10 Top Kuliner Spektakuler di Banda Aceh

Cek list dulu kuliner ini sebelum meninggalkan Banda Aceh, barangkali ada yang terlewatkan.

By Rahmat Aulia

Satu hal penting yang harus kamu catat kalau ke Banda Aceh adalah mencicipi kulinernya. Banda Aceh surganya kuliner. Ragam jenis makanan dan minuman dijajakan di warung tradisional hingga restoran berbintang.

Keragaman kuliner di Banda Aceh tak terlepas dari kontribusi Kerajaan Aceh Darussalam yang membuka pintu bagi pedagang dari Arab, China, Eropa dan Hindia. Asimilasi dan akulturasi yang terjadi dengan warga keempat negara tersebut ikut mempengaruhi kuliner yang ada di Aceh.

Jika kamu mencicipi 10 kuliner khas ini, kamu akan menemukan kuliner Aceh dengan rasa, warna dan bentuknya mirip dengan kuliner di empat negara tersebut.

Kuah Beulangong (Kari Aceh)

Kuliner khas pertama ini selalu jadi primadona di tempat khanduri (pesta) seperti resepsi perkawinan, sunatan atau maulid. Dimasak dengan berbagai campuran rempah khas Nusantara seperti kelapa gongseng, kelapa giling, cabai merah, kering dan cabe rawit, bawang putih, jahe, kunyit, ketumbar gongseng, kemiri, dan lengkuas.

Kesemua bumbu tersebut digiling kemudian diaduk bersama daging sapi atau kambing. Kaldu dari daging menghasilkan aroma kari yang segera mengundang selera makan. Potongan buah nangka biasanya akan melengkapi kelezatan kuah beulangong.

Kamu bisa mendapatkannya di rumah makan khas Aceh dengan harga per porsi Rp20.000,- s,d Rp.25.000,-.

Ayam Tangkap


Ayam Tangkap adalah daging ayam yang dimasak dengan rempah-rempah seperti bawang merah, bawang putih, kunyit, garam, dan merica secukupnya. Rempah-rempah tersebut disatukan menjadi bumbu khusus yang nantinya diaduk bersama daging ayam.

Bukan sembarang ayam yang digunakan untuk membuat Ayam Tangkap. Ada pemasok khusus untuk rumah makan yang menyediakan menu yang satu ini. Biasanya warung menggunakan ayam kampung usia 5 – 6 bulan, sehingga dagingnya betul-betul lembut dan renyah.

Untuk menambah aroma, digunakan dedaunan seperti temurui atau salam koja, cabai hijau, dan daun pandan. Ketiga dedaunan itu disertakan dengan daging saat dalam penggorengan. Dedaunan ini juga tidak dibuang saat disajikan. Selain menampilkan daya tarik, dedaunan tersebut juga berfungsi sebagai lalapan kering pelengkap potongan ayam.

Ayam Tangkap bisa ditemukan di hampir seluruh rumah makan khas Aceh seperti RM Hasan, RM Khas Aceh Rayeuk dan lainnya. Satu porsi masakan khas Aceh ini berkisar antara Rp15.000,- s.d Rp20.000,-

Keumamah (Ikan Kayu)

Keumamah adalah ikan yang diolah dari ikan tongkol. Tongkol segar direbus hingga matang. Kemudian dibelah empat lalu dibuang tulang serta kepalanya, selanjutnya dijemur di bawah matahari hingga beberapa hari.

Keumamah disebut juga sebagai ikan kayu karena teksturnya yang keras seperti kayu. Dulu, ketika naik haji masih menggunakan kapal laut dan memakan waktu berbulan, keumamah menjadi andalan calon jamaah haji dari Aceh untuk dibawa sebagai lauk karena bisa tahan berbulan-bulan.

Jika ingin menikmatinya, Anda hanya perlu merogoh kocek antara Rp5.000,- s.d Rp10.000,- saja. Keumamah tersedia di hampir seluruh rumah makan di Banda Aceh.

Eungkot Bung

Eungkot Bung merupakan kata benda dalam bahasa Aceh yang berarti ikan hasil tangkapan dari sawah. Eungkot artinya ikan sementara Bung artinya sawah. Eungkot Bung atau dikenal juga Eungkot Paya merupakan istilah umum untuk menyebut beberapa ikan khas sawah (air tawar) seperti lele, gabus, mujair dan ikan betok.

Ikan ini biasanya dimasak berkuah dengan cita rasa keasam-asaman dan sedikit pedas. Eungkot Bung sangat cocok disantap dengan nasi yang masih mengepulkan asap ditambah segelas sirup timun merah.

Harga per porsi Rp10.000 s.d Rp20.000 (tergantung jenis dan ukurannya). Eungkot Bung biasanya hanya tersedia di rumah makan khas Aceh Rayeuk seperti RM Hasan, Cut Dek, dll.

Gule Pliek U


Kuliner ini berbahan utama Pliek U/Patarana, yaitu ampas minyak kelapa yang telah mengalami pengeringan dan pembusukan. Pliek U kemudian dimasak dengan gulai yang teridiri dari beragam sayur seperti daun ubi, buah pepaya, nangka, kacang panjang, daun dan buah melinjo, dan berbagai sayuran lainnya.

Dapatkan kuliner ini di rumah makan khas Aceh yang tersebar di Kota Banda Aceh. Harganya? Murah meriah saja. Bahkan dihitung gratis jika kamu tak memesannya secara khusus.

Mie Aceh

Mie Aceh memiliki cita rasa yang berkarakter. Bumbunya yang terbuat dari rempah-rempah meresap ke dalam mi. Belum lagi jika mi dimasak dengan campuran daging, udang, lobster atau sotong. Kuliner satu ini telah menyebar ke berbagai daerah di Indonesia. Satu porsi Mie Aceh dihargai mulai dari Rp.8000,- hingga Rp.45.000,-.

Untuk menikmatinya, kamu bisa bertandang ke Warung Mie Razali, Mie Lala atau Mie Firdaus di Peunayong. Bisa juga ke berbagai warung tradisional dan restoran lainnya di Banda Aceh.

Sie Reuboh

Kuliner yang satu ini berasal dari Aceh Besar, tetangga Banda Aceh. Sie Reuboh adalah daging yang dipotong persegi seukuran kotak korek api dan di masak dengan bahan dasar cuka.

Sie Reuboh juga bisa bertahan berbulan-bulan tanpa menggunakan bahan pengawet. Semakin lama kuliner yang satu ini didiamkan, cita rasanya akan semakin bertambah kuat dan lezat.

Untuk menyantapnya silhkan bertandang ke Rumah Makan Hasan, Lem Bakri dan beberapa rumah makan lainnya. Sie Reuboh biasa dijual dengan harga Rp20.000,- s.d Rp35.000,-.

Kopi Aceh

Aceh salah satu sentra penghasil kopi terbaik dunia. Dataran Tinggi Gayo merupakan andalan Aceh untuk menghasilkan buah kopi dengan cita rasa internasional, terutama kopi arabika.

Ragam jenis rasa kopi arabika dapat kamu cicipi di Kota Banda Aceh. Ada banyak warung kopi tradisional maupun modern yang menyajikan kopi robusta dan arabika. Cobalah kopi sanger bila ingin mendapatkan kesan kopi Aceh yang mendalam. Harganya antara Rp5.000,- s.d Rp 12.000,-

Kamu juga bsia mendapatkan bubuk kopi khas Aceh sebagai oleh-oleh. Hampir di semua toko yang menjual souvenir khas Aceh juga menjual kopi Aceh yang sudah dikemas sedemikian rupa.

Timphan


Kata orang Aceh, tidak sah rasanya jadi orang Aceh kalau belum pernah sekalipun menyantap timphan. Kue yang satu ini menjadi primadona di hampir seluruh warung kopi di Aceh. Bentuknya pipih, dibalut dengan daun pisang, panjang sekitar satu telunjuk orang dewasa dan bertekstur lembut serta kenyal. Pisang terbuat dari tepung yang biasanya diisi dengan kelapa parut atau sri kaya.

Penasaran? Langsung saja singgah di warung kopi yang ada di Aceh dan mintalah timphan sama pelayannya.

Kue Bhoi

Satu lagi kuliner khas Aceh tanpa pengawet tapi bisa tahan berbulan-bulan, yaitu Kue Bhoi. Kue khas Aceh yang menyerupai ikan koi ini dimasak dengan cara dipanggang. Dengan tekstur yang padat, kue  bhoi bisa membuat orang yang memakannya cepat kenyang. Paling enak dicicipi dengan kopi hitam atau teh manis.

Untuk mendapatkan kue bhoi, kamu bisa membelinya di Pasar Aceh atau di sentral kue tradisional Gampong Lampisang yang bersebelahan dengan rumah Cut Nyak Dhien. Bisa ditemui pula di beberapa warung kopi di Banda Aceh jika kamu beruntung. Satu kue bhoi biasa dihargai Rp1.000,- s.d Rp2.000,- saja.

Photo Cover by Mustawazir