Blogger Jakarta ini Ungkapkan 5 Alasan Kenapa Kamu Harus Merasakan Ramadhan di Banda Aceh

Pengalaman perempuan nonmuslim yang sengaja datang ke Aceh menikmati puasa Ramadhan 1438 H.

By Rahmat Aulia

Salah satu provinsi di Indonesia yang menerapkan syariat islam, menjadikan Aceh bagai magnet tersendiri bagi wisatawan untuk ikut langsung merasakan sakralnya Ramadhan di provinsi berjuluk Serambi Mekkah ini. Bahkan bagi nonmuslim sekalipun.

Selasa, 20 Juni 2017, tim bandacehtourism.com berkesempatan “ngopi cantik” bersama salah seorang travel blogger nasional, Satya Winnie.

Dia akrab disapa Satya. Beragama Katolik. Karena perbedaan keyakinan itulah yang membuatnya excited untuk merasakan bagaimana muslim di Aceh menjalani puasa Ramadhan 1438 H. Sebagai nonmuslim, ia merasa tertantang menepis omongan orang bahwa Aceh itu diskriminatif terhadap perempuan.

“Liburan aku kali ini ke Aceh memang sudah aku rencanain dua tahun yang lalu. Jadi aku memang pengen ngerasain gimana sih Aceh itu ketika bulan puasa.”

Ini bukan kunjungan pertama Satya ke Banda Aceh. Ia menginjakkan kaki ke Pulau Banyak, Banda Aceh, dan Sabang pada 2015. Sedari itu ia penasaran ingin merasakan suasana Ramadhan di Aceh.

“Yang pastinya sih Aceh akan sangat berbeda ya ketika Ramadhan. Ketika tiba pertama sekali ke Banda Aceh aku udah dibuat sumringah ketika melihat kota ini sepi dari mulai pagi sampai siang hari.

“Eh pas sorenya semua orang keluar dan sepanjang jalan orang jualan takjil semua.

Ini tuh seru banget menurut aku dan tidak aku jumpain di daerah lain seperti di Jakarta atau kota besar lainnya.”

Gadis kelahiran Sibolga ini bertutur dengan logat khas Medan.

Pada kunjungan kedua ini, Satya juga ingin mengeksplor Aceh lebih dalam lagi.

“Rencananya nanti aku akan main juga ke Pidie dan Takengon. Selama ini orang luar cuma tau Aceh itu Banda Aceh dan Sabang.

“Jadi tujuan aku ke Pidie dan Takengon selain liburan juga ingin mengenalkan kedua daerah ini ke orang luar bahwa Aceh itu nggak cuma Banda Aceh dan Sabang aja. Ada Pidie yang punya banyak tradisi menarik dan Takengon dengan pemandangan alamnya yang luar biasa.”

Baru 3 hari berada di Banda Aceh, kepada bandacehtourism.com mengakui, Satya menemukan 5 alasan menarik kenapa sekali waktu kamu harus menikmati Ramadhan di Banda Aceh yang mungkin tidak akan ditemui di daerah lain.

Ramadhan waktu yang tepat berburu kuliner khas Aceh

Aceh salah satu surganya kuliner Nusantara. Disini kamu wajib nyobain kari kambing atau sapi, sie reuboh, kari ayam, pliek u, mi caluek dan timphan; saran Satya.

Mencari sejumlah kuliner khas itu selama Ramadhan tidaklah sulit karena sepanjang jalan ada banyak sekali pedagang yang menjajakan berbagai kuliner khas Aceh.

Banda Aceh “nyepi” sebelum sore hari


Selama Ramadhan, warga Banda Aceh akan lebih memilih beraktivitas di sore hari, sehingga kebanyakan toko akan tutup dari pagi sampai siang.

Geliat warga baru terlihat ketika menjelang sore hari dimana semua toko kembali buka dan sepanjang jalan akan berjejer rapi pedagang yang menjual takjil. Mau nyari menu apa aja untuk berbuka tinggal tunjuk dan bayar.

Aceh ramah; tidak seekstrem yang diberitakan media

Selama ini, orang luar beranggapan bahwa Aceh itu ekstrem dengan penerapan syariat Islamnya. Perempuan akan mengalami perlakuan kasar jika ke Aceh. Ternyata anggapan itu 100% bertolak belakang dengan apa yang di alami Satya selama di sini.

Selama ini media cukup sering memberitakan Aceh dengn framing yang mendiskreditkan Aceh sebagai daerah syariat Islam. Sehingga banyak orang berpikir bahwa semua perempuan jika ke Aceh harus berkerudung dan memakai pakaian yang menutup aurat serta laki-laki tidak boleh memakai celana pendek.

Padahal semua aturan itu hanya berlaku bagi warga Aceh yang beragama Islam dan bagi non muslim tidak ada paksaan sama sekali. Masyarakatnya juga sangat ramah.

Ternyata lelaki dan perempuan bisa duduk ngopi semeja

Satya Diinterview Bandaacehtourism

Satya saat diinterviewTim Bandaacehtourism.com.

Satya tidak menyangka kalau di Banda Aceh lelaki dan perempuan bisa ngopi satu meja. Sempat terlintas dalam benaknya kalau warung kopi di Banda Aceh ada sekat yang memisahkan pengunjung laki-laki dan perempuan.

Ternyata itu keliru. Satya malah masih merasa tidak percaya jika bisa ngopi semeja bersama empat lelaki saat dijumpai tim bandaacehtourism.com dimana ia satu-satunya perempuan.

Tak ada paksaan soal agama; mau puasa boleh, tidak juga oke

Selama Ramadhan di Banda Aceh, Satya juga berpuasa seperti mayoritas masyarakat Kota Banda Aceh. Ia bahkan pernah berpuasa tanpa ikutan sahur karena lupa mengingatkan tuan rumah untuk membangunkannya. Sampai-sampai hari itu ia puasa kosong.

Soal ini Satya menyatakan tak ada yang memaksanya untuk berpuasa. Ia menjalaninya atas kemauannya sendiri.

Ketika diatanyakan apakah ia berencana selalu puasa selama di Banda Aceh, lulusan Universitas Indonesia ini tersenyum sumringah dan selanjutnya mengatakan kalau ia memang rencana untuk puasa penuh selama disini.

“Tapi nakal-nakal sedikit tidak apa, kan?” celoteh Satya.[]