Foto: Tradisi Meugang, Pasar Daging Ramai

Saban meugang, ada aktivitas lain yang tak biasa, pasar lebih ramai dengan lapak-lapak penjual daging yang hiasi pinggir jalan di depan toko-toko menjual aneka kebutuhan.

Meugang adalah tradisi di Aceh, yang tak dimiliki daerah lain. Tradisi ini biasanya dirayakan pada satu atau dua hari menjelang bulan suci Ramadan. Selain menyambut Ramadan, juga diperingati saat menyambut hari raya Idul Fitri dan Idul Adha.

Tak heran, banyak lapak daging dadakan muncul di sudut-sudut pasar. Di Banda Aceh, penjual daging bertebaran di kecamatan dan kampung; Ulee Kareng, Darussalam, Peunayong, Beurawe, Setui dan lainnya. Pagi, biasanya jalanan lowong dan keramaian berpusat di pasar.

Pemerhati sejarah Aceh, Tarmizi A Hamid mengatakan meugang tercatat dalam Qanun Al Asyi (Qanun Meukuta Alam) yang diterbitkan pada masa Kesultanan Aceh. Disebutkan dalam isi kitab itu, Sultan Aceh secara turun temurun memerintahkan Qadi Mua’zzam Khazanah Balai Silatur Rahmi untuk mengambil dirham, kain-kain, kerbau dan sapi dipotong di hari Meugang.

Selanjutnya, dagingnya dibagikan kepada kepada fakir miskin, dhuafa, orang lansa, buta. Selain daging, Sultan juga membagi uang dan kain enam hasta. Hadiah itu dibagikan oleh kepala desa (keuchik) di tempat masing-masing. “Sultan Aceh mmberi bantuannya kepada rakyatnya yang selalu dicintai,” sebut Tarmizi mengutip kitab masa kesultanan Aceh dipimpin oleh Iskandar Muda. [AW]