Karakter Aceh dalam Hadih Maja

Hadih maja menyentil banyak hal, mulai dari falsafah hidup, karakter ke-Acehan, hingga persoalan-persoalan tabu dalam kehidupan.

Idiom sastrawi ini lahir dari ucapan orang-orang bijak di Aceh tempo dulu, kemudian terus berkembang dalam berbagai kegiatan masyarakat. Ada hal-hal menarik yang menjadi asbab penciptaannya.

Karakter Aceh dalam hadih maja selalu disandarkan pada hukum Islam, seperti dalam hadih maja; Adat bak Po teumeureuhom, hukom bak syiah kuala, qanun bak putroe phang, reusam bak laksamana. Hadih maja ini menunjukkan asimilasi dari segala cabang kehidupan yang menjadi falsafah hidup rakyat Aceh. Ini merupakan hadih maja yang sangat populer dalam masyarakat Aceh. Makna harfiyahnya adalah adalah:

Adat bak Po Teumeureuhom ditamsilkan kepada Sultan sebagai imam malikul adil yang mengepalai kerajaan, pemegang kekuasaan politik dan kepala pemerintahan (eksekutif).

Hukom bak Syiah Kuala disandarkan pada nama ulama, Syeikh Abdur Rauf As Singkili (Tgk Syiah Kuala), Mufti kerajaan atau Kadli Malikul Adil pemegang kekuasaan yudikatif. Jabatan ini layaknya seperti Mahkamah Agung dalam demokrasi modern.

Qanun bak Putro Phang, menegaskan kekuasaan rakyat dalam membuat undang-undang (legislatif). Disebutnya nama Putroe Phang sebagai lambang wakil rakyat, karena dialah yang mempelopori pembentukan Balai Majelis Mahkamah Musyawarah Rakyat. Lembaga legislatif yang diisi oleh wakil-wakil rakyat dari berbagai daerah federasi kerajaan Aceh.

Reusam bak Laksamana menegaskan kekuasaan dalam keadaan darurat berada di tangan Menteri Peperangan (Wazirul Harb) yang disebut sebagai Laksamana. Hadih maja ini dengan jelas memberikan pembagian kekuasaan dalam pemerintahan Kerajaan Aceh.

Pembagian kekuasaan tadi, diikat oleh hadih maja lain yang menjadi koridor penerapannya, yakni pada hadih maja; adat ngon hukom lagei zat ngon sifeut, syit ka hanjeut meupisah dua. Maknanya, kekuasaan politik dengan hukum Islam tidak bisa dipisahkan dalam menjalankan roda pemerintahan.

Hadih maja ini juga menegaskan bahwa antara Sultan selaku imam malikul adil yang memegang kekuasaan politik, tidak boleh dipisahkan dengan Kadli Malikul Adil (Mufti) selaku pemegang kekuasaan yudikatif. Keduanya menyatu sepereti zat dan sifat.

Hadih maja juga menjadi koridor dalam bersikap bagi masyarakat Aceh. Karakter Aceh digambarkan dalam beberapa hadih maja, di antaranya tentang hal-hal yang tabu untuk dilakukan, misalnya menyentuh dagu dan kepala. Bagi orang Aceh itu pantang dilakukan, karena bermakna pelecehan.

Ini digambarkan dalam hadih maja; pantang ureuéng Aceh, ta carôt ta teunak, ta trom ta sipak, ta pèh uleè ta cukèh keuéng, sinan ureuéng lè binasa. Juga pantang bagi orang Aceh membawa -bawa nama keluarga dalam urusan tertentu, apalagi dalam hal-hal yang tidak baik.

Jangan menyinggung keluarga seseorang bila tidak ingin menghadapi masalah. Tentang ini digambarkan dalam hadih maja yang sama dengan yang di atas tapi dengan versi akhir yang berbeda yakni: pantang ureuéng Aceh, ta carôt ta teunak, ta trom ta sipak, ta teuöh bièk ngôn bangsa, nyan pih pantang raya.

Dalam bersikap, orang Aceh juga pantang plin-plan. Tentang ini ada beberapa versi hadih maja yang menjelaskannya seperti: meunyö krèuh beu butoi krèuh, beulageè kayeè jéut keu tamèh rumöh, meunyö leumöh beu butöi leumöh, beulageè taloë peuikat bubông rumöh. Lebih tegasnya lagi diungkapkan dalam hadih maja singèt bèk, röe bah beu abèh atau hadih maja nibak crah, leubèh gét beukah.

Hadih maja juga mengajarkan seseorang untuk mengetahui kadarnya dalam kehidupan. Seseorang tidak boleh membuang kadarnya (bèk bèoh kada) sebaliknya juga pantang bersikap yang bukan kadarnya (bèk seunöh kada). Intinya, seorang rakyat biasa harus tahu diri untuk tidak bersikap seperti raja, bèk lageè si deuék keu bu, si hansép breuh bu, si hantrôk napsu.

Selain itu pantang bagi seseorang melanggar adat peninggalan leluhur (endatu). Pelanggaran terhadap hukum adat akan membuat orang tersebut terkucilkan. Tentang ini tersurat dalam hadih maja böh malairi iè pasan surôt, adat datôk nini, han jeut ungki, beutaturôt. [Iskandar Norman | Tabloid Aceh 2]