Banda Aceh Mengingatkan Iko pada Higashi-matsushima

Gadis Jepang ini terpikat dengan masakan ayam tangkap dan kopi aceh.

By Rahmat Aulia

Muda, aktif, cantik dan energik. Begitulah gambaran Wakiko Ito. Dia Koordinator COMU Project di Aceh.

COMU yaitu community based mutual reconstruction acceleration/program percepatan rekonstruksi berbasis masyarakat dengan memanfaatkan sumber daya lokal. Program ini hasil kerjasama antara Pemerintah Kota Banda Aceh dengan Pemerintah Kota Higashi-matsushima, Jepang.

Iko, demikian Wakiko Ito disapa, lawatannya ke Banda Aceh pertama kali pada 2015. Sejak itu setiap tahunnya, Iko bolak-balik Banda Aceh-Jepang sebanyak empat kali. Setidaknya hingga kini sudah lebih sepuluh kali ia ke Banda Aceh.

Bagi Iko, Banda Aceh sudah seperti kampung sendiri.

Kota di ujung barat Indonesia ini mirip dengan Higashi-matsushima, kota kecil di utara Jepang tempat ia berasal.

Jika Banda Aceh luluh-lantak oleh gempa dan tsunami 2004, maka Higashi-matsushima dihancurkan oleh gempa dan tsunami Tōhoku pada 2011 yang menewaskan lebih dari seribu orang.

Belajar dari bencana, Kota Higashi-matsushima mendirikan HOPE; Higashimatsushima Organization for Progress and Economy, Education, Energy. Salah satu outputnya melahirkan COMU yang mengajari masyarakat agar bangkit dari bencana dengan memanfaatkan sumber daya lokal.

Kini Banda Aceh dan Higashi-matsushima sama-sama memiliki Museum Tsunami. Dua kota ini pun sedang berpacu menuju Smart City.

“Sebelum bekerja sebagai koordinator COMU Project di Aceh, aku pernah bekerja di Makassar selama dua tahun, 2012 sampai dengan 2014. Aku menjadi penyuluh pertanian bagi masyarakat di sana,” ujar Iko dengan Bahasa Indonesia aksen Jepang.

Dari seluruh anggota tim COMU Project, hanya Iko yang bisa berbahasa Indonesia. Bahkan sesekali Iko menyelipkan kata dalam Bahasa Aceh di tengah-tengah perbincangan dengan tim bandaacehtourism.com

Nyo, beutoi nyan,” ucap Iko riang ketika tim membantunya menjelaskan sesuatu yang tidak diketahuinya dalam Bahasa Indonesia.

Promosi Kopi Aceh

Wakiko Ito Comu Aceh

Wakiko Ito saat diwawancara di Escape Building, Gampong Lambung. Photo: Muztawazir/bandaacehtourism.com

Ketika ditanyai tentang kuliner Aceh yang paling berkesan, Iko menyebut dua menu: ayam tangkap dan kopi.

Iko pernah mencicipi ayam tangkap di salah satu rumah makan di Banda Aceh. Ia sangat menyukai ayam tangkap karena rasanya yang khas ditambah dengan baluran on teumeurui (daun salam koja).

Tentang kopi, Iko punya cerita tersendiri. Menurutnya, kopi aceh berbeda sekali dengan kopi daerah lain. Rasanya sangat khas. Bahkan ia dan tim COMU Project telah membawa kopi aceh ke Higashi-matsushima.

Setiap ada pameran, Iko bersama tim selalu mempromosikan kopi aceh ke pengunjung.

Dan hampir dari setiap pengunjung yang menyicipi kopi aceh akan bertanya dari mana asalnya kopi ini. Antusias masyarakat Higashi-matsushima akan kopi aceh tinggi sekali.

Iko pernah mencoba membuat kopi menggunakan saring besar (saring kain yang biasa dipakai di warung kopi tradisional-red), tapi baru beberapa kali angkat sudah membuat tangannya pegal.

“Rupanya mengangkat saring itu dengan air di dalamnya lumayan berat ya!” ujar Iko masih dengan aksen Jepang yang kental.

Baca juga: 5 Alasan Kamu Harus ke Banda Aceh

Iko juga mengungkapkan perkembangan Kota Banda Aceh terutama dari sektor pariwisata. Menurutnya, Banda Aceh sejak awal kedatangannya hingga 2017 cukup menunjukkan kemajuan yang signifikan.

Dulunya belum ada moda transportasi umum gratis, sekarang sudah ada. Dan itu sangat membantu terutama bagi wisatawan yang budget-nya terbatas ketika liburan ke Banda Aceh.

Dari 2015 hingga 2017, sudah cukup banyak program yang Iko dan kawan-kawan jalankan. Terakhir mereka menggelar Hari Pasar Sadar Bencana di gedung Escape Building Gampong Lambung, Banda Aceh, pada 23 September lalu.

Kegiatan itu diharapkan tim COMU Project agar masyarakat bisa lebih dekat dengan Escape Building sebagai bagian dari kesehariannya.

“Kita kan nggak pernah tahu kapan bencana itu datang, dengan adanya kedekatan masyarakat dengan Escape Building kita berharap jika suatu saat terjadi gempa atau tsunami mereka langsung teringat Escape Building,” ujar Iko.

Arigatou gozaimashita, Iko

Photo Cover by Mustawazir