Mengenang Sultan dan Sultanah Aceh Terakhir

Panitia Peringatan Sejarah Adat dan Budaya Aceh (PESABA) menggelar haul atau mengenang mangkatnya Sultanah Zainatuddin Kamalatsyah ke 324 tahun, dan pemimpin Kerajaan Aceh Darussalam terakhir Sultan Alaidin Muhammad Daudsyah yang ke-79.

Haul dipusatkan di Komplek Makam Sultan Iskandar Muda dan Raja-Raja Aceh (Samping Pendopo Gubernur Aceh) Banda Aceh, Minggu 8 Februari 2015, untuk mengenang jasa dan sosok kedua pemimpin Kesultanan Aceh dalam masa berbeda tersebut.

Sulltanah Kamalatsyah merupakan ratu terakhir yang memimpin Aceh yang berkuasa dari tahun 1688 hingga 1699. Sedangkan Sultan Alaidin Muhammad Daudsyah tercatat memerintah dari 1884 hingga 1903, atau masa genting saat Aceh berperang melawan Belanda.

“Kita ingin memperkenalkan kembali sosok Sultanah Kamalatsyah dan sultan terakhir Sultan Alaidin Muhammad Daudsyah kepada masyarakat, terutama generasi muda sehingga timbul kesadaran bersama akan pentingnya menjaga sejarah,” kata Djamal Syarief, panitia sekaligus inisiator acara.

Acara berlangsung sederhana dan khidmat, duduk lesehan di bawah tenda. Diawali dengan samadiah, selanjutnya penyampaian testimoni sejarah Aceh. Acara terselenggara atas kerjasama Pesaba, Aceh Lamuri Fondation, Sejarah Indatu Lamuri Aceh (SILA), Penyuluh Budaya, Duta Museum Indonesia, Aliansi Lintas Sejarah Aceh, dan Masyarakat Informasi Teknologi.

Turut hadir Tuanku Raja Yusuf Bin Tuanku Raja Ibrahim, cucu sekaligus pewaris Sultan Muhammad Alaidin Daudsyah beserta ahli waris sultan lainnya diantaranya Teungku Putroe Rengganis, Teungku Putroe Sukmawati serta cicit-cicit sultan seperti Tuanku Warul Walidin.

Selanjutnya Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata Kota Banda Aceh, Fadhil, Wakil Ketua Majelis Adat Aceh sekaligus pemerhati sejarah Teungku Abdurrahman Kaoy, dan unsure-unsur pegiat budaya serta sejarah Aceh seperti Mujiburrijal, Muammar Al Farisy dan lainnya.

Menurut Fadhil, ada dua makna penting dari acara ini; mendoakan para indatu kita yang sudah membangun peradaban sejak masa lalu, dan menyadarkan kita akan pentingnya memahami sejarah. “Inilah itibar yang bisa kita nampakkan kepada dunia dan di situlah orang ingin tahu tentang Aceh,” ujarnya.

Fadhil mengapresiasi haul digerakkan anak-anak muda yang peduli sejarah dan budaya Aceh ini. Pemerintah, lanjut dia, siap menfasilitasi acara serupa di masa mendatang. “Kita harus lestarikan ini.”

Abrurrahman Kaoy mengatakan, masyarakat perlu memahami sejarah Aceh dengan benar. Karena ada beberapa kisah sejarah sultan yang dibelokkan para orientalis. “Ada yang ditulis sultan suka mabuk-mabukkan, ini salah.”

Menurutnya Kesultanan Aceh masa lalu menjunjung tinggi nilai Islami. Untuk diangkat jadi sultan haruslah orang yang paham dengan agama. Sultan sendiri ikut dikawal para ulama yang menjadi penasihat bagi kerajaan.

Arrahman Kaoy meminta semua pihak tak melupakan begitu saja peran para sultan yang sudah mempertahankan kedaulatan negeri ini. Khususnya dua sultan yang diperingati haul pada hari ini. Siapakah sosok beliau?

Sultanah Kamalatsyah
Sejarah mencatat, Sultanah Zainatuddin Kamalatsyah merupakan ratu keempat atau terakhir yang memimpin Kerajaan Aceh Darussalam. Ia diangkat sebagai sultan usai mangkatnya Sultanah Nurul Alam Zakiatuddin tahun 1688 Masehi, dan berkuasa selama 11 tahun.

Pengangkatan Kamalatsyah memicu perselisihan politik kala itu. Para ulee balang (kaum bangsawan) yang semakin menguat di kerajaan bersama sebagian ulama, menentang perempuan sebagai pemimpin. Bagi mereka cukup tiga periode saja sultanah yang memegang kendali.

Namun Panglima Tiga Sagi yang ada di lingkungan istana tetap mengangat dan mendukung Kamalatsyah, berdasarkan Adat Meukuta Alam atau Undang-Undang Kerajaan Aceh Darussalan yang dibuat masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607-1636) kemudian disempurnakan diera Sultanah Naqiatuddin Nurul Alam (1675-1678).

Muamar Al Farisy, panitia haul sekaligus pemerhati sejarah Aceh mengatakan, kisruh politik kerajaan membuat pemerintahan terbelah dua kubu. “Kubu Ulee Balang memegang kendali,” ujarnya.

Hingga akhirnya kaum ulama sepakat mengharamkan kepemimpinan perempuan, dan berhasil mempengaruhi kalangan dalam istana. Berakhirlah era kepemimpinan perempuan di Kerajaan Aceh.

Sultanah Kamalatsyah pun turun tahta pada Oktober 1699 dan mangkat setahun kemudian tepat tahun 1112 Hijriah. Kursi kekuasaan diserahkan ke suaminya Sayid Hasyim Jamalulail seorang ulama dari Hadramaut, Yaman yang diberi gelar Sultan Badrul Alam Syarif Hasyim Jamalulail. Karena sudah uzur, ia memerintah dalam tempo singkat dan meninggal tahun 1702.

Beberapa prestasi Sultanah Kamalatsyah selama berkuasa diantaranya pernah menerima para pedagang Prancis dan Inggris, bahkan mengizinkan mereka membuka kantor dagangnya di Aceh untuk memperlancar hubungan perekonomian bilateral negara. Hubungan baik ini sangat menguntungkan kedua pihak. Ekspor rempah-rempah dari Aceh makin lancar ke negara-negara lain terutama Inggris dan Prancis.

Kamalatsyah juga mengeluarkan tampilan baru deurham atau mata uang Aceh yang terbuat dari emas. Sisi muka uang itu terukir namanya “Paduka Seri Sultanah Kamalatsyah, sisi belakangnya bertulis “Zianiat ad-Din Syah berdaulat.”

Sultan Alaidin Muhammad Daudsyah
Alaidin Muhammad Daudsyah merupakan sultan ke 35 atau terakhir yang berdaulat memimpin Kerajaan Aceh Darussalam. Ia anak Tuanku Cut Zainal, sekaligus cucu Sultan Alaidin Mansursyah (1857-1879).

Sultan Alaidin Muhammad Daudsyah didapuk sebagai sultan diusia 7 tahun, untuk mengisi kekosongan kursi raja setelah mangkatnya Sultan Mahmudsyah pada 28 Januari 1874. Aceh saat itu sedang berkecamuk perang melawan agresi Belanda.

Karena Istana Darud Dunya, pusat Kesultanan Aceh Darussalam sudah dikuasai Belanda, Sultan Alaidin Muhammad Daudsyah kala itu diungsikan. Dia ditabalkan jadi sultan dalam sebuah upacara Kerajaan di Masjid Indrapuri oleh walinya sekaligus Ketua Dewan Mangkubumi Tuanku Hasyim Banta Muda.

Sambil menunggu sultan akil baliq, roda pemerintahan kerajaan dijalankan sementara Dewan Mangkubumi atau pemangku, dibantu para kabinet seperti Teungku Chik di Tiro Muhammad Saman yang bertanggung jawab mengurus perang.

Setelah benteng pertahanan di Montasik dikuasai Belanda pada 1878, Ibu Kota Kerajaan Aceh kemudian dipindah ke Keumala, Pidie selama 20 tahun. Di sanalah Sultan Alaidin Muhammad Daudsyah menjalankan pemerintahannya.

Berkali-kali dipaksa menyerahkan kekuasaannya kepada Pemerintahan Belanda, Alaidin Muhammad Daudsyah ngotot mempertahankan kedaulatan Aceh. Hingga akhirnya Belanda menculik, menyandera dua permaisuri dan putra mahkota sultan agar Alaidin bersedia menemui Belanda.

Setelah bermusyawarah dengan Dewan Kesultanan, Alaidin kemudian menjumpai delegasi Belanda, van Der Maaten di Sigli pada 10 Januari 1903. Dia dibujuk agar mau menandatangani surat penyerahan kekuasaan Aceh kepada Belanda, tapi Alaidin menolak dan merobek surat itu.

Dia kemudian dibawa ke Kutaradja (Banda Aceh), ditahan di sebuah rumah khusus di Keudah. Dari balik tahanan ia masih mengatur perang, bahkan mengirim surat permohonan kepada Kaisar Jepang melalui perwakilan Jepang di Singapura, untuk membantu mengusir Belanda.

Begitu ketahuan pemimpin Belanda, van Heutz berang kemudian mengasingkan sultan ke Ambon. Sialnya di sana Alaidin justru disambut dengan baik sebagai tamu kehormatan dari Kesultanan Aceh oleh Raja Ambon. Bahkan ia bisa mengajak Raja Ambon masuk Islam. Belanda kemudian mengasingkan Alaidin Muhammad Daudsyah ke Batavia (Jakarta), hingga ia mangkat di sana pada 6 Februari 1939. [Salman Mardira]