Kolektor Pusaka Aceh

Ruangan hampir seluas lapangan voli, berisikan berbagai perhiasan kuno. Sebagian besar berumur lama, perhiasan masa kerajaan Aceh dulunya. Beberapa di antaranya adalah rencong Aceh, keping emas dan perak masa kerajaan dan berbagai nampan emas, perak dan tembaga.

Museum khusus pusaka peninggalan Aceh itu menjadi bagian depan rumah kolektornya, H Harun Keuchik Leumik. Kolektor ulung penjaga bukti kekayaan Aceh masa lalu itu, telah meraih berbagai penghargaan. Terakhir menerima “Banda Aceh Heritage Awards 2014” untuk kategori Penyelamat Warisan dan Budaya Aceh.

Tak kurang, 300 lebih jenis perhiasan kuno dikoleksinya. “Ini gelang dan kalung dari masa kerajaan Aceh dulu,” kata Harun, memandu saat saya menyambangi rumahnya, medio 2013 lalu.

Di museum itu, juga terdapat kain sutera Aceh, bekas stempel kerajaan Aceh, Al-Quran tulisan tangan dari abad 13, senjata tajam peninggalan kerajaan dan koin masa kerajaan Aceh. “Rencong dan siwah itu berhias emas, sebagian pusaka kerajaan dan ada juga yang kami rancang sendiri,” ujarnya.

Harun Keuchik Leumik lahir pada 19 September 1942, di Desa Lamseupeung, Banda Aceh. Dia lahir dari pasangan Zakaria dan Sapiah Yusuh. Ayahnya dikenal dengan Keuchik Leumik, karena pernah menjabat sebagai kepala desa dulunya di Lamseupeung.

Darah bisnis diturunkan dari ayahnya, yang mengelola toko dan kerajinan emas sejak tahun 1950-an. Ayahnya mampu memajukan usahanya. Harun mendapat ilmu langsung pada usaha bisnis perhiasan dan logam mulia.

Tahun 1978, usaha ayahnya mulai diturunkan pelan-pelan kepada Harun yang sempat mengecap ilmu di Fakultas Ekonomi, Universitas Syiah Kuala. “Ayah juga memberikan kepercayaan kepada saya,” ujarnya yang merupakan putra satu-satunya. Ayahnya meninggal dunia pada 2 Februari 1981, usaha diteruskan oleh Harun.

Beberapa kendala awalnya sempat dihadapi, bersaing dengan sesama pedagang lain. Harun terus senagat, dia mulai membangun jaringan dan berusaha mengikuti perkembangan informasi seputar harga emas dunia, termasuk informasi model perhiasan di pasaran dunia, seperti India, Dubai, Thailand dan Eropa. “Perlahan-lahan maju dan dikenal luas masyarakat,” katanya.

Harun juga punya hobby terhadap benda pusaka. Dia kemudian berburu emas dan perhiasan kuno lainnya, untuk dikoleksinya. Tujuannya untuk menyelamatkan benda peninggalan Aceh masa silam. “Kalau tidak kita yang menyelamatkan benda-benda pusaka, siapa lagi?”

Saat tsunami Desember 2004, tokonya lumpuh, tapi rumahnya tak tersentuh lidah air. Tokonya, seperti kebanyakan pertokoan lainnya di Pasar Aceh, sempat dijarah orang tak bertanggung jawab. Tapi beruntung, penjarah tak menemukan ruangan induk tempat menyimpan banyak perhiasan emas. Dia melihatnya pada hari ketiga tsunami. Harun kemudian kembali membenahi usahanya dan terus bangkit.

Selain pengusaha, Harun juga aktif di dunia jurnalis dan fotografi. Tulis menulis ditekuninya sejak tahun 1970-an dengan menjadi wartawan Mimbar Swadaya Banda Aceh, wartawan Harian Mimbar Umum, dan wartawan Harian Analisa yang masih ia tekuni sampai kini.

Karena dedikasinya melestarikan warisan adat budaya Aceh, Harun memperoleh Anugerah Derajah Kemuliaan (ADK) dari Majelis Adat Aceh (MAA), pada Januari 2012 lalu. MAA adalah salah satu lembaga pemerintahan di Aceh, yang berfungsi mengembangkan adat istiadat Aceh.

Saat itu Ketua MAA, Badruzzaman mengatakan karena kiprahnya, Harun layak mendapat anugerah tersebut. Anugerah ini juga sebagai pemicu bagi warga Aceh lainnya mengikuti langkah tokoh pers Aceh ini.

Pemerhati budaya dan sejarah Aceh, Adli Abdullah mengatakan Aceh sudah dikenal sejak dulu sebagai pulau emas. Banyak peninggalan kerajaan Aceh dulunya yang terbuat dari emas maupun perhiasannya. “Harun Keuchik Leumik adalah orang yang konsisten dalam menjaga warisan benda-benda budaya itu,” ujarnya.

Menurutnya, Harun bukan sekadar kolektor, tapi juga pedagang emas. Uniknya, dia juga konsisten dalam menjaga kualitas emas yang bagus di tokonya. Tokonya juga membuat perhiasan emas dengan rancangan yang melestarikan warisan Aceh. Misalnya, ada perhiasan emas yang berbentuk ‘Pinto Aceh’.

Selain benda pusaka, Harun Keuchik Leumik juga mempunyai koleksi yang lengkap foto-foto Banda Aceh zaman dulu, maklum Harun adalah wartawan sejak lama. Foto miliknya juga kerap dipinjam oleh Pemerintah Kota Banda Aceh dalam pameran-pameran. [Adi W | Sebagian isi tulisan pernah dimuat di Majalah Tempo English, edisi 30 Juni 2013]