantara”.

Husaini melanjutkan, Gampong Pande ini kemudian menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Aceh. “Setelah Ali Mugayatsyah menyatukan kerajaan-kerajaan kecil, baru kemudian lahir kerajaan Aceh Darussalam,” ujar Husaini.

Berdasarkan penelitian yang sudah dilakukan beberapa kali, kata Husaini, di situs Lamuri, ini terdapat jejak Hindu dan Budha, serta peralihannya ke Islam. “Yang kita teliti dan petakan antara lain, tapak kerajaan, penyebaran batu nisan, keadaan lingkungan, dan kondisi situs saat ini,” ujarnya.

Setelah penelitian dan dipetakan, pihaknya akan merekomendasikan secara resmi kepada Pemerintah Aceh untuk menyelamatkan situs Lamuri, dan mendirikan sebuah galeri arkeologi di kawasan tersebut. [nal | aceh.tribunnews.com]