Fakta 5: Masyarakat Banda Aceh

Salah satu hal yang membuat wisatawan ingin balik lagi ke satu kota adalah keramahan penduduk lokalnya.

By Rahmat Aulia

Masyarakat Aceh hidup rukun dalam beragam etnis yang tersebar di dua puluh tiga kabupaten kota. Banda Aceh sebagai ibu kota provinsi Aceh adalah tempat terbaik bagi Anda yang ingin melihat kerukunan hidup masyarakt yang multikultur tersebut.

Banda Aceh dihuni oleh warga pendatang dari berbagai daerah di Aceh. Mulai dari Pidie, Gayo, Aceh Tamiang, Aceh Selatan, hingga Aceh Singkil. Mereka merantau ke Banda Aceh untuk berbagai keperluan. Umumnya bekerja dan belajar.

Anda akan kesulitan mendefinisikan yang mana warga asli Banda Aceh. Sebab karakter, warna kulit, dan sikapnya, sama dengan penduduk daerah Aceh lainnya. Mungkin perbedaan akan Anda temukan di pemikiran mereka jika sempat berinteraksi langsung.

Secara fisik, masyarakat Aceh juga memiliki penampilan yang beragam. Kata “ACEH” sendiri dikenal sebagai singkatan dari empat bangsa yang datang ke Aceh dulunya. Yaitu Arab, Cina, Eropa, dan Hindia.

Baca juga: Sejarah Banda Aceh

Anda jangan heran bila berkunjung ke Aceh akan melihat wajah orang Aceh yang mirip masyarakat Timur Tengah, orang Barat, bermata sipit, dan orang India.

Namun Anda juga patut menyimak 5 (lima) karakter masyarakat Aceh, sebagaimana diulasn Dr. Mohd Harun M Pd dalam bukunya “Memahami Orang Aceh”.

Militan

Memiliki semangat juang yang tinggi. Bukan hanya dalam memperjuangkan makna hidup tetapi juga dalam mempertahankan harga diri atau eksistensinya. Militansi Aceh adalah militansi dalam makna mempertahankan kebenaran yang diyakini masyarakatnya.

Reaktif

Memiliki sikap awas atas harga diri yang keberadaannya dipertaruhkan dalam konstelasi sosial budaya. Orang Aceh sangat peka terhadap situasi sosial di sekitarnya. Orang Aceh tidak suka diusik, sebab jika tersinggung dan menanggung malu reaksi yang timbul adalah akan dibenci dan bahkan menimbulkan dendam. Hingga orang Belanda pada masa perang kolonial melabeli orang Aceh sebagai ‘Aceh Pungo’ alias Aceh Gila.

Konsisten

Hal ini tampak dalam sikap dan pendirian yang tidak plin-plan, tegas, dan taat. Apalagi jika berkaitan dengan harga diri dan kebenaran. Sebagai representasi dari sifat ini terungkap dalam idiom masyarakat Aceh ‘meunyoe ka bak u, han mungken bak pineung’ (Jika sudah pohon kelapa, tidak mungkin pohon pinang). Konsistensi orang Aceh terlihat dalam patriotisme melawan penjajah, sejak zaman kerajaan, perang kolonialis, sampai pada zaman kemerdekaan.

Optimis

Tampak dalam melakukan suatu pekerjaan tertentu. Orang Aceh beranggapan setiap pekerjaan yang kelihatan sulit dan berat harus dicoba dan dilalui. Perang terlama melawan penjajah Belanda dilakoni hingga Belanda benar-benar harus angkat kaki dari Aceh. Walaupun berhadapan dengan kecanggihan mesin perang, masyarakat Aceh tetap optimis dengan modal militansi.

Loyal

Ini amat berkaitan dengan kepercayaan. Jika seseorang, lebih-lebih pemimpin, menghargai, mempercayai, tidak menipu, tidak mencurigai orang Aceh, mereka akan membaktikan diri sepenuhnya kepada sang pemimpin.

Baca juga: Museum Aceh

Kendati tidak semua hadih maja (petuah Aceh_red) dalam “Memahami Orang Aceh” dapat berlaku secara harfiah di segala zaman, nilai filosofis di dalamnya tetap menggambarkan tipologi masyarakat Aceh secara keseluruhan. Filosofis yang diemban hadih maja itu masih terlihat dalam masyarakat Aceh hingga kini. Karakter-karakter demikian pun akan Anda temukan jika berinteraksi langsung dengan masyarakat Banda Aceh.

Namun jika Anda sangat ingin melihat warga asli Kota Banda Aceh, kesempatan terbaik adalah ketika Hari Raya Idil Fitri. Pada momen inii masyarakat pendatang akan pulang kampung sehingga tersisalah masyarakat asli Banda Aceh.

Pahami karakter masyarakat Aceh, maka Anda akan menjadi teman, bahkan saudara.[]

Photo Cover by Mustawazir