Fakta 4: Sejarah Banda Aceh

Puing-puing kerajaan islam terbesar di Asia Tenggara dapat Anda lihat di kota ini.

By Rahmat Aulia

Ada banyak lembaran sejarah yang tersimpan di balik kemegahan Kota Banda Aceh sekarang. Sebagai ibu kota Provinsi Aceh, Indonesia, pertumbuhan kota ini tak lepas dari pengaruh sejarah Kerajaan Aceh Darussalam.

Aceh dulunya merupakan sebuah negeri tersendiri dengan ibukota Banda Aceh. Posisinya geografisnya sangat strategis di antara Selat Malaka dan Samudera Hindia. Kota ini pun sering dikunjungi pedagang dari Arab, China, Eropa dan Hindia (India).

Banda Aceh sebagai ibu kota Kesultanan Aceh Darussalam berdiri pada abad ke-14, yang dipimpin oleh seorang raja. Semenjak masa itu, Kota Banda Aceh muncul sebagai salah satu kota islam paling tua di Asia Tenggara.

Kesultanan Aceh Darussalam dibangun di atas puing-puing kerajaan Hindu dan Budha, yang lebih dulu berkembang, seperti Kerajaan Indrapurwa, Kerajaan Indrapatra, dan Kerajaan Indrapura. Jejak ketiga kerajaan itu masih dapat dilihat hingga kini, yang terletak di pesisir laut Banda Aceh dan Aceh Besar.

Lahirnya Kesultanan Aceh Darussalam juga tidak terlepas dari eksistensi Kerajaan Islam Lamuri yang berada di Krueng Raya, Aceh Besar. Kerajaan yang dalam catatan literasi pernah disinggahi oleh Marcopolo dan Laksamana Chengho—yang memberikan hadiah Lonceng Cakradonya kepada Kesultanan Aceh.

Baca juga: Museum Aceh

Sultan Ali Mughayat Syah merupakan sultan pertama Kerajaan Aceh Darussalam. Ia memerintah selama 10 tahun. Kendati masa pemerintahannya relatif singkat, ia berhasil membangun Banda Aceh sebagai pusat peradaban Islam di Asia Tenggara.

Pada masa pemerintahannya, Banda Aceh berevolusi menjadi salah satu kota pusat pertahanan. Aceh ikut mengamankan jalur perdagangan maritim dan lalu-lintas jemaah haji dari perompakan yang dilakukan armada Portugis.

Pada masa Sultan Iskandar Muda menakhodai Kerajaan Aceh Darussalam, posisi Banda Aceh sebagai pusat perdagangan maritim makin kuat, khususnya untuk perdagangan komoditas lada yang saat itu sangat tinggi permintaannya dari Eropa.

Darud Dunya

Iskandar Muda juga menjadikan Banda Aceh sebagai taman dunia, yang dimulai dari komplek istana. Komplek istana Kesultanan Aceh dinamai Darud Dunya (Taman Dunia).

Jika ingin melihat seberapa luas Komplek Istana Kesultanan Aceh, Anda bisa mendatangi Museum Aceh yang beralamat di jalan Sultan Alaidddin Mahmudsyah, Peuniti, Baiturrahman, Banda Aceh. Di sini dipajang sebuah peta yang menggambarkan kerajaan Darud Dunya.

Pada masa agresi Belanda kedua, terjadi evakuasi besar-besaran. Pasukan Aceh keluar dari Banda Aceh yang kemudian dirayakan oleh Van Swieten dengan memproklamasikan jatuhnya Kesultanan Aceh dan mengubah nama Banda Aceh menjadi Kuta Raja.

Baca juga: Fakta 3 Panduan Perjalanan

Kuta Raja

Indonesia merdeka dari penjajahan Belanda pada 1945. Kuta Raja dijadikan ibu kota Provinsi Aceh, bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Namun baru pada 28 Desember 1962, nama kota ini kembali diganti menjadi Banda Aceh berdasarkan Keputusan Menteri Pemerintahan Umum dan Otonomi Daerah bertanggal 9 Mei 1963 No. Des 52/1/43-43.

Pada 26 Desember 2004, Banda Aceh dilanda gempa berkekuatan 9,2 skala richter dan gelombang tsunami yang menelan ratusan ribu korban jiwa. Akibatnya, lebih dari 60% bangunan Banda Aceh hancur total. Namun ibu kota bangun kembali dengan bantuan dari berbagai negara.

Masyarakat Banda Aceh saat ini berjumlah sekitar 267 ribu jiwa (BPS Kota Banda Aceh 2014), dari total 5 juta lebih populasi Aceh. Jika Anda ingin melihat situs-situs sejarah Aceh, Kota Banda Aceh adalah pilihan tepat. Ragam situs sejarah dirawat dengan baik di kota ini.[]

Photo Cover by Mustawazir