Menilik Seudati, Tarian Indatu

Tanggannya menghentak tegas, kakinya melangkah mundur dan maju. Dengan sedikit berjingkrat, dua telapak tangan menepuk bagian bawah dada. ‘Puk…’ bunyi terdengar serentak dari beberapa anak-anak sanggar yang sedang berlatih.

Abdullah Abdul Rahman, pelatih itu lalu memberikan aba-aba. Ibu jari beradu jari tengahnya. Bunyi ‘tik’ terdengar jelas, diikuti serentak oleh delapan muridnya. Berirama dengan lantunan yang keluar dari mulutnya, syair-syair nasehat. Jika ada yang tak serentak, Abdullah akan membimbing lagi para muridnya. Begitulah aktivitas sehari-hari Abdullah yang dikenal sebagai Syeh Lah Geunta saat melatih tari seudati.

Di Aceh, Syeh Lah Geunta adalah maestro seudati, yang didapat dari Kementerian Budaya dan Parawisata pada 2007 lalu. Umurnya sudah 67 tahun, tapi fisiknya masih terlihat segar. Namanya dikenal hampir di semua wilayah Aceh. Banyak murid yang lahir dari didikannya. ”Saya tidak menghitung berapa anak didik, tapi cukup banyak karena ada di seluruh aceh,” ujar pria kelahiran Bireuen itu, seperti ditulis Majalah Tempo, Juli 2010 lalu.

Aktivitasnya melatih seudati telah dilakukan ke seluruh penjuru Aceh, sebagai cara menurunkan ilmunya untuk generasi muda agar Tari Seudati tak sampai punah. Rumahnya di Idi Rayeuk pun dipakai sebagai tempat latihan. Sejumlah sanggar tari menjadi langganannya, seperti Komunitas Seudati Geunta Aceh, kemudian beberapa sanggar di kabupaten Aceh Utara dan Bireuen, Langsa dan penjuru Aceh lainnya.

Syeh Lah kerap di undang ke luar Aceh dan bahkan ke luar negeri. Misalnya tampil pentas di Medan, Jakarta dan Jogjakarta. Kemudian juga sempat pentas di Tokyo (Jepang), Amerika, Kuala Lumpur, Singapura, Spanyol.

Keseragaman gerak, kelincahan bermain dan ketangkasan yang menghentak membuat tari seudati awet menembus masa. Selama sebulan pernah dimainkan di sepuluh negara bagian Amerika.

Seudati adalah warisan para indatu Aceh. Selain Syeh Lah, para syeh seudati di Aceh yang terkenal adalah Syeh Lah Banguna, Syeh Rih Muda, Syeh Jafar, Syeh Muktar, T Abu Bakar, Alamsyah, Marzuki dan Nurdin Daud. Dua nama terakhir merupakan dosen dan koreografer tari seudati di Institut Kesenian Jakarta (IKJ).

Menelisik lebih jauh asal mula seudati berasal dari bahasa Arab; syahadati atau syahadatain yakni kesaksian atau pengakuan. Ada pula yang menafsirkan seudati dari kata seurasi yang bermakna harmonis atau kompak.

Seudati mulai dikembangkan sejak agama Islam masuk ke Aceh. Pendakwah Islam memanfaatkan tarian ini sebagai media dakwah. Pada mulanya seudati diketahui sebagai tarian pesisir yang disebut ratoh atau ratoih, yang artinya menceritakan.

Dalam ratoh diceritakan berbagai hal, dari kisah sedih, gembira, nasehat, sampai pada kisah-kisah yang membangkitkan semangat. Ulama yang mengembangkan agama Islam di Aceh umumnya berasal dari negeri Arab. Karena itu, istilah-istilah yang dipakai dalam seudati umumnya berasal dari bahasa Arab. Diantaranya istilah syeh yang berarti pemimpin, saman yang berarti delapan, dan syair yang berarti nyayian. Selain dimanfaatkan sebagai media dakwah, seudati juga menjadi pertunjukan hiburan untuk rakyat.

Seudati dimainkan oleh delapan orang laki-laki sebagai penari utama, terdiri dari satu orang pemimpin yang disebut syeh, satu orang pembantu syeh, dua orang pembantu di sebelah kiri yang disebut apeet wie, satu orang pembantu di belakang yang disebut apeet bak , dan tiga orang pembantu biasa. Selain itu, ada pula dua orang penyanyi sebagai pengiring tari yang disebut aneuk syahi.

Jenis tarian ini tidak menggunakan alat musik, tetapi hanya membawakan beberapa gerakan, seperti tepukan tangan ke dada dan pinggul, hentakan kaki ke tanah dan petikan jari. Gerakan tersebut mengikuti irama dan tempo lagu yang dinyanyikan. Bebarapa gerakan tersebut cukup dinamis dan lincah dengan penuh semangat. Namun, ada beberapa gerakan yang tampak kaku, tetapi sebenarnya memperlihatkan keperkasaan dan kegagahan si penarinya. Selain itu, tepukan tangan ke dada dan perut mengesankan kesombongan sekaligus kesatria.

Busana tarian seudati terdiri dari celana panjang dan kaos oblong lengan panjang yang ketat, keduanya berwarna putih; kain songket yang dililitkan sebatas paha dan pinggang; rencong yang disisipkan di pinggang; tangkulok (ikat kepala) yang berwarna merah yang diikatkan di kepala; dan sapu tangan yang berwarna. Busana seragam ini hanya untuk pemain utamanya, sementara aneuk syahi tidak harus berbusana seragam.

Bagian-bagian terpenting dalam tarian seudati terdiri dari likok (gaya; tarian), saman (melodi), irama kelincahan, serta kisah yang menceritakan tentang kepahlawanan, sejarah dan tema-tema agama.

Pada umumnya, seudati diperagakan di atas pentas dan dibagi menjadi beberapa babak, antara lain: Babak pertama, diawali dengan saleum (salam) perkenalan yang ucapkan oleh aneuk syahi saja, semisal:

Assalamualaikum Lon tamong lam seung,
Lon jak bri saleum keu bang syekh teungku….

Fungsi aneuk syahi untuk mengiringi seluruh rangkaian tari. Salam pertama ini dibalas oleh Syeh dengan langgam (nada) yang berbeda:

Kru seumangat lon tamong lam seung,
lon jak bri saleum ke jamee teuka….

Syair di atas diulangi oleh kedua apeet wie dan apeet bak. Pada babak perkenalan ini, delapan penari hanya melenggokkan tubuhnya dalam gerakan gemulai, tepuk dada serta jentikan jari yang mengikuti gerak irama lagu. Gerakan rancak baru terlihat ketika memasuki babak selanjutnya.

Bila pementasan bersifat perntandingan, maka setelah kelompok pertama ini menyelesaikan babak pertama, akan dilanjutkan oleh kelompok kedua dengan teknik yang berbeda.

Biasanya, kelompok pertama akan turun dari pentas. Babak kedua, dimulai dengan bak saman, yaitu seluruh penari utama berdiri dengan membuat lingkaran di tengah-tengah pentas guna mencocokkan suara dan menentukan likok apa saja yang akan dimainkan. Syeh berada di tengah lingkaran tersebut. Bentuk lingkaran ini menyimbolkan bahwa masyarakat Aceh selalu muepakat (bermusyawarah) dalam mengambil segala keputusan.

Dalam likok dipertunjukkan keseragaman gerak, kelincahan bermain dan ketangkasan yang sesuai dengan lantunan lagu yang dinyanyikan aneuek syahi. Seluruh penari utama akan mengikuti irama lagu yang dinyanyikan secara cepat atau lambat tergantung dengan lantunan yang dinyanyikan oleh aneuek syahi tersebut.

Fase lain adalah saman. Dalam fase ini beragam syair dan pantun saling disampaikan dan terdengar bersahutan antara aneuek syahi dan syeh yang diikuti oleh semua penari. Untuk menghilangkan rasa jenuh para penonton, setiap babak ditutup dengan formasi lanie, yaitu memperbaiki formasi yang sebelumnya sudah tidak beraturan.

Pakaian pemain seudati yang ketat membungkus tubuh-tubuh tegap, yakni baju tipis berlengan panjang dan celana panjang yang sempit, bukan saja dimaksud untuk memudahkan gerak dan loncatan, tapi juga untuk menonjolkan bentuk tubuh yang kokoh, tegap dan keras. Untuk memperindah pertunjukan, para pemain memakai tengkulok di kepala pemain dan lilitan kain di pinggang. Ini merupakan ciri khas tari seudati. Di pinggang para pemain diselip juga sebilah rencong sebagai lambang kejantanan.

Gerak berirama yang paling menonjol dalam seudati adalah tepukan dada yang menderap serentak sehingga mengeluarkan suara keras yang membahana, ketip jemari, jerak tangan yang seragam dan lantunan irama yang seirama dengan gegap gempita, membuat seudati menjadi tontonan yang sangat heroik, romantis dan indah.

Zaman dahulu, seudati merupakan hiburan paling utama bagi prajurit Aceh, terutama bila mereka sedang dipersiapkan untuk suatu pertempuran. Sebelum mereka bertolak ke garis depan pertempuran, beberapa malam diadakan pertunjukan seudati yang mengurai kisah-kisah kepahlawanan.

Begitulah seudati sebagai tarian kepahlawanan masyarakat Aceh yang terpelihara hingga kini. Semoga tak tergerus zaman. [Adi | Iskandar N]