Menyoal Catatan Sejarah Aceh

Buku yang ditulis Dr. C. Snouck Hougronje tentang Aceh berjudul “The Achehnese” memiliki andil besar memutarbalikkan fakta sejarah Aceh selama ini. Hal tersebut disampaikan Direktur Pusat Studi Ilmu Sosial dan Budaya Universitas Syiah Kuala (Unsyiah), Dr. Husaini Ibrahim, MA, saat menjadi pemateri dalam seminar “Penggunaan Sumber-sumber Lokal dalam Pembelajaran Sejarah”, di Auditorium FKIP Unsyiah, Senin, 27 Oktober 2014.

“Sayangnya apa yang dilakukan Snouck Hougronje telah menjadi adat dan bahkan hadih maja di Aceh. Contohnya seperti; nyoe saboh pakat lampoh jrat ta peugala”. Akhirnya yang terjadi fenomena menjual kompleks makam yang terkadang terdapat nisan-nisan tokoh sejarah,” katanya.

Apa yang disebutkan Husaini Ibrahim tersebut sangat beralasan. Apalagi posisi Snouck Hougronje saat itu adalah sebagai konsultan Kerajaan Hindia Belanda di Aceh. Pernyataan Snouck yang kemudian dibuktikan salah adalah menyebut Aceh sebagai ranah legenda yang penuh dengan mitos.

“The golden age of Acheh in which the mohammedan law prevailed or in which the Adat Meukuta Alam may be regarded as the fundamental law of the kingdom, belongs to the realm of legend (Masa keemasan Aceh, hukum Islam berlaku atau disebut dengan Adat Meukuta Alam. Hukum ini mungkin dianggap sebagai hukum dasar kerajaan, milik ranah legenda),” tulisnya dalam buku The Achehnese yang versi terjemahannya terbit pada 1906.

Pernyataan Snouck ini kemudian terbantahkan oleh peneliti sejarah asal Inggris Denys Lombard. Lombard yang tertarik dengan sosok Sultan Iskandar Muda menelusuri sejumlah catatan sejarah tentang Aceh dan Iskandar Muda sejak 1967.

Lombard menelisik sejumlah dokumen, buku-buku lawas, hingga manuskrip yang tersimpan di sejumlah museum luar negeri. Ia kemudian menyelesaikan penelitiannya dan menerbitkan buku berjudul “Kerajaan Aceh Zaman Sultan Iskandar Muda (1607-1636).”

Sejumlah buku yang menjadi rujukannya antara lain Bustanussalatin karya Nuruddin Ar Raniry, Hikayat Aceh yang anonim, catatan perjalanan Laksamana Perancis Augustin De Beaulieu yang datang ke Aceh pada 1620, hingga korespondensi surat menyurat antara Sultan Iskandar Muda dan sejumlah kerajaan di Eropa dan Timur Tengah. Lombard juga membongkar dokumen sastra Cina zaman Dinasti Ming.

Sebagian besar isi buku Lombard ini memang bersandar pada catatan perjalanan De Beaulieu. Alasannya, Beualieu adalah satu-satunya orang Eropa yang dipercaya sultan untuk keluar masuk istana. Beaulieu pun sempat menetap setahun di Aceh.

Penelitian Lombard menyimpulkan, Aceh pada masa itu merupakan sebuah negara dengan sistem perkotaan bukan negara pertanian. Aceh sama halnya dengan negara-negara Asia umumnya.

Aceh memiliki kekuatan materiil dan berwibawa di mata orang asing. Ekspedisi laut diatur sesuai dengan suatu kebijakan terpadu. Perdagangan berkembang di kota pelabuhan yang juga menjadi pusat kebudayaan di ujung Pulau Sumatera.

Sultan Aceh memiliki istana yang indah, mewah dan pengiring raja yang jumlahnya banyak. Selain itu, daerah ini juga memiliki kesusasteraan yang terus berkembang dengan pesat, dan ditambah menjadi pusat perdebatan para ulama dari India dan beberapa tempat lainnya.

Dengan kata lain, Aceh merupakan sebuah pusat pendidikan agama yang kemudian dikenal dengan kata Zawiyah. Dalam bukunya tersebut, Denys Lombard sekaligus mematahkan istilah Kerajaan Aceh sebagai kaum barbar atau perompak, seperti yang pernah dilontarkan oleh Sir RO Winstedt dalam History of Malaya, Singapura, Kuala Lumpur, tahun 1962.

Dia mengatakan, “In 1962…, tired of the fierce fights of cocks, ram and elephants and the “stomackful” encounter of baffles, pastimes of his barbaric court. Makota ‘Alam retook Aru which since the beginning of the century had been a fief of Johor.” (Pada 1962…, merasa bosan dengan adu ayam, domba jantan, dan gajah serta “stomackful” merupakan sebuah hal yang membingungkan. Ini merupakan kegiatan pengisi waktu dari pengadilan barbarnya. Mahkota Alam kemudian merebut kembali Aru yang sejak awal abad ini telah menjadi wilayah kekuasaan Johor).

Untuk membedah kata-kata Sir RO Winstedt tersebut, Denys Lombard menyampaikan sedikit banyaknya kebenaran tentang keberadaan Aceh dan sultan-sultan agungnya. Salah satu bukti kejayaan dan kemegahan Aceh adalah istana.

Istana atau kerap disebut dengan “Dalam” merupakan pusat sekaligus kerangka semua perayaan dan kebudayaan. Pada abad ke-17, istana sultan sangat megah, tetapi kemegahan ini mulai meredup sejak abad ke 19. Istana itu dinamakan Darud Dunia.

Kemegahan Darud Dunia hancur akibat perang antara Aceh dan Belanda. Bahkan, Snouck Hougronje sama sekali tak menyebut tentang keberadaan Darud Dunia sebagai bentuk propaganda politik Belanda terhadap Aceh.[SM | Ril]