Admiral Keumalahayati #Historical #Spiritual

Kunjungi makam panglima perang perempuan pertama di dunia, yang baru saja dinobatkan sebagai pahlawan nasional.

By Rahmat Aulia

Jauh sebelum Eropa mendengungkan tentang emansipasi wanita, nun di ujung barat Indonesia seorang wanita bernama Keumalahayati, sudah terlebih dahulu mempraktikkannya. Ia memimpin Laskar Inong Balee yang beranggotakan janda korban perang, melawan tentara kolonial.

Begitu mengetahui suaminya syahid di tangan armada laut Portugis dalam perang “Teluk Haru”, bara kemarahan Keumalahayati langsung membuncah. Tak berselang lama, ia menjumpai Sultan Saidil Mukammil Alaudi Riayat Syah, Sultan Aceh kala itu.

Keumalahayati meminta dibentuk pasukan armada laut khusus yang prajuritnya terdiri dari janda perang. Sultan pun memenuhi keinginan Keumalahayati dan mempercayakan jabatan Kepala Barisan Pengawal Istana Panglima Rahasia dan Panglima Protokol Pemerintah. Pasukannya dinamakan Armada Inong Balee (armada wanita janda).

Pada 11 September 1599, pasuka Inong Balee merangsek masuk ke geladak kapal Belanda yang dipimpin Cornelis de Houtman. Tanpa mengenal takut, armada Inong Balee melawan serdadu Belanda dengan segenap tenaga dan keberanian.

Cornelis de Houtman pun pada akhirnya meregang nyawa oleh tikaman rencong Keumalahayati. Catatan sejarah ini diabadikan oleh Marie van C. Zeggelen dalam Oude Glorie.

Admiral malahayati

Lukisan Laksamana Malahayati. By merahputih.com

Keumalahayati merupakan laksamana perempuan pertama dalam sejarah angkatan laut Indonesia dan dunia. Ia sendiri berasal dari Aceh dan lahir tahun 1585. Namanya memiliki arti istimewa: batu indah dan bercahaya. Nama Keumalahayati masuk dalam jajaran pesohor militer tangguh yang memimpin tak kurang dari 2.000 pasukan.

Pada satu kesempatan, tim www.bandaacehtourism.com menyambangi tempat pembaringan terakhir Laksamana Keumalahayati. Dari Banda Aceh kita harus menempuh jarak 32 km atau sekitar 47 menit berkendara.

Jalan masuk menuju Makam Keumalahayati persis di depan pelabuhan Krueng Raya. Ada pamflet kecil ukuran 1×1 meter memuat keterangan jalan menuju makam. Layaknya makam pahlawan dan ulama Aceh lainnya, makam Laksamana terletak disebuah bukit kecil setinggi 20 meter.

Ada suasana tenang dan teduh begitu kita memasuki komplek makam. Dalam komplek makam, berdiri dua nisan besar dan satu nisan kecil, kemungkinan ada tiga orang yang bersemayam di sana. Tidak ada keterangan yang menjelaskan mana makam Laksamana Keumalahayati dari ketiga nisan tersebut.

Baca juga: Mengenang Raja Aceh

Tidak jauh dari makam, ada satu monumen kecil persegi yang menjelaskan tentang Laksamana Keumalahayati secara singkat. Agak sulit membacanya karena aksara yang diukir sudah kabur, mungkin karena faktor usia.

Selebihnya, dari dalam komplek makam kita bisa melihat hamparan laut Krueng Raya. Birunya laut dan rindangnya pepohonan sekitar makam membuat kita akan betah berlama-lama. Jika Anda penyuka ketenangan maka tempat ini sangat cocok untuk melakukan kontemplasi.

Sama seperti makam lainnya yang ada di Aceh, komplek Makam Laksamana Keumalahayati juga sering dijadikan tempat melaksanakan khanduri. Biasanya masyarakat yang ingin mengadakan kenduri tinggal bawa bahan, belanga dan peralatan masak lainnya sudah tersedia di sana.

Bagi wisatawan yang ingin ziarah ke tempat pembaringan terakhir laksamana wanita pertama di dunia ini bisa datang setiap hari. Komplek makam akan buka dari pagi sampai sore. Tidak ada tiket masuk dan pungutan lainnya.

Semua bisa bebas keluar masuk komplek makam. Namun jangan lupa adab dalam mengunjungi sebuah makam, di antaranya memakai pakaian yang sopan dan menutupi aurat, tidak ria, dan segenap lainnya.
Bagi Anda yang ingin berkunjung jangan lupa hadiahkan satu dua kali Al Fatihah kepada pahlawan dari bumi serambi ini.[]

Photo Cover by Mustawazir