Transformasi Bustanussalatin, dari Taman Raja Menjadi Taman Rakyat

Ini merupakan upaya pemerintah kota yang ingin mengembalikan kembali ingatan warganya akan sejarah masa lalu

Sebagai bekas pusat Kerajaan Aceh Darussalam, Banda Aceh dulunya memiliki area taman kerajaan yang cukup luas. Meliputi area di sepanjang Krueng Daroy yang melintasi Taman Gunongan, Taman Putroe Phang, Pinto Khop, Kandang, hingga Pulau Gajah, dan masjid Raya Baiturrahman.

Seiring dengan perubahan status kota Banda Aceh, taman-taman ini menjadi terpisah mengikuti tatak letak kota yang berubah. Taman Sari misalnya, dulu merupakan satu area dengan Taman Gunongan dan Taman Putroe Phang.

Belakangan Taman Sari berganti nama menjadi Taman Bustanussalatin. Ini merupakan upaya pemerintah kota yang ingin mengembalikan kembali ingatan warganya akan sejarah masa lalu. Bustanussalatin berasal dari bahasa Arab yang artinya taman para raja.

Kini taman itu telah menjadi tamannya rakyat. Tempat bermain, berekreasi, bersantai, dan sebagai ruang terbuka hijau tempat warga menghilangkan penat.

Berbagai event pun sering diadakan di sini. Bustanussalatin selalu ramai dikunjungi warga, apalagi di sore hari, saat matahari mulai turun dan warga telah beristirahat dari segala aktivitasnya. Taman ini dilengkapi dengan berbagai fasilitas pendukung yang bisa menjadi pilhan bagi Anda yang menyukai konsep wisata taman. Tempatnya sangat instagramable bagi Anda yang suka mengabadikan foto.

Taman seluas 3.000 meter persegi ini berada di jantung kota Banda Aceh. Hanya berjarak beberapa meter dari sisi selatan Masjid Raya Baiturrahman. Sedangkan di sisi timur berhadapan langsung dengan Kantor Wali Kota Banda Aceh. Selain itu, Bustanussalatin juga sangat dekat dengan destinasi wisata lain seperti Museum Tsunami, lapangan Blang Padang, Peutjoet Kerkhof, dan taman Putroe Phang.[]

 

Laporan : Munawar Hafizhi

Fotografer : Mustawazir