4 Info Penting dari Pameran Batu Nisan Aceh

Di Aceh, baru kali ini batu nisan bisa disaksikan bukan di kompleks pemakaman. Tapi di sebuah pameran yang berlangsung pada 9 - 16 Mei 2017 di Museum Aceh.

by Rahmat Aulia

Jarang-jarang di Banda Aceh ada event yang memamerkan batu nisan. Biasanya batu nisan hanya dapat dilihat di kompleks makam. Tapi berkat Museum Aceh yang bekerjasama dengan Masyarakat Peduli Sejarah Aceh (Mapesa) dan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Sumut-Aceh, saya bisa menyaksikan pameran bertema “Mengenal Batu Nisan Aceh sebagai Warisan Budaya Islam Asia Tenggara”.

Saya langsung menyambanginya pada hari pertama pembukaan. Karena ini adalah event perdana yang memamerkan batu nisan Aceh kepada masyarakat luas.

Saya jadi teringat ketika medio 2014 mencari jejak batu nisan bekas Kerajaan Lamuri di Krueng Raya hingga harus bersusah payah menembus semak-semak untuk bisa menyaksikan bekas kerajaan yang cukup disegani itu pada masanya.

Semua perjuangan mencari jejak tersebut juga dilatarbelakangi oleh keinginan melihat langsung nisan Aceh zaman dahulu.

Jadi ketika tahu ada pameran batu nisan di Banda Aceh, tentu ini adalah momen berharga yang tidak boleh dilewatkan. Dari hasil penelusuran selama diadakannya pameran, setidaknya saya mencatat ada empat hal penting yang harus kita ketahui tentang batu nisan Aceh:

 

Setiap Periode Berbeda Model dan Ukirannya

Batu nisan aceh

Ukiran batu nisan Aceh. Foto: Mustawazir/bandaacehtourism.com

Ada 3 tipologi batu nisan yang dipamerkan selama berlangsungnya acara yaitu tipologi batu nisan Samudra Pasai, Lamuri dan Aceh Darussalam. Ketiga tipologi ini berbeda dari segi bentuk, bahan dasar dan motif ukirannya. Dari tiga jenis batu yang dipamerkan, saya paling suka dengan batu nisan Kerajaan Samudera Pasai karena mempunyai ukiran dan bentuk yang sangat cantik dibandingkan lainnya.

Nisan dari Kerajaan Islam pertama di Aceh ini juga mempunyai tingkat ketahanan yang sangat tinggi karena berasal dari batu sungai (batee krueng). Nisan Lamuri bisa ditandai dengan bentuknya yang mirip pagoda serta berasal dari bahan dasar batu karang. Cukup dengan melihat dan menyentuhnya, kita bisa langsung tahu dari mana asal nisan tersebut.

 

Selalu Ada Pesan pada Sebuah Nisan

batu nisan aceh

Pameran batu nisan Aceh. Foto: Mustawazir/bandaacehtourism.com

Ukiran pada setiap nisan selalu mengandung pesan kebaikan. Misalnya pada makam Malikah Nahrasiyah. Ukirannya dipahat secara lengkap surah Yaasin yang ada dalam Al-Quran. Pemahatan surah ini bisa berarti suatu kondisi yang baik yang dilalui Sumatera di zaman pemerintahan sang sultanah.

Ada sebuah nisan yang membuat saya lama terpaku membaca maknanya, hingga mengulangnya beberapa kali. Pesannya seperti ini:

“Ketahuilah, dunia ini fana, tiada bagi dunia suatu kekekalan. Dunia hanya ibarat sarang yang dirajut laba-laba. Dan cukuplah bagimu daripada dunia, wahai orang yang mencarinya, sekadar apa yang dapat mengenyangkanmu. Betapa umur itu sangat singkat, dan semua yang di dalamnya akan mati.”

Pesan tersebut diukir pada makam Sultan Ma’ruf Syah (wafat 917 H/1511 M) yang ditemukan di Gampong Dayah Tanoh Kibeut, Kec. Pidie, Kab Pidie. Sebuah pesan yang sangat menyentil bagi hamba pengejar dunia. Semoga Allah mengampuni dan merahmati beliau.

 

Di Asia Tenggara Hanya Satu Orang yang Bisa Baca Nisan

batu nisan aceh

Pameran Batu Nisan Aceh. Foto: Mustawazir/bandaacehtourism.com

Adalah Ustad Muhammad Taqiyuddin yang menjadi salah seorang beruntung yang bisa membaca pesan pada sebuah nisan. Ilmu yang dianugerahkan oleh Allah kepadanya tentu tidak datang serta-merta.

Saya tergugah mendengar penjelasan pemandu itu.

Dia cerita, Ustad Taqiyuddin pernah menempuh pendidikan tiga belas tahun di Mesir. Selama kurun waktu tersebut, dia memanfaatkan waktu luang kuliah untuk menekuni ilmu epigraf; suatu cabang arkeologi yang berusaha meneliti benda-benda bertulis yang berasal dari masa lampau. Salah satu contohnya adalah prasasti. Untuk bisa menguasai ilmu ini, seseorang diharuskan turut menguasai ilmu nahwu, sharaf dan beberapa ilmu lainnya. Tidak mudah bukan?

 

Nisan Terindah di Asia Tenggara Adanya di Aceh

batu nisan aceh

Batu Nisan Aceh. Foto: Mustawazir/bandaacehtourism.com

Snouck Hurgronje dalam bukunya “Arabie en Oost Indie” terbitan 1907 M, menulis tentang Sultanah Ratu Nahrasiyah binti Sultan Zainal Abidin (wafat 831 H/1428 M) yang dimakamkan di Gampong Kuta Krueng Kecamatan Samudera Kabupaten Aceh Utara sebagai makam ratu Islam terindah di Asia Tenggara.

Menurut Snouck, makam yang terbuat dari batu pualam ini merupakan duplikat dari makam Umar ibn Akhmad al-Kazaruni di Cambay, Gujarat, India yang mangkat pada 1333 M.

Satu abad lebih setelah wafatnya Ratu Nahrasiyah, bentuk nisan seperti itu juga dipakai pada pembangunan makam Maulana Malik Ibrahim di Gresik, Jawa Timur.

Melihat bentuk makamnya yang indah, dapat dipastikan Ratu Nahrasiyah merupakan ratu perempuan terbesar pada zamannya.

Batu nisan makam Malikah Nahrasyiyah binti Sultan Zainal Abidin (wafat 831 H/1428 M) dinobatkan sebagai nisan terindah se-Asia Tenggara karena mempunyai ukiran, pesan dan bentuk yang sangat indah. Makam yang terbuat dari marmer ini terdapat di Gampong Kuta Krueng, Kec. Samudera Kab. Aceh Utara.[]