Makin Naik Daun, Giliran Ketua DPRK Bikin Lomba Kuah Beulangong

Arif Fadillah merasa cemburu pada kuliner lainnya di luar Aceh seperti rendang yang sudah terkenal hingga mancanegara, bahkan sudah mendapat pengakuan dari UNESCO.

Kuah beulangong merupakan masakan khas masyarakat Banda Aceh dan Aceh Besar. Masakan ini berupa gulai kari daging yang dimasak dengan aneka rempah-rempah khas Aceh. Berbeda dengan gulai kari lainnya, kuah beulangong dimasak tanpa menggunakan santan.

Kuah Beulangong sudah ada sejak ratusan tahun lalu. Masakan ini selalu disajikan saat perayaan hari-hari besar seperti Maulid, tahun baru Islam, hingga pesta pernikahan.

Untuk menjaga dan mengangkat cita rasa kekayaan kuliner khas Banda Aceh dan Aceh Besar tersebut, Ketua DPRK Banda Aceh Arief Fadillah mengadakan Lomba Masak Kuah Beulangong, Minggu (25/11/2018) di Taman Bustanussalatin, Banda Aceh.

Lomba ini diikuti sepuluh tim dari tiap-tiap gampong di Kecamatan Baiturrahman, ditambah dua tim kehormatan dari Kecamatan Bandar Raya, yaitu dari Gampong Lampuet dan tim jemaah pengajian Zul Arafah.

Arif Fadillah merasa cemburu pada kuliner lainnya di luar Aceh seperti rendang yang sudah terkenal hingga mancanegara, bahkan sudah mendapat pengakuan dari UNESCO. Oleh karena itu, ia berharap ke depan kuah beulangong diusulkan ke UNESCO sebagai salah satu warisan budaya bangsa yang berasal dari Aceh.

Arif juga berharap dengan adanya event tersebut akan menjadi bahagian dari agenda Pemerintah Kota Banda Aceh untuk serius dalam mengangkat cita rasa dari kuah beulangong tersebut.

“Perlombaan ini juga untuk mempersatukan masyarakat yang ada di sekitar Baiturahman dan daerah kota Banda Aceh dari kegiatan warga dapat menukarkan masakan mereka satu sama lain dan menikmati masaka tersebut secara bersama sama,” kata Arif Fadillah.

Pengajian Zul Arafah Sebagai Juara

Tim jemaah pengajian Zul Arafah dari Kecamatan Banda Raya Banda Aceh memenangi Lomba Masak Kuah Beulangong se-Kecamatan Baiturrahman yang diselenggarakan Ketua DPRK tersebut.

Dalam lomba masak kuliner Aceh tersebut, tim jemaah pengajian Zul Arafah mendapatkan nilai terbanyak dari dewan juri dengan jumlah 880 poin, dua terbanyak disusul dari tim Gampong Baro 870 poin, kemudian juara tiga dari Gampong Peuniti dengan perolehan nilai 850 poin.

Chef Mulyadi dari Best Western Hotel Jakarta, salah seorang dewan juri dalam kegiatan tersebut mengatakan beberapa kategori yang menjadi penilai dewan juri, yaitu cita rasa, kebersihan, dan kerja sama tim. Dalam satu tim terdiri atas lima orang.

“Ke depan para peserta juga harus melihat keseragaman, peserta tidak asal-asalan, kemudian untuk kebersihan bukan hanya dari tempat kerja tapi juga dimulai dari personal peserta itu sendiri, tidak merokok ketika saat memasak apalagi ini kompetisi, itu bagian dari penilaian,” ungkapnya.

Abu Usman, Dewan juri lainnya yang dikenal sebagai pakar kuah beulangong,  menyampaikan dalam perlombaan tersebut para peserta diberikan waktu selama dua jam untuk memasak mulai dari mempersiapkan bahan masakan sampai meracik bumbu dan penyajian masakan.

Memasak kuah beulangong merupakan simbol kebersamaan bagi masyarakat Aceh, proses pengolahan kuliner tradisional Tanah Rencong ini sedari awal telah melibatkan kerjasama dan kebersamaan yang semuanya dilakukan oleh kaum laki-laki.[]

 

Laporan : Munawar Hafizhi

Fotografer : Mustawazir