Asiknya Ngopi Setiap Hari

Datang, duduk, pesan kopi, dan diskusi. Terserah sampai berapa jam. Inilah atraksi ngopi di kota kami.

By Rahmat Aulia

Warung kopi dan masyarakat Aceh itu ibarat dua sisi mata uang koin. Tak lengkap dan tak afdhol rasanya tanpa satu sisi lainnya. Duduk di warung kopi adalah sebuah kebiasaan yang telah mendarah daging sejak zaman kolonial.

Tradisi yang disebut “ngopi” itu masih berlangsung hingga sekarang. Bahkan makin menjadi-jadi untuk saat ini. Hampir di tepian setiap ruas jalan Kota Banda Aceh ditemukan berbagai warung kopi: mulai kelas bawah hingga kelas atas. Dari yang menjual kopi tiga ribu perak hingga puluhan ribu.

Semuanya ada di Banda Aceh. Kota seribu warung kopi. Kebiasaan ngopi itu bahkan mendorong Pemerintah Kota Banda Aceh membuat acara tahunan berupa “festival kopi’. Acara yang biasanya dipusatkan di Taman Bustanussalatin atau Blang Padang ini menghadirkan berbagai barista ternama dari warung kopi pilihan, untuk meracik kopi terenak kepada setiap pengunjung festival.

Saya melihat kebiasaan ngopi masyarakat Banda Aceh ini sebagai sesuatu yang ‘gila’. Sebab saban pagi, siang dan malam hampir semua warung kopi penuh dengan manusia. Manusia-manusia yang setengah jiwanya mungkin adalah kopi.

Bagi pecandu kopi, mereka akan wara-wiri dua sampai tiga kali ke warung kopi setiap hari. Dan nyatanya, ada banyak sekali penikmat—bila tak pantas disebut ‘penggila’—kopi di Kota Banda Aceh.

Mungkin kamu akan sulit percaya bagaimana bisa masyarakat Banda Aceh menghabiskan banyak waktu mereka di warung kopi. Bagaimana dengan kerjaan mencari nafkah untuk keluarga? Atau kuliah bagi yang mahasiswa?

Lima fakta di bawah ini mungkin bisa menjelaskan kepada kamu bahwa ‘gila ngopi’ itu nyata adanya.

Tongkrongan Favorit

Warung kopi menjadi tempat tongkrongan bagi orangtua, anak muda, pria maupun wanita. Warung kopi menjelma sebagai tempat yang bisa menyatukan semua golongan. Secangki kopi dapat meruntuhkan sekat-sekat perbedaan di antara warga.

Anggapan bahwa wanita tabu jika nongkrong di warung kopi telah hilang seiring menjamurnya warung kopi di Banda Aceh. Jika ada waktu, cobalah sesekali menyusuri Jl T Panglima Nyak Makam (Jalan Lampineung) dan Jl  Mr Dr Muhammad Hasan (Jalan Utama Batoh). Di kedua sisi jalan ini akan kamu temukan surganya warung kopi.

Tempat Berdiskusi

Beberapa warung kopi di Banda Aceh menyediakan ruangan yang bisa dipakai untuk berdiskusi kelompok. Kalangan akademis atau aktivis, kerap membuat pertemuan dan diskusi publik di warung kopi.

Ada banyak cafe atau warung kopi di ibu kota provinsi ini yang menyediakan ruang diskusi. Jika pun tak ada ruang khusus, kamu boleh booking lebih awal agar disediakan space untuk acara publik.

Pengganti Kantor

Nah, ini biasanya berlaku bagi mereka yang tidak bekerja di pemerintahan. Di mana jam kerjanya tidak terikat oleh sebuah aturan. Sebut saja mereka yang berprofesi sebagai freelancer, yang menjual jasa atau soft skill-nya. Apalagi pada jaman digital, pekerja berbasis platform digital mengincar cafe-cafe atau warung kopi yang nyaman dijadikan sebagai kantor.

Adanya ratusan warung kopi di Banda Aceh memberikan banyak pilihan bagi pekerja non-PNS itu. Mereka menyulap warung kopi layaknya coworking space. Ngopi sambil bekerja. (Atau sebaliknya?)

Janji Ketemuan

Ini fakta yang sulit terbantahkan. Bagi warga Kota Banda Aceh, terutama anak muda, janji ketemuan pasti pilihan favoritnya adalah warung kopi. Kerap kali, karena saking banyaknya warung kopi, menjadi bingung dalam menentukan warung kopi mana yang akan dijadikan tempat ketemuan.

Destinasi Wisata

Tidak sah rasanya ke Banda Aceh kalau tidak mampir ke warung kopi. Menyesap kopi hitam atau sanger, makan timphan atau buleukat, meruapakan hal yang sangat patut dilakukan jika melancong ke Banda Aceh.

Perhatikanlah bagaimana barista meracik kopi saring secara tradisional, tangkasnya koki memasak mi aceh, dan melihat warga yang cukup antusias berbincang-bincang di meja kopi. Jika sempat, cobalah pula untuk menemukan bagaimana bedanya cita rasa dan aroma kopi arabika dengan robusta yang ada di Banda Aceh.

Percayalah! akan ada rasa sesal dalam hati jika kamu tidak melakukan ritual ngopi di Banda Aceh.[]

Photo Cover: Mustawazir