Banda Aceh Tuan Rumah Pameran Seni Rupa 2018

Pameran Serambi Seni menampilkan 36 karya seni rupa. 30 di antaranya merupakan karya perupa dari Aceh, seperti Anni Kholilah, Idrus bin Harun, Qurbani Akbar, Rahmad Alfajrianur, Sabaruddin, Said Akram, Yusrizal Ibrahim, Zul MS, dan lainnya.

Banda Aceh terpilih menjadi tuan rumah Pameran Seni Rupa 2018 oleh Galeri Nasional Indonesia. Pameran dengan tema “Serambi Seni” ini digelar di Taman Budaya Aceh dari tanggal 25-30 September 2018.

Acara ini merupakan hasil kerja sama antara Galeri Nasional Indonesia dengan UPTD Taman Seni dan Budaya Aceh, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh.

Acara ini dibuka secara resmi oleh Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Syaridin, yang mewakili plt Gubernur Aceh, Nova Iriansyah.

Pameran Serambi Seni menampilkan 36 karya seni rupa. 30 di antaranya merupakan karya perupa dari Aceh, seperti Anni Kholilah, Idrus bin Harun, Qurbani Akbar, Rahmad Alfajrianur, Sabaruddin, Said Akram, Yusrizal Ibrahim, Zul MS, dan lainnya.

Sedangan 6 lainnya karya pilihan koleksi Galeri Nasional Indonesia (Koleksi Negara) hasil karya enam perupa kenamaan seperti A. D. Pirous, Amang Rahman Jubair, Samsudin Hardjakusumah, Lian Sahar, Ahmad Sadali, dan Amri Yahya.

Kepala Galeri Nasional Indonesia, Puspanto, mengatakan perkembangan seni rupa Aceh direpresentasikan dalam pameran ini dalam sajian 36 karya seni rupa dalam media lukisan dan relief. Pameran ini sengaja dihadirkan untuk mengangkat dan menunjukkan potensi para perupa Aceh di bidang seni rupa.

Selain memamerkan sejumlah karya seni rupa, acara ini juga menggelar “Dialog Seni Rupa” yang dipandu tiga pembicara, yaitu Suwarno Wisetrotomo (Kurator Pameran “Serambi Seni” sekaligus Kurator Galeri Nasional Indonesia), Abzari Jafar (Asisten Kurator Pameran “Serambi Seni”), dan Yusrizal Ibrahim (Pengajar Institut Seni Budaya Indonesia Aceh).

Abzari Jafar, salah seorang kurator dalam acara tersebut, mengamati bahwa perupa Aceh kembali membuktikan karya yang ditampilkan tidak terlepas dari kearifan lokal Aceh.

“Sadar atau tidak, perupa Aceh melalui karyanya telah menunjukkan lokalitas ke-Aceh-an tanpa harus menggunakan simbol-simbol kontroversi dalam masyarakat Aceh. Sehingga, “Serambi Seni” menjadi motivasi “back to culture for a future”,” pungkas Abzari.

Abzari menambahkan, simbol-simbol lokalitas yang dipilih perupa Aceh seakan menjadi penanda nasionalisme Aceh secara keseluruhan dari segi simbol perjuangan, heroisme, kehormatan, alam, sosio-kultural dengan berbagai aliran seni rupa dan media yang digunakan.[]

 

Laporan : Munawar Hafizhi

Fotografer : Mustawazir