Fakta 1: Geografi dan Geologi Banda Aceh

Karakter setiap daerah berbeda. Maka ketahui dulu fakta penting tentang Banda Aceh sebelum mengunjunginya.

By Makmur

Banda Aceh adalah ibu kota Provinsi Aceh yang terletak di paling ujung barat negara Indonesia. Ini kota kecil. Populasinya 250 ribu jiwa. Tapi tidak pernah lengang. Kenapa?

Berikut beberapa fakta mengenai Kota Banda Aceh yang harus Anda pelajari untuk membantu merencanakan perjalanan Anda.

Geografi dan Geologi

Aliran sungai di tengah kota bermuara ke Selat Malaka. Garis pantai di barat mulai dari Ulee Lheue berbatasan dengan Kecamatan Peukan Bada, Aceh Besar; kawasan ini sudah memasuki bagian dari Bukit Barisan Pulau Sumatera dan menjadi panorama menarik disaksikan dari Pantai Ulee Lheue.

Garis pantai juga membentang ke timur kota yang berbatasan dengan Kecamatan Darussalam, Aceh Besar. Dari kedua pesisir pantai itu terlihat pulau Pulau Weh di utara. Pusat perkotaan berakhir di selatan, yang berbatasan dengan Kecamatan Darul Imarah dan Darussalam, Aceh Besar.

Roda pemerintahan Aceh diatur dari kota seluas 61 ribu hektare ini. Perumahan penduduk, perkantoran, pusat pemerintahan, kawasan pengembangan ekonomi, shopping center, taman-taman, pusat edukasi, dan rumah ibadah, berdiri di atas tanah yang sebenarnya rentan becana.

Literatur kebencanaan mencatat, Provinsi Aceh berada di jalur penunjaman dari pertemuan lempeng Asia dan Australia. Aceh bahkan berada di bagian ujung patahan besar Sumatera yang membelah pulau Sumatera dari Aceh sampai Selat Sunda. Ini dikenal dengan Sesar Semangko.

Sesar Semangko memanjang dari Banda Aceh hingga Lampung. Patahan ini bergeser sekitar 11 cm/tahun dan merupakan daerah rawan gempa dan longsor. Kota Banda Aceh diapit oleh dua patahan di barat dan timur kota, yaitu patahan Darul Imarah dan Darussalam, sehingga Banda Aceh adalah suatu daratan hasil ambalasan sejak Pilosen membentuk suatu Graben.

Fenomena itu menunjukkan ruas-ruas patahan Semangko di Pulau Sumatera berada persis di bawah lapiasan tanah Kota Banda Aceh. Sesar aktif di patahan ini juga bertemu pada pegunungan di sebelah tenggara, sehingga menyebabkan dataran Banda Aceh merupakan batuan sedimen yang berpengaruh kuat jika digunacng gempa di sekitarnya. Terakhir gempa dan tsunami 26 Desember 2004 menyapu sebagian Kota Banda Aceh.

 

Muasal

Zaman Miosen awal mula aktivitas geologi di wilayah Aceh. Zaman ini ditandai dengan endapan batuan yang dikenal Formasi Woyla. Zaman ini menghasilkan struktur geologi yang berarah selatan-utara, yang diikuti permulaan subduksi lempeng India-Australia terhadap lempeng Eurasia pada zaman Yura Akhir.

Pada periode Yura Akhir-Kapur diendapkan satuan batuan vulkanik. Selanjutnya, di atas satuan ini diendapkan batu gamping (mudstone dan wreckstone) secara tak selaras.

Pulau Sumatera mengalami rotasi searah jarum jam pada akhir Miosen. Arah struktur geologinya lantas berubah menjadi barat daya-timur laut pada zaman Pliopleistosen, yang terus berlanjut hingga kini. Hal ini disebabkan oleh pembentukan letak samudera di Laut Andaman dan tumbukan antara Lempeng Mikro Sunda dan Lempeng India-Australia terjadi pada sudut yang kurang tajam. Terjadilah kompresi tektonik global dan lahirnya kompleks subduksi sepanjang tepi barat Pulau Sumatera dan pengangkatan Pegunungan Bukit Barisan pada zaman Pleistosen.

Pada akhir Miosen Tengah sampai Miosen Akhir, terjadi kompresi pada Laut Andaman. Akibatnya menciptakan tegasan yang berarah NNW-SSE dan menghasilkan patahan berarah utara-selatan. Sejak Pliosen hingga kini, akibat tegasan berarah NNE-SSW menghasilkan sesar berarah NE-SW, yang memotong sesar yang berarah utara-selatan.[]

Foto Cover by Mustawazir