Hidangan Spesial untuk Tamu

Kebiasaan warga Aceh menghidangkan berbagai aneka makanan tradisional untuk memulikan tamu yang datang ke rumahnya.

By Rahmat Aulia

Cut Po Ainon, begitu ia akrab disapa masyarakat gampong. Perempuan berusia setengah abad ini tampak meh-moh (Indonesia: kerepotan) sekali hari itu.

Maklum. Ia yang tinggal di pinggiran Kota Banda Aceh tepatnya di Gampong Ateuk Anggok, Kecamatan Ingin Jaya, Kabupaten Aceh Besar akan kedatangan tamu hari ini. Saudaranya dari Kabupaten Pidie yang telah lama merantau ke Malaysia akan bertamu ke rumahnya.

Sejak pagi, Cut Po Ainon bersama suami dan kedua anaknya, sudah bersiap-siap menyambut saudaranya itu. Bebek dan ayam peliharaannya disembelih oleh suaminya dan sekarang sedang dimasaknya asam keu-eueng—salah satu kuliner khas Aceh Besar yang cukup digemari.

Bagi para ibu di Aceh Besar, masakan asam keu-eueng tentu sudah tidak asing lagi. Mungkin hampir semua mak-mak di Aceh Besar bisa memasak menu yang satu ini.

Ketika jam sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi, beragam menu sudah siap sedia. Aroma ayam dan bebek asam keu-eueng dari dalam kuali menyeruak ke seluruh sisi rumah.

Dari dalam kuali, satu batang serai teronggok manja di antara daging ayam dan minyak kuning kecokelat-cokelatan. Sungguh menggoda bagi siapapun yang melihatnya.

Tidak jauh dari kuali, telur bebek asin yang telah dibelah dua oleh anak Cut Po memenuhi piring duralex—piring sejuta umat di Aceh. Telur asin dengan campuran dua warna; putih dan kuning menyala, seakan menggoda siapa saja untuk segera menyantapnya.

Selain dua menu di atas, Cut Po juga memasak sie reuboh, menggoreng ayam dan kerupuk mulieng (Indonesia: emping melinjo) pemberian tetangganya yang baru pulang dari Pidie; daerah sentral penghasil kerupuk mulieng.

Seperti di rumah warga Aceh lainnya, setelah semua siap sedia, Cut Po tidak lantas menghidangkan semua makanan tadi di atas meja. Ia akan menunggu dulu tamunya tiba.

Setelah menunggu satu jam lebih, sebuah mobil MPV (Multi Purpose Vehicle) silver tampak masuk ke pekarangan rumah Cut Po.

Tidak ada gerbang di rumahnya, sehingga setiap tamu yang berkunjung bisa langsung masuk dan memarkirkan kendaraan di pekarangan rumah. Pekarangan yang luas dengan pohon sawo dan mangga berusia puluhan tahun menjadi pelindung dari panasnya sinar matahari.

“Piyoh! Piyoh!”

Senyum Cut Po mengembang, meminta tamunya singgah. Walaupun ia tahu, tamunya memang menuju ke rumahnya. Tapi ujaran “Piyoh!” itu memang sudah menjadi tradisi orang Aceh sebagai bentuk keramahan terhadap jamee (Indonesia : tamu).

Setelah lebih dari setengah jam ngobrol sambil menyantap kue bhoi, timphan dan Sirop Cap Patong, Cut Po pamit pada tamunya sebentar.

Ia lantas ke dapur, mengajak serta dua anak gadisnya untuk mengangkat tiga buah talam besar ke hadapan tamu.

Tiga talam besar itu terisi penuh dengan ayam dan bebek asam keu-eueng, sie reuboh, telur asin, kerupuk mulieng, nasi satu bakul besar dan air cuci tangan berikut dua lembar kain penyeka. Semuanya ditata dengan sangat rapi oleh Fatimah dan Zuhrah.

A post shared by Aceh Indonesia (@wisataaceh) on

Dalam hal menyambut tamu, sudah menjadi kebiasaan orang Aceh untuk memuliakan tamu dengan menghidangkan berbagai aneka makanan kepada tamu. Meskipun tuan rumah tergolong keluarga kurang mampu, tapi dalam urusan yang satu ini mereka rela menyembelih ayam dan bebek serta menguras tabungan untuk menyiapkan aneka menu kepada tamu.

Di beberapa tempat khususnya wilayah perdesaan. Adat menyambut tamu dengan menghidangkan berbagai makanan khas Aceh ini masih sangat terasa. Seperti halnya di rumah Cut Po Ainon. Ini salah satu bentuk dari tradisi Aceh yang dikenal dengan istilah “peumulia jamee adat geutanyoe”.

Sepulang tamunya, saya bertanya kepada Cut Po Ainon kenapa ia harus repot-repot menghidangkan makanan dengan cara seperti itu. Bukankah lebih mudah dengan langsung meletakkannya di atas meja?

Cut Po menjelaskan kepada saya bahwa ada makna tersendiri dibalik penyajian seperti itu. Dengan menyajikan makanan menggunakan talam dan menghidangkan di depan tamu secara langsung, tuan rumah bermaksud memuliakan tamu.

Tujuannya agar tamu tidak perlu antri ketika ingin meletakkan makanan ke dalam piring masing-masing. Dengan terhidang langsung di depan, tentunya tamu tidak perlu bangun untuk meletakkan makanan dalam piring. Ketika ingin menambah makanan, mereka juga tidak akan merasa malu karena tinggal ambil yang tersaji di depannya.

Berbeda halnya dengan makanan yang tersaji di atas meja, tamu harus kembali berdiri untuk menambah makanan. Tentu ketika bangun lagi untuk menambah makanan, pasti sebelumnya akan terngiang perasaan malu yang dikira buloe (Indonesia: loba) oleh yang punya rumah. Walaupun sebetulnya itu hanya perasaan tamu saja di rumah orang.

Aturan Adat


Selesai menyantap hidangan. Ada satu aturan tidak tertulis yang harus dipatuhi oleh tamu. Usahakan tidak terlalu cepat mencuci tangan sebelum seseorang yang dituakan disitu mencuci tangan terlebih dahulu.

Tujuannya, kata Cut Po Ainon, di samping menghormati yang lebih tua juga untuk menjaga tamu lainnya agar tidak keburu menyantap hidangan karena ada yang sudah mencuci tangan.

Hal ini pun jamak dan umum berlaku bagi santri dayah yang pergi khanduri ke suatu tempat, sebelum teungku (Indonesia: ustad) mencuci tangan, para santri tidak akan mendahului.

Begitupun teungku, jika lebih cepat selesai menyantap hidangan sementara banyak santri yang masih makan, biasanya teungku akan menyiasatinya dengan memakan cemilan yang tersedia, tujuannya sama, agar para santri tidak terburu-buru makan karena melihat teungku sudah mencuci tangan.

Di Aceh Besar, aturan ini turun-temurun berlaku, baik dalam kehidupan warga biasa maupun santri.

Tradisi menghidangkan makanan juga berlaku dalam acara seperti Maulid Nabi, pesta perkawinan dan ragam kenduri adat lainnya di Aceh. Ada juga aturan tak tertulis lainnya di Aceh, tidak dianjurkan bertamu di malam hari.

Namun jika Anda ingin merasakan menjadi tamu spesial ketika berkunjung ke Banda Aceh, mintalah kepada kenalan atau tour operator Anda untuk dibawa ke acara kenduri di pedesaan, baik di gampong-gampong yang ada di pinggiran Kota Banda Aceh maupun di Aceh Besar.

Beruntunglah jika Anda mendapatkan kenduri pesta perkawinan. Karena biasanya makanan yang tersedia di acara ini akan jauh lebih lengkap dan banyak. Akan membuat tamu bingung memilih makan yang mana. Tertarik ingin mencobanya?[]

Photo Cover by Mustawazir