Rumoh Aceh, Mitigasi Warisan Leluhur

Mahmud (70 tahun) bangga akan rumoh Aceh warisan mertuanya di Gampong Krueng Jangko, Kecamatan Glumpang Tiga, Kabupaten Pidie. Tak terhitung lagi entah berapa kali sudah digoyang gempa, tapi rumah yang ia tempati bersama isteri dan keluarganya itu, masih kokoh berdiri.

“Alhamdulillah tidak ada-apa,” katanya beberapa waktu lalu. Baginya rumah panggung itu bukan sekadar tempat tinggal. Kolong rumoh Aceh yang tanpa penghalang dan sejuk, sering dijadikan tempat santai bersama keluarga atau tetangga. Terlebih di siang hari, ketika matahari menyengat, kolong jadi pelindung.

Mahmud adalah satu dari sekian orang yang masih mempertahankan rumoh Aceh sebagai identitasnya. Keberadaan rumah adat Aceh kini terus menyusut, seiring banyak masyarakat yang beralih ke rumah beton dengan arsitektur modern.

Rumoh Aceh masih mudah ditemui di pedalaman dan sepanjang pantai utara dan timur Aceh. Di Krueng Jangko sendiri masih ada puluhan rumoh Aceh yang usianya sudah uzur. Tak ada rumoh Aceh baru yang dibangun di sana.

Memang masih ada masyarakat yang suka rela melestarikan rumoh Aceh, seperti di Gampong Lubok Sukon, Aceh Besar. Di sana ada puluhan rumoh Aceh yang dirawat dengan baik dan dijadikan sebagai destinasi wisata. Rumoh Aceh juga bisa ditemui di komplek Museum Negeri Aceh di Kota Banda Aceh dan komplek cagar budaya rumah Cut Nyak Dhien di Lampisang, Aceh Besar.

Menurut Helmi Hasan, tokoh masyarakat Cot Baroh, tetangga Krueng Jangko, sulitnya memperoleh kayu bermutu dan utoh (tukang ahli) menjadi sebab menyusutnya rumoh Aceh. Material kayu untuk pembangunan Rumoh Aceh, kata dia, biasanya diambil dari pohon yang sudah berusia di atas 60 tahun, sehingga bisa tahan hingga ratusan tahun. “Ini payah (sulit) dapat sekarang,” ujarnya.

Berikutnya tukang juga tak sembarang, harus memiliki nilai seni tinggi karena rumah kayu ini kaya ukiran dan dibangun tanpa menggunakan paku. Peletakan batu pertama biasanya dilakukan utoh berpengalaman pada tengah malam yang sunyi, lewat ritual khusus. Di sini, lanjut dia, sang utoh akan memanjatkan doa dan diisyarahkan agar “rumah ini menjadi pelindung bagi penghuninya dan bebas dari gangguan”.

Rumoh Aceh memiliki segudang keunggulan. Selain ramah bencana, rumah adat Aceh tersebut juga didesain dengan penuh aspek kesehatan, lingkungan, sosial dan filosofi keagamaan. Rumoh Aceh bentuknya persegi dengan 16 hingga 44 tiang penyangga, tergantung besar kecilnya ukuran rumah. Tiang ini berdiri jarang-jarang, sehingga kala banjir datang arusnya tak terhalang.

Dinding dan penahan anginnya berbentuk delta, dipenuhi ukiran-ukiran seni yang unik. Pintu masuknya rendah, sehingga siapa saja yang masuk harus menunduk, simbol penghormatan. Rata-rata rumoh Aceh berdiri menghadap kiblat, menyirat nilai Islami dan keimanan penghuninya.

Rumoh Aceh memiliki tiga bagian utama yakni; seuramoe keu (serambi depan) dan seuramoe likot (serambi belakang). Bagian tengah disebut rambat atau serambi tengah, letaknya lebih tinggi dari dua seuramoe tadi. Lantai tiap bagian ini berupa papan atau bambu. Masing-masing bagian ini memiliki fungsi tersendiri.

Serambi depan yang terdapat di ujung tangga atau pintu utama, biasanya digunakan untuk menerima tamu laki-laki, tempat beribadah dan mengaji anak-anak. Serambi belakang untuk tamu perempuan dan ruang keluarga. Sedang rambat, separuh disekat untuk tempat tidur.

Bagian bawahnya (kolong) dibiarkan lapang, untuk tempat bersantai keluarga, bermain anak-anak atau mengayun bayi. Di sini biasanya juga diletakkan jeungki (alat penumbuk tradisional) dan krong padee (penyimpan gabah). Kolong ini juga berfungsi untuk menyambut tamu, sebelum dipersilakan naik ke rumah.
Rumoh Aceh didesain untuk kenyamanan ekstra bagi penghuninya. Letaknya yang tinggi, menjadi tempat berlindung dari binatang buas yang dulu sering masuk kampung di malam hari.

Kesuciannya juga terjaga dari binatang bernajis seperti anjing dan babi. Kotoran najis juga mudah dibersihkan karena saat dicuci air akan jatuh ke bawah lewat celah lantai. “Kalau lantai semenkan merembes kemana-kemana,” ujar Helmi.

Tingkat kelembabannya terjaga. Udara yang masuk lewat fentilasi dan celah lantai menjaga kesejukan ruangan, sehingga berasa sejuk walau di siang hari dan relatif bebas dari nyamuk. Sumur dan toilet biasanya dibuat di luar rumah, sehingga lebih higenis.

Kontruksinya juga tahan banjir. Letaknya yang tinggi bisa melindungi penghuninya daru arus. Begitu pula dengan gempa, rumoh Aceh tergolong aman. Salah satu buktinya ketika gempa 9,2 skala richter melanda Aceh pada 26 Desember 2004. Rumoh Aceh luput dari kerusakan atau roboh.

Menurut Pengurus Bidang Khazanah Adat dan Budaya Majelis Adat Aceh (MAA), Tarmizi Abdul Hamid, rumoh Aceh adalah rumah mitigasi hasil karya nenek moyang, mengingat wilayah ini sering dilanda bencana terutama gempa.
“Kita sudah diperkenalkan sebenarnya oleh indatu-indatu kita dulu cara bersahabat dengan bencana, salah satunya ya lewat rumoh Aceh dan kearifan-kearifan lokal, tapi sekarang banyak dilupakan,” ujar kolektor manuskrip ini.

Menurutnya belum ada dalam sejarah bahwa gempa besar merobohkan rumoh Aceh. Selain gempa, rumoh Aceh juga didesain untuk memudahkan evakuasi saat kebekaran. Hal ini terlihat dari atap rumoh Aceh yang berupa daun rumbia diikat dengan tali rotan. “Saat kebakaran, tinggal digunting rotannya, atap itu akan rubuh semua, mudah menyelamatkan diri,” tutur Tarmizi.

Kenapa rumoh Aceh bisa tahan gempa? Secara analisis struktur, rumoh Aceh pernah diuji secara laboratorium melalui miniatur kecil dan perhitungan SAP 2000, hasilnya rumah adat ini mampu bertahan dari gempa karena struktur utama yang kokoh dan elastis.

Menurut Widosari (2010), dalam Local Wisdom-Jurnal Ilmiah Online “Mempertahankan Kearifan Lokal rumoh Aceh dalam Dinamika Pasca Gempa & Tsunami”, kunci kekokohan dan keelastisan ini adalah pada hubungan antar struktur utama yang saling mengunci, hanya dengan pasak dan bajoe, tanpa paku serta membentuk kotak tiga dimensional yang utuh (rigid).

Keelastisan ini menyebabkan struktur bangunan tak mudah patah, namun hanya terombang-ambing kanan kiri saat gempa, kemudian tegak atau bangunan terangkat ke atas (telikuifaksi), yang selanjutnya jatuh kembali ke tempat semula. Jika bangunan bergeser pun hanya beberapa centimeter saja, dan dalam keadaan utuh. “Sebuah pondasi batu utuh yang hanya ditanam sedikit (5 cm) juga memperlentur pergerakan keseluruhan bangunan sesuai dengan pergerakan tanah.”

Widosari berkesimpulan, tiga komponen struktur utama yang menjadi pusat kekokohan bangunan meliputi pondasi (komponen kaki) sebagai pusat beban bangunan besar, kemudian tiang dan balok antar tiang (badan) sebagai penyalur beban dari atas dan samping, serta rangka atap (kepala) sebagai penyangga beban elemen paling atas bangunan dari samping atas. [Salman Mardira]