Gema Zikir di Ujung Sumatera

Mengenang peristiwa tsunami, mengekang kedekatan kepada Sang Ilahi.

By Rahmat Aulia

“Setelah lulus ujian tsunami, jangan menjadi buruk lagi setelah itu. Oleh sebab itu dengan zikir ini kita berharap mudah-mudahan Aceh lebih baik lagi. Berkurangnya fitnah, buruk sangka, suka bertengkar dan sifat-sifat buruk lainnya yang bisa menghambat kemajuan Aceh.”

Demikian kata sambutan Teungku H Faisal Ali, Wakil Ketua MPU Aceh), yang saya dengar malam itu.

Sejujurnya saya tidak suka menghadiri acara-acara yang menimbulkan keramaian seperti konser, pertandingan atau festival. Namun sebuah ajakan dari orang terdekat untuk menghadiri zikir internasional di Taman Ratu Safiatuddin tidak mungkin saya abaikan.

Selepas tsunami menerpa Aceh pada Desember 2004, pemerintah Aceh tidak pernah alpa melaksanakan acara peringatan tsunami setiap tahun. Tujuannya untuk mendoakan mereka yang telah duluan kembali, pun menjadi reminder bahwa setiap yang hidup pasti akan mati.

Bagi saya, ini adalah pengalaman pertama hadir di acara zikir bersama. Pengalaman pertama yang cukup berharga. Sepulang dari acara ini, saya membatin: “Seandainya mengabaikan ajakan tadi, pasti saya akan sangat menyesal. Sumpah! Ini acara keren sekali.”

Saya tidak ingat secara pasti kapan Banda Aceh mulai rutin menggelar zikir bersama. Yang jelas, sejak jargon “Kota Madani” hingga “Kota Gemilang” menggema, acara Zikir bersama hampir selalu ada setiap bulan. Baik di Masjid Raya Baiturrahman atau Taman Bustanussalatin (Dulunya bernama Taman Sari).

Pun pada peringatan tsunami yang ke-13 ini, pemerintah Aceh kembali memilih zikir bersama sebagai acara utama. Tak tanggung-tanggung, zikir kali ini dihadiri oleh perwakilan grup zikir lima negara; Malaysia, Brunai Darussalam, Singapura, Thailand dan Yaman.

Pemerintah menggelar acara Zikir Internasional di Taman Ratu Safiatuddin, yang notabene lebih luas dari kedua tempat di atas. Sejak awal, panitia menargetkan 7.000 jamaah akan hadir.

Waktu itu belum ada kabar akan hadir Ustadz Abdul Somad. Sebaran publikasi pun tidak tampak ada foto ustadz kelahiran Sumatera Utara tersebut. Namun, begitu tersiar kabar Ustadz Abdul Somad akan tampip, sontak heboh. Panitia pun meralat informasi yang masih mungkin. Dalam hitungan detik, informasi kedatangan ustadz mendadak viral di jagat maya. Tersebarnya kedatangan sang ustadz bak hujaman peluru senapan otomatis. Cepat sekali.

***

Selasa Malam, 26 Desember 2017 bumi Aceh berzikir. Lafaz takbir, tahmid dan tahlil menggema seantero Kuta Raja.

Puluhan ribu massa yang ditargetkan awal hanya akan dihadiri ribuan saja meleset jauh.

Malam itu saya duduk tidak jauh dari panggung utama. Harapannya bisa melihat dengan dekat bintang-bintang tamu yang hadir malam itu.
Harapan ini pun Allah kabulkan.

Sejujurnya ada perasaan haru merasuk kalbu ketika melihat mulai dari bupati, walikota hingga gubernur hadir meramaikan acara zikir. Keharuan saya semakin bertambah ketika melihat mantan walikota dan gubernur juga ikut hadir.

Adakah yang lebih indah dari bersatunya umara dan ulama?

Acara dibuka dengan gema shalawat dari Zawiyah Nurun Nabi. Alunan merdu shalawat bersanding mesra dengan tabuhan rebana. Tanpa disuruh, jemaah zikir ikut melantunkan shalawat. Suasana tiba-tiba menjadi syahdu, hingga Master of Ceremony (MC) membuka acara karena waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam.

Selayaknya acara-acara di Aceh, pembacaan Ayat-Ayat Suci Alqur’an menjadi ritual wajib memulai acara. Takdir Feriza yang beberapa waktu lalu keluar sebagai juara 1 MTQ tingkat internasional di dapuk sebagai qari.
Alunan merdu suara Takdir kembali mengulang kesyahduan. Lengkingan suaranya membuat hadirin sontak melafazkan “Allah – Allah” berkali-kali.

Dalam hal ini, kita patut berbangga karena mempunyai Takdir Feriza.
Takdir menutup tilawahnya dengan ucapan Shadaqallahul Adzhiim (Maha Benar Allah Yang Maha Agung). Acara dilanjutkan dengan kata sambutan gubernur Aceh dan Forkopimda.

Kata sambutan gubernur yang penuh guyonan sontak membuat jamaah zikir tertawa. Hadirin kembali tertawa ketika Irwandi mencampurkan Bahasa Aceh dalam sambutannya.

Jamaah kembali hanyut dalam zikir ketika syekh dari Malaysia membawakan zikir “Ya Hanana”. Semua yang hadir ikut melantunkannya.
Ikut hadir dalam acara zikir adalah Habib Novel Alaydrus. Sekitar dua puluh menit, Habib Novel memberikan tausiyah dan jamaah zikir tampak cukup menikmatinya.

Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam ketika MC meminta Ustaz Abdul Somad berceramah. Sontak semua jemaah riuh dan melambaikan tangan ke Ustaz Abdul Somad. Hadirin kembali tenang begitu ustadz mengucapkan Assalamu’alaikum wr.wb.

Selama ini saya cukup aktif mendengarkan kajian Ustaz Abdul Somad. Dari rekaman yang sering saya dengar, memang suara dai dari Pekanbaru, Riau ini cukup lantang. Rupanya suara beliau lebih lantang lagi ketika kita lihat dan dengarkan langsung.

Malam itu, Ustaz Abdul Somad berhasil membakar semangat puluhan ribu jamaah zikir yang hadir. Ghirah mukmin dan mukminat dalam beramal sholeh kembali membara seiring ceramah sang ustadz. Allah pun seolah mengguyur Rahmat-Nya di malam ke-13 peringatan musibah gempa dan tsunami di bumoe para syuhada. Allahu Akbar![]