Top 10 Masjid Banda Aceh
Masjid Raya Baiturrahman

“Mengunjungi Banda Aceh, tak sah bila tidak berfoto di depan Masjid Raya’ begitu pepatah lama yang turun-temurun dipesankan kepada para pelancong yang ingin ke ibu kota Provinsi Aceh. Masjid Raya yang dimaksud adalah Baiturrahman, simbol kemegahan Kota Banda Aceh.

Masjid Raya Baiturrahman baru saja memenangkan Kompetisi Pariwisata Halal Nasional (KPHN) 2016 yang telah diumumkan Rabu 21 September 2016, untuk kategori Daya Tarik Wisata Terbaik. “Aceh menang Aceh menang untuk 3 kategori, salah satunya Masjid Raya,” kata Reza Fahlevi, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh.

Masjid terbesar di Aceh itu dinilai pantai oleh para pemilih di seluruh Indonesia. Rumah ibadah yang indah dan mewah, ramai dikunjungi saban waktu oleh para pelancong, lokal dan mancanegara. Masjid itu punya sejarah panjang menjadi tempat wisata religi yang kesohor. Hampir semua wisatawan mancanegara yang pernah ke Banda Aceh, tak pernah luput berkunjung ke sana.

Masjid punya arsitekturnya kelas kakap. Di dalam, lampu-lampu gantung berumur tua menjadi penerang dan berkesan klasik. Tiang penyangga besar juga dilapisi kuningan. Hiasan kaligrafi dan bersihnya lantai membuat banyak orang betah ibadah di sana.

Masjid di pusat kota Banda Aceh mempunyai luas 3,30 hektar dengan lima pintu gerbang. Mampu menampung 10.000-13.000 jemaah di dalamnya. Tapi jika memakai halaman, dapat memuat jamaah hingga 25.000 orang.

Masjid pertama kali dibangun Sultan Iskandar Muda pada tahun 1612. Kontruksinya hanya beralas tanah keras, bertiang kayu dan beratap rumbia. “Pundak-berundaknya ada tujuh, tidak seperti masjid-masjid tua di Jawa, yang pundaknya hanya tiga,” kata Tgk Ameer Hamzah, Pemerhati sejarah Islam sekaligus penceramah Masjid Baiturrahman.

Pada tahun 1873, Masjid itu terbakar saat perang melawan Belanda. Pasukan Aceh yang bertahan di sana mengundurkan diri ke wilayah pegunungan dan kawasan istana di sekitarnya dikuasai Belanda.

Empat tahun setelah masjid itu terbakar, Maret 1877, Gubernur Jenderal Van Lansberge menyatakan akan membangun kembali Masjid Raya Baiturrahman. Pernyataan ini diumumkan setelah permusyawaratan dengan kepala-kepala negeri sekitar Banda Aceh. Dimana disimpulkan pengaruh Masjid sangat besar bagi rakyat Aceh yang 100 persen beragama Islam.

Janji dilaksanakan oleh Jenderal Mayor Vander selaku Gubernur Militer Aceh waktu itu. Tepat pada Kamis 9 Oktober 1879 , diletakkan batu pertamanya yang diwakili oleh Tengku Qadhi Malikul Adil. Arsiteknya Belanda dengan pekerja etnis Cina. Masjid pun siap tahun 1883 dengan satu kubah saja.

Masjid selesai, masyarakat Aceh tak mau shalat. Alasannya karena dibangun penjajah. Hal ini berlangsung sampai sepuluh tahun. Masjid sudah ditumbuhi semak belukar di sebelah selatannya. Belanda terus merayu orang Aceh agar mau mempergunakan masjid itu.

Belanda berhasil membujuk masyarakat Aceh melalui Tgk Keumala dan Tgk Krueng Kalee. Tahun 1893, masjid itu dipakai oleh masyarakat shalat kembali. Tapi hanya sebagian, hampir sepuluh tahun kemudian, baru masjid mulai ramai.

Masjid beberapa kali mendapat perluasan. Tahun 1935, menjadi tiga kubah, lalu tahun 1965 menjadi lima kubah. Tahun 1991, masa Gubernur Ibrahim Hasan terjadi perluasan kembali yang meliputi halaman depan dan belakang serta masjidnya yang kemudian menjadi 7 kubah seperti saat ini.

Tsunami melanda Aceh, 26 Desember 2004, Masjid Raya Baiturrahman tanpa kerusakan yang berarti dan banyak warga kota yang selamat di sini. Hanya menara depan yang miring dan kini telah diperbaiki.

Kini, Masjid Raya Baiturrahman sedang dalam pemugaran. Jika semuanya siap, wajah Baiturrahman bisa menyerupai Masjid Nabawi di Madinah, Arab Saudi. Sebanyak 12 unit payung elektrik serupa yang ada di masjid Nabi itu akan segera dipasang di pekarangan Baiturrahman, bersama infrastruktur lain. Payung-payung raksasa itu nantinya akan dikendalikan secara otomatis dengan sistem elektronik. Pembangunan masa Gubernur Aceh Zaini Abdullah, dimulai 28 Juli 2015 lalu.

“Dengan pembangunan dan pengembangan ini, insya Allah masjid ini nantinya tidak hanya berfungsi sebagai rumah ibadah, tapi juga pusat berbagai kegiatan Islam di Aceh dan nusantara,” kata Zaini saat peletakan batu pertama perluasan pembangunan. Gubernur berharap semuanya bisa tuntas pada Mei 2017.

Dengan arsitektur yang berkelas, masjid itu masih menjadi referensi utama wisata religi di bumi Serambi Mekah. [AW]