Fakta 6: Berinteraksi di Banda Aceh

Pelajari lima hal ini sebelum berinteraksi dengan warga Banda Aceh.

By Rahmat Aulia

Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Peribahasa ini mengingatkan kita yang mengunjungi negara mana pun untuk menghormati adat-istiadat atau norma-norma dalam kebudayaan setempat.

Banda Aceh pun memiliki beberapa aturan tak tertulis yang perlu diketahui. Mengetahui aturan-aturan tersebut akan memudahkan Anda dalam berinteraksi dengan masyarakat di Banda Aceh dan Aceh secara umum. Berikut 5 kuncinya:

1. Pakaian yang Sopan

Aceh adalah daerah yang menerapkan syariat islam. Berwisata ke Banda Aceh, bagi Anda nonmuslim, tidak diwajibkan mengenakan pakaian islami tetapi Anda hanya diminta mengenakan pakaian yang sopan. Perempuan tidak harus mengenakan kerudung atau jilbab, tetapi cukup menutup kepala dengan selendang. Lelaki akan lebih dihormati bila memakai celana yang menutupi lutut.

Tapi tidak salah juga bila Anda sesekali berpakaian ala masyarakat Aceh, mungkin Anda akan sangat dihormati jika melakukan hal ini. Terutama saat mengunjungi masjid-masjid agung yang ada di Kota Banda Aceh seperti Masjid Raya Baiturrahman, Masjid Baiturrahim Ulee Lheue, dan Masjid Rahmatullah Lampuuk. Direkomendasikan pula saat Anda akan menghadiri upacara adat.

Sementara bagi Anda yang muslim, Banda Aceh merupakan kota yang tepat untuk membuat Anda benar-benar merasakan pengalaman menjadi muslim yang taat. Cobalah berpakaian ala muslim Aceh.

2. Memberi Sapaan

Sapaan menjadi awal interaksi. Jangan sungkan-sungkan untuk menyapa warga dengan ucapan “Hai, Hello”. Namun sangat direkomendasikan untuk mencoba berikan Special Greeting kepada warga yang dijumpai. Anda misalnya boleh mengucapkan “Assalamualaikum” yang merupakan sapaan muslim secara global. Kata ini sangat efektif bila Anda ingin menanyakan satu hal kepada warga.

Baca juga: Fakta 5 Masyarakat

Atau Anda boleh menyapa dengan dengan kata-kata: “Abang/Cut Bang” untuk lelaki dewasa, “Adek” untuk lelaki/perempun yang lebih muda, dan “Akak/Cut Kak” untuk perempuan dewasa. Katakan “Abua” untuk lelaki berusia tua, atau “Cupo” untuk perempuan berusia tua.

3. Lepas Alas Kaki

Sebaiknya Anda melepas alas kaki saat bertamu ke rumah warga di Banda Aceh meskipun tidak ada tulisan “Alas Kaki Mohon Dilepas”. Tapi tulisan ini akan mudah ditemui saat Anda mengunjugi rumah ibadah muslim di Aceh. Sejenak tanggalkan sepatu atau sandal, maka Anda akan diterima dengan hormat.

Satya Winnie di Masjid Raya Baiturrahman

Wisatawan nusantara mengenakan penutup kepala di Masjid Raya Baiturrahman. Foto: Dokumen Satya Winnie

4. Gunakan Tangan Kanan

Selalu gunakan tangan kanan saat memberi atau menerima sesuatu dari warga Banda Aceh dan Aceh pada umumnya. Begitupun saat Anda melambaikan tangan kepada orang yang Anda kenal atau menguncapkan salam perpisahan.

Lihat pula warga Banda Aceh ketika menyantap makan dan menyesap minuman, serta berjabat tangan, mereka selalu menggunakan tangan kanan. Tangan kanan bermakna kemuliaan. Jika Anda ingin mendapat kemuliaan, maka sebaiknya gunakan tangan kanan dalam berinteraksi dengan masyarakat.

Baca juga: Fakta 4 Sejarah

5. Cobalah Berbahasa Lokal

Tak salahnya Anda mencoba berbicara dalam bahasa lokal, yaitu Bahasa Aceh. Warga lokal akan senang jika mendapati turis yang mengucapkan bahasa daerah meskipun pengucapannya tidak tepat.

Sebagai pengantar, Anda boleh mencoba mengucapkan beberapa bahasa Aceh berikut ini untuk menarik hati warga Banda Aceh.

Peue haba?                     = How are you?
Haba get                          = Fine
Lon                                   = I
Droen                               = You
Kiban cara jak keunan?   = How to get there?
Pajoh                               = Eat
Jep                                   = Drink

Photo Cover: Mustawazir