Ulama Aceh Yang Menulis Kitab Al Muhtadi Adalah?

0 Comments

Ulama Aceh Yang Menulis Kitab Al Muhtadi Adalah
BANDA ACEH Masyarakat Aceh menggelar 480 tahun hubungan Aceh dan Turki di wilayah, Gampong Mulia, Banda Aceh. Pemilihan tempat ini dilakukan karena masyarakat Aceh ingin mengapresiasi jasa ulama keturunan Turki Syekh Baba Daud Rumi yang telah berkontribusi dalam menyebarkan Islam.

  • Nama lengkapnya adalah Baba Daud Al-Jawiy bin Isma’il bin Agha Mushthafa bin Agha Ali Ar-Rumi.
  • Wali Kota Banda Aceh Aminullah Usman mengatakan Syekh Baba Daud Rumi merupakan ulama besar yang memberikan pengaruh besar bagi peradaban Islam di Aceh.
  • Meski generasi saat ini tidak pernah bertemu langsung dengannya, tapi sosok yang lebih dikenal dengan Teungku Di Leupu tersebut merupakan guru bagi masyarakat Aceh,” kata dia dalam perayaan tersebut.

Siapa Baba Daud Rumi? Mehmet Ozay dalam tulisannnya “Rumi’ Networks of al-Sinkīlī: A Biography of Bāba Dāwud” di jurnal internasional Studi Islamika, yang berpusat di Jakarta, mengatakan Baba Daud Rumi diyakini hidup di Aceh antara tahun 1650 hingga 1750 masehi.

Menurut akademisi Turki ini, Baba Daud Rumi hidup selama masa Kesultanan Aceh Darussalam pada abad ke-16 dan 17. Baba Daud Rumi, kata Ozay, adalah murid utama ulama kenamaan Aceh Syeikh Abdurrauf as-Singkili atau Teungku Syiah Kuala. Salah satu karya tersohor Baba Daud Rumi, kata Ozay, adalah Risalah Masailal Muhtadi Li Ikhwan al-Mubtadi yang diajarkan di lembaga-lembaga Islam di Aceh dan di seluruh dunia Melayu.

Direktur Rumoh Manuskrip Aceh Tirmizi Abdul Hamid adalah orang yang masih menyimpan sejumlah manuskrip asli Baba Daud Rumi, salah satunya Masailal Muhtadi. Tarmizi menyampaikan kitab Masailal Muhtadi dikarang oleh Baba Daud Rumi pada 1691 masehi dan tersebar luas di dunia Melayu saat itu.

  1. Itab ini ditulis dengan Bahasa Arab Melayu atau Jawi yang menjelaskan akidah, dasar-dasar ibadah, dan hukum fikih.
  2. Itab ini sangat terkenal hingga Malaysia, Thailand, dan Afrika Selatan,” ujar Tarmizi kepada Anadolu Agency di Banda Aceh.
  3. Tarmizi mengatakan Baba Daud Rumi adalah murid kesayangan ulama besar Aceh Syeikh Abdurrauf as-Singkili atau akrab disebut Tengku Syiah Kuala yang hidup antara tahun 1615-1693.
You might be interested:  Cempaka Kuning Michelia Cempaca L Yang Terdapat Di Aceh?

Oleh karena itu, kata dia, As-Singkili memberikan Baba Daud Rumi kesempatan untuk mendirikan dayah atau pesantren di Banda Aceh. Dayah Leupeue Peunayong, kata Tarmizi, adalah sebuah dayah terkemuka di Aceh di mana Baba Daud bertugas sebagai pengajarnya.

Jadi beliau sangat terkenal di Aceh,” kata dia. Baba Daud Rumi, kata Tarmizi, juga membantu menulis naskah kitab tafsir karangan As-Singkili yang berjudul Turjuman al-Mustafid. Turjuman al-Mustafid merupakan kitab tafsir al-Qur’an pertama dan terlengkap yang ditulis di dunia Melayu, dalam bahasa Melayu.

Saat itu, kata Tarmizi, bahasa Melayu menjadi Bahasa internasional di kawasan Asia Tenggara. “Kitab ini telah berperan penting dalam peningkatan pemikiran Islam didunia Melayu,”jelas dia. Karya lain Baba Daud Rumi, kata Tarmizi, adalah Asrar Al Suluk Ila Malik Al-Muluk yang berisikan ajaran tasawuf, tarikat, dan zikir.

Siapa penulis kitab al Muhtadi?

Penyebar Islam di Nusantara tidak hanya didominasi oleh pedagang, tetapi juga ulama/wali, sufi pengembara (faqir), raja-raja pribumi (sultan), pemimpin tarekat, seniman, sastrawan-budayawan, tabib, guru, dai, pengarang, dan lain-lain. Islamisasi di Sumatera juga disebarkan melalui sastra, sesuatu yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat Melayu.

Itab Masa’il al Muhtadi dikarang oleh Baba Daud Rumi, pada 1691 Masehi dan tersebar luas di dunia Melayu saat itu. Beliau adalah seorang ulama Aceh keturunan Turki yang yang kuburannya berada di Banda Aceh. Kitab ini ditulis dengan Bahasa Arab Melayu atau Jawi yang menjelaskan akidah, dasar-dasar ibadah, dan hukum fikih berdasarkan mazhab Syafi’i.

You might be interested:  Kapan Berdirinya Kerajaan Aceh?

Dengan demikian, kitab Al Muhtadi peninggalan kerajaan Aceh dikarang oleh Baba Daud Rumi.

Ulama besar penulis kitab al Muhtadi yang dikirim langsung oleh Sultan Tahlil untuk belajar ilmu agama di Mekah adalah?

Kitab ini ditulis oleh ulama besar asal Banjar, Kalimantan, Syekh Muhammad Arsyad al -Banjari.

Apa yang dimaksud dengan al Muhtadi?

Al – Muhtadi (bahasa Arab: المهتدي) (m. Juni 870) ialah khalifah Bani Abbasiyah di Baghdad dari 869 hingga 870. Setelah kematian al -Mu’tazz, orang Turki memilih sepupunya Al Muhtadi bin Al Watsiq dari gadis budak Yunani, sbg khalifah baru.

Siapakah Raja Aceh yang membangun Masjid Baiturrahman?

KBRN, Banda Aceh: Masjid Raya Baiturrahman yang berlokasi di pusat Ibukota Provinsi Aceh, tak hanya terkenal akan keindahan dan kemegahan arsitekturnya yang memukau. Sejarah yang dimiliki masjid ini telah menjadikannya sebagai simbol agama, budaya, dan pejuangan rakyat Aceh.

Masjid Raya Baiturrahman, didirikan pada tahun 1612 masa kekuasaan Sultan Iskandar Muda. Sumber sejarah lain menyebutkan masjid ini dibangun lebih awal pada Tahun 1292 oleh Sultan Alaudin Mahmudsyah. Sejarawan Aceh, Drs Nabhani AS menjelaskan pada zaman penjajahan Belanda, Masjid Raya Baiturrahman pernah dibakar Agresi Militer yang dipimpin Jenderal Van Swieten tahun 1873.

Memasuki bagian dalam ruang utama masjid, terlihat tiang-tiang penyangga kokoh berwarna putih, dan hamparan ruangan berlantai marmer dengan warna senada. Tampak beberapa lampu gantung perunggu menambah kesan autentik. Pintu kayu berukuran besar dengan ukiran dan ornamen yang menghiasinya menambah megah tampilan mesjid.

  1. Menurut Nabhani, keseluruhan arsitektur masjid mengalami akulturasi dari beberapa gaya arsitektur dari beberapa negara.
  2. Sejak dulu, masjid Raya Baiturraman tidak hanya diperuntukkan sebagai tempat ibadah saja, tetapi juga sebagai pusat pendidikan dan perdaban ilmu agama islam.
  3. Nabhani menambahkan Masjid Raya Baiturrahman telah mengalami beberapa kali renovasi dan perluasan.
You might be interested:  Sejarah Kota Banda Aceh?

Masjid Raya Baiturrahman berdiri di lahan seluas 31.000 meter persegi. Dengan luas bangunan sekitar 4.000 meter persegi, diperkirakan mampu menampung sebanyak 13.000 jamaah. Perwakilan Unit Pelaksanaan Teknis Daerah (UPTD) Pengelola Masjid Raya Baiturrahman, Saifan Nur, S.Ag, M.Si menyebutkan perawatan dan pemeliharan sarana dan prasarana Masjid Raya Baiturrahman dilakukan secara berkala.

Tak hanya sejarah perlawanan Belanda, Masjid Raya Baiturrahman juga menjadi saksi bagaimana pergolakan tuntutan referendum oleh ribuan rakyat Aceh. Masjid Raya Baiturrahman juga menjadi saksi dahsyatnya bencana tsunami pada 26 Desember 2004. Meski diterjang gelombang, masjid kebanggaan rakyat Aceh ini masih kokoh berdiri.

Kini, Masjid Raya Baiturrahman tampil dengan replika payung-payung yang menyerupai Masjid Nabawi di Arab Saudi, yang menambah keindahan dan kemegahannya. Mesjid Raya Baiturrahman menjadi salah satu destinasi wisata religi wajib yang senantiasa menarik wisatawan dari dalam maupun luar negeri.