Rumoh Budaya, Pusat Edukasi dan Informasi Sejarah Banda Aceh

Setelah dibeli kembali menjadi aset Pemko Banda Aceh, rumah ini disulap sebagai tempat untuk menyimpan koleksi benda-benda bersejarah.

Rumah berwarna putih di Jalan Teungku Daud Beureueh Banda Aceh itu selalu jadi perhatian pelintas. Persisnya berada di deretan salah satu gerai waralaba makanan cepat saji di kawasan Simpang Lima. Arsitekturnya yang unik antara kombinasi arsitektur Eropa dan China kerap menimbulkan tanya mengenai asal-usulnya.

Bagi Anda yang baru pertama kali menjejakkan kaki ke Kota Banda Aceh, tak ada salahnya mencari tahu langsung seluk-beluk rumah tersebut dengan melihatnya dari dekat. Ini merupakan rumah peninggalan kolonial Belanda setelah mereka menduduki Aceh.

Dulu tempat ini difungsikan sebagai kediaman Residen, sebuah jabatan dalam struktur Pemerintahan Hindia-Belanda. Jabatan tersebut setara dengan jabatan bupati saat ini. Residen terakhir yang menduduki tempat ini adalah H. Ibnu Sakdan.

Bekas kediaman Residen tersebut saat ini tidak lagi difungsikan sebagai tempat kediaman pejabat pemerintah. Setelah dibeli kembali menjadi aset Pemko Banda Aceh, rumah ini disulap sebagai tempat untuk menyimpan koleksi benda-benda bersejarah.

Namanya pun diubah menjadi Rumoh Budaya. Berfungsi sebagai pusat edukasi dan informasi tentang sejarah dan kebudayaan Aceh, khususnya Banda Aceh. Tempat ini di bawah pengelolaan Dinas Pariwisata Kota Banda Aceh.

Rumoh Budaya hanya berjarak beberapa meter dari Tugu Simpang Lima. Sekitar 1,5 km dari Masjid Raya baiturrahman.

Meski sudah tua, bangunan ini masih terlihat sangat kokoh dengan temboknya yang tebal.  Sekilas, Rumoh Budaya memang tak tampak sebagai tempat informasi sejarah dan kebudayaan. Bangunan aslinya masih tetap dipertahankan. Layaknya seperti rumah seorang pejabat, di halaman bangunan ini ditanami berbagai tanaman bunga. Terdapat dua pohon berukuran sedang di sebelah kiri dan kanan.

Berbagai benda-benda peninggalan sejarah dipajang di dalam Rumoh Budaya. Setiap dinding dalam bangunan ini dipenuhi dengan rak-rak tempat benda-benda bersejarah.

Terdapat Alquran kuno tulisan tangan yang dipajang dalam kotak kaca. Kitab suci ini diperkirakan sudah berumur ratusan tahun. Ada juga senjata tajam yang digunakan sebagai alat perang masa silam dengan berbagai jenis dan bentuk.

Foto-foto Kota Banda Aceh tempo dulu dengan berbagai objek juga dipajang dalam bingkai kaca. Foto ini merupakan koleksi H. Harun Keuchik Leumik, seorang pengusaha ternama di Banda Aceh yang juga dikenal sebagai kolektor Aceh.

Selain sebagai tempat koleksi berbagai benda kuno, Rumoh Budaya juga difungsikan sebagai tempat ekspresi budaya warga kota Banda Aceh. Rumoh Budaya menyediakan panggung kesenian sebagai wadah bagi pelaku seni dan budayawan. Berbagai acara kesenian dan kebudayaan sering diadakan di sini.

Tempat ini terbuka bagi umum tanpa pungutan biaya. Sangat cocok bagi Anda yang ingin mengetahui bagaimana Aceh tempo dulu dan melihat berbagai peralatan tradisional yang digunakan masyarakat Banda Aceh di masa lalu. []

 

Laporan : Munawar Hafizhi

Fotografer : Mustawazir