Doa dan Zikir untuk Korban Tsunami 14 Tahun Silam

Peringatan tsunami bukanlah untuk mengenang kesedihan dalam musibah tersebut, tapi untuk mengirimkan doa serta mengagungkan kebesaran dan kekuasaan Allah.

14 tahun sudah musibah dahsyat gempa dan tsunami melanda Aceh. Namun kejadian yang meluluhlantakkan seiisi kota dan beberapa wilayah lain di Aceh tersebut masih sangat terkenang di benak masyarakat bumi Serambi Mekah ini. Banda Aceh menjadi salah satu kawasan paling dahsyat dihantam gelombang tsunami.

Dalam musibah tersebut, Banda Aceh mengalami kerusakan yang cukup parah, 2/3 infrastruktur hancur, sebanyak 61.065 jiwa meninggal dan hilang, 21.751 unit rumah hancur, 169 unit fasilitas pendidikan, 63 unit gedung pemerintah rusak parah, 25 unit fasilitas kesehatan hancur dan 46 fasilitas sosial juga hancur. Kemudian 9 unit pasar dan jalan sepanjang 302 km di ibu kota juga ikut rusak.

Untuk mengenang 14 tahun musibah tsunami, Pemko Banda Aceh menggelar zikir, doa bersama, dan tausiah Kuburan Massal Ulee Lheue Banda Aceh, Rabu (26/12/2018).

Tausiah disampaikan oleh Tgk Samsul Bahri Ubit dari Tanoh Ano, Teunom, Aceh Jaya. Sedangkan zikir dipimpin oleh Tgk Syukri Daud, Pimpinan Dayah Raudhatul Hikmah Al-Waliyah, Pango‎, Kecamatan Ulee Kareng.

Wali Kota Banda Aceh, Aminullah Usman, dalam kesempatan ini mengatakan peringatan tsunami bukanlah untuk mengenang kesedihan dalam musibah tersebut, tapi untuk mengirimkan doa serta mengagungkan kebesaran dan kekuasaan Allah.

“Semoga seluruh amal ibadah para syuhada diterima dan ditempatkan disisi Allah Swt,” ujar Aminullah.

Setelah 14 tahun, lanjut Aminullah, wajah Kota Banda Aceh telah banyak berubah. Hal ini dapat dilihat dengan berbagai program pembangunan, baik fisik, sosial dan masyarakat yang terus berinovasi.

Aminullah meminta masyarakat untuk mengambil ibrah sebagai introspeksi diri dari setiap bencana yang terjadi. Ia juga meminta masyarakat Banda Aceh membangun budaya siaga terhadap bercana dalam upaya mengantisipasi bencana yang bisa datang kapan saja. Hal itu tidak terlepas dari status Banda Aceh sebagai salah satu daerah rawan bencana.

Wali Kota Higashimatsushima Jepang, Iwao Atsumi turut hadir dalam peringatan tsunami di Kuburan Massal Ulee Lheue. Mengenakan baju koko putih bermotif pintoe Aceh, Iwao Atsumi juga ikut menaburkan bunga bersama Wali Kota Banda Aceh serta beberapa pejabat penting Pemko Banda Aceh lainnya.

Iwao mengatakan Kota Banda Aceh dan Higashimatsushima sama-sama pernah dihantam gelombang tsunami yang menghancurkan seluruh isi kota. Oleh karena itu kedua kota ini telah menjalin kerja sama untuk saling bergandengan tangan dalam melakukan pembangunan kembali.

“Ada 70 orang dari Banda Aceh dikirim ke Higashimatsushim, dan sebaliknya sejumlah 44 orang perwakilan dari Higashimatsushim dikirim ke Banda Aceh untuk saling belajar dan berbagi ilmu,” ujarnya.

Selain di Kuburan Massal Ulee Lheue, ribuan warga Banda Aceh larut dalam lantunan zikir dan doa yang digelar di Kompleks PLTD Apung, Punge Blang Cut untuk mengikuti doa dan zikir bersama. Di lokasi ini, tausiah disampaikan Wakil Ketua Sekjen MUI Pusat, Tengku Zulkarnain, sementara zikir dipimpin oleh Ustaz Zul Arafah.

Wakil Wali Kota Banda Aceh, Zainal Arifin dalam sambutannya menyampaikan agar masyarakat tulus dan ikhlas mengirimkan doa kepada para syuhada yang syahid pada 26 Desember 2004 lalu.

“Kita yakin mereka telah tenang di alam barzah karena mereka meninggal kembali ke hadapan Allah degan khusnul khatimah. Kita yang ditinggalkan harus mampu mengambil pelajaran dari musibah ini dan tentunya terus berdoa agar kita juga bisa menghadap Allah Swt nantinya dengan khusnul katimah juga,” ujar Zainal.

PLTD Apung merupakan sebuah kapal seberat 2.600 ton yang diseret gelombang tsunami sejauh 5 kilometer dari pelabuhan Ulee Lheue hingga berlabuh ke tengah-tengah pemukiman warga di Gampong Punge Blang Cut, Banda Aceh. Kini lokasi berlabuhnya kapal tersebut telah dijadikan sebagai destinasi wisata tsunami.[]

 

Laporan : Munawar Hafizhi

Fotografer : Mustawazir