Siasat Yang Dipakai Belanda Dalam Menghadapi Perang Aceh?

0 Comments

Siasat Yang Dipakai Belanda Dalam Menghadapi Perang Aceh
1881-1896 – Dalam Perang Aceh, taktik perang gerilya dilakukan mulai 1881 dan terus berlanjut hingga 1903. Baca juga: Perang Aceh: Penyebab, Tokoh, Jalannya Pertempuran, dan Akhir Siasat Yang Dipakai Belanda Dalam Menghadapi Perang Aceh tribunnewswiki.com Perang Aceh 1873 yang terjadi setelah ditandatanganinya perjanjian atau Traktat Sumatera 1871 Pada 1881, pasukan Aceh dipimpin oleh Teuku Umar bersama dengan Panglima Polim dan Sultan melawan Belanda dengan cara bergerilya. Teuku Umar pada saat itu berpura-pura bekerja sama dengan Belanda agar bisa mendapatkan senjata mereka.

  1. Sementara itu, pada 1883, Gubernur Hindia Belanda Van Teijn juga melakukan hal yang sama, yakni berusaha memanfaatkan Teuku Umar untuk bisa mendapat simpati dari rakyat Aceh.
  2. Sewaktu Teuku Umar berpura-pura bekerja sama dengan Belanda, ia berhasil menundukkan pos-pos pertahanan Belanda di Aceh.
  3. Teuku Umar terus berpura-pura demi mendapat peran yang jauh lebih besar di hati Belanda.

Dengan gaya yang sangat meyakinkan, Umar berhasil menaklukkan Belanda. Bahkan keinginannya untuk menambah panglima sebanyak 17 orang dan 120 prajurit dituruti oleh Belanda. Baca juga: Biografi Teuku Umar, Pejuang dari Aceh Tanpa disadari, Teuku Umar sudah berhasil mengumpulkan banyak pasukan untuk melawan Belanda.

  • Pada 1884, Teuku Umar berlabuh ke Aceh Barat dengan membawa 32 orang tentara Belanda, yang kabarnya telah dibunuh di tengah laut.
  • Tidak hanya itu, dikabarkan juga bahwa seluruh senjata dan perlengkapan tentara Belanda telah dirampas oleh Teuku Umar.
  • Setelah persenjataan terkumpul, Teuku Umar membagikan hasil rampasannya kepada para pejuang Aceh dan bersiap melawan Belanda.

Menghadapi kekuatan perlawanan Teuku Umar dan pasukannya, Belanda pun mulai kewalahan. Belanda sendiri berusaha menghadapi tentara Aceh dengan menerapkan strategi konsentrasi stelsel, yakni memusatkan pasukan supaya bisa lebih terkumpul. Namun, taktik itu dirasa masih belum cukup efektif, sehingga Belanda kembali menerapkan strategi baru dengan mendatangkan Snouck Hurgronje untuk memelajari sistem sosial penduduk Aceh.

Contents

You might be interested:  Apa Nama Rumah Suku Aceh?

Apa yang dimaksud dengan Perang Aceh-Belanda?

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Perang Aceh (1873-1915)
Panglima besar angkatan perang Belanda, Jenderal J.H.R. Kohler tewas ditembak oleh penembak jitu Aceh pada tahun 1873
Tanggal 1873-1915 Perlawanan sporadis berlanjut hingga 1942
Lokasi Kesultanan Aceh dan Wilayah perlindungan Kesultanan Aceh
Hasil
  • Sultan Aceh menyerah dan Kesultanan Aceh dibubarkan
  • Belanda menguasai Aceh
  • Kekuasaan Uleebalang dipulihkan
  • Dibentuknya Karesidenan Aceh beserta daerah taklukannya (Atjeh en Onderhoorigheden).
Perubahan wilayah Wilayah Aceh menjadi bagian dari Hindia Belanda

/td> Pihak terlibat Belanda

Tentara Kerajaan Hindia Belanda (KNIL)

Kesultanan Aceh Mujahidin Aceh Tokoh dan pemimpin Johan Köhler † Jan van Swieten Johannes Pel † Karel van der Heijden ( WIA ) Henry Demmeni (DOW) Jan Jacob Karel de Moulin † Gotfried van Daalen Johan Cornelis van der Wijck Johannes Benedictus van Heutsz Sultan Mahmud Syah Sultan Muhammad Daud Syah Tuanku Hasyim Banta Muda Teuku Imeum Lueng Bata Habib Abdurrahman Az-Zahir Panglima Polem Teungku Chik di Tiro (KIA) Habib Teupin Wan Teuku Umar (KIA) Cut Nyak Dhien Cut Meutia (KIA) Teungku Fakinah Pocut Meuligoe Kekuatan 3,000 (Ekspedisi Pertama) 13,000 (Ekspedisi Kedua) 12,000 KNIL dari Eropa (1903) 23,000 KNIL Pribumi 200.000+ mujahidin Aceh Korban 37,000 terbunuh (termasuk kolera) 60–70,000 terbunuh (termasuk kolera) 10,000 mengungsi

Perang Aceh–Belanda atau disingkat Perang Aceh adalah perang Kesultanan Aceh melawan Belanda dimulai pada 1873 hingga 1915,

Apa yang dimaksud dengan perang antara Kesultanan Aceh dan Belanda?

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Perang Aceh (1873-1915)
Panglima besar angkatan perang Belanda, Jenderal J.H.R. Kohler tewas ditembak oleh penembak jitu Aceh pada tahun 1873
Tanggal 1873-1915 Perlawanan sporadis berlanjut hingga 1942
Lokasi Kesultanan Aceh dan Wilayah perlindungan Kesultanan Aceh
Hasil
  • Sultan Aceh menyerah dan Kesultanan Aceh dibubarkan
  • Belanda menguasai Aceh
  • Kekuasaan Uleebalang dipulihkan
  • Dibentuknya Karesidenan Aceh beserta daerah taklukannya (Atjeh en Onderhoorigheden).
Perubahan wilayah Wilayah Aceh menjadi bagian dari Hindia Belanda

/td> Pihak terlibat Belanda

Tentara Kerajaan Hindia Belanda (KNIL)

Kesultanan Aceh Mujahidin Aceh Tokoh dan pemimpin Johan Köhler † Jan van Swieten Johannes Pel † Karel van der Heijden ( WIA ) Henry Demmeni (DOW) Jan Jacob Karel de Moulin † Gotfried van Daalen Johan Cornelis van der Wijck Johannes Benedictus van Heutsz Sultan Mahmud Syah Sultan Muhammad Daud Syah Tuanku Hasyim Banta Muda Teuku Imeum Lueng Bata Habib Abdurrahman Az-Zahir Panglima Polem Teungku Chik di Tiro (KIA) Habib Teupin Wan Teuku Umar (KIA) Cut Nyak Dhien Cut Meutia (KIA) Teungku Fakinah Pocut Meuligoe Kekuatan 3,000 (Ekspedisi Pertama) 13,000 (Ekspedisi Kedua) 12,000 KNIL dari Eropa (1903) 23,000 KNIL Pribumi 200.000+ mujahidin Aceh Korban 37,000 terbunuh (termasuk kolera) 60–70,000 terbunuh (termasuk kolera) 10,000 mengungsi

Perang Aceh–Belanda atau disingkat Perang Aceh adalah perang Kesultanan Aceh melawan Belanda dimulai pada 1873 hingga 1915,

Siapa yang memimpin Perang Aceh pertama?

Periode – Perang Samalanga pertama pada tanggal 26 Agustus 1877. Panglima besar Belanda, Mayor Jenderal Karel van der Heijden kembali ke pasukannya setelah mendapatkan perawatan pada matanya yang tertembak Perang Aceh Pertama (1873-1874) dipimpin oleh Panglima Polim dan Sultan Mahmud Syah melawan Belanda yang dipimpin Köhler,

  • Öhler dengan 3000 serdadunya dapat dipatahkan, di mana Köhler sendiri tewas pada tanggal 14 April 1873,
  • Sepuluh hari kemudian, perang berkecamuk di mana-mana.
  • Yang paling besar saat merebut kembali Masjid Raya Baiturrahman, yang dibantu oleh beberapa kelompok pasukan.
  • Ada di Peukan Aceh, Lambhuk, Lampu’uk, Peukan Bada, sampai Lambada, Krueng Raya.

Beberapa ribu orang juga berdatangan dari Teunom, Pidie, Peusangan, dan beberapa wilayah lain. Perang Aceh Kedua (1874-1880). Pasukan Belanda dipimpin oleh Jenderal Jan van Swieten, Belanda berhasil menduduki Keraton Sultan, 26 Januari 1874, dan dijadikan sebagai pusat pertahanan Belanda.

Pada 31 Januari 1874 Jenderal Van Swieten mengumumkan bahwa seluruh Aceh jadi bagian dari Kerajaan Belanda, Ketika Sultan Machmud Syah wafat 26 Januari 1874, digantikan oleh Tuanku Muhammad Dawood yang dinobatkan sebagai Sultan di masjid Indrapuri, Perang pertama dan kedua ini adalah perang total dan frontal, di mana pemerintah masih berjalan mapan, meskipun ibu kota negara berpindah-pindah ke Keumala Dalam, Indrapuri, dan tempat-tempat lain.

Perang ketiga (1881-1896), perang dilanjutkan secara gerilya dan dikobarkan perang fi sabilillah, Di mana sistem perang gerilya ini dilangsungkan sampai tahun 1903. Dalam perang gerilya ini pasukan Aceh di bawah Teuku Umar bersama Panglima Polim dan Sultan.

Apa yang dimaksud dengan Perang Aceh pertama?

PERANG ACEH – SIASAT LICIK Dr. Christiaan Snouck Hurgronje YANG TAKLUKAN ACEH

Rencana cepat Belanda mengamankan seluruh wilayah Sumatera terganjal di wilayah Aceh. Kerasnya perjuangan rakyat, serta medan yang asing membuat orang-orang dari Benua Biru ini harus rela mengalihkan seluruh fokusnya ke sana. Tentu bukan perkara mudah.

  • Urangnya informasi tentang daerah tersebut benar-benar membuat Belanda kewalahan.
  • Terbukti ketika pasukan tempur Belanda melakukan serangan ke wilayah itu pada 1873 –dikenal sebagai Perang Aceh Pertama.
  • Di bawah pimpinan Panglima Polim dan Sultan Mahmud Syah, rakyat Aceh berhasil memukul mundur J.H.
  • Ohler dan ribuan pasukannya.

Mereka yang selamat kocar-kacir meninggalkan Aceh, sementara Kohler sendiri tewas dalam upaya pendudukan tersebut. Kehilangan muka pada percobaan pertama membuat Belanda kembali merapatkan barisan di tahun berikutnya. Dalam penelitian Arndt Graf, dkk dalam Aceh: History, Politics, dan Culture, para pemimpin Belanda bersikeras menguasai wilayah Aceh yang strategis bagi kepentingan dagang mereka.

Serangan besar pun disiapkan. Kekuatannya diperkirakan tiga kali lipat dari pendaratan yang pertama. “Kehilangan muka itulah hendak ditebusnya dengan segala keangkaramurkaan dan cara-cara yang jauh dari peri kemanusiaan, bahkan juga melanggar hukum internasional sendiri,” tulis Mohammad Said dalam Aceh Sepanjang Abad Jilid Kedua,

Namun Belanda harus menghadapi kenyataan bahwa persiapan perang rakyat Aceh begitu matang. Bagian pantai utara dan timur yang biasa menjadi tempat masuk kapal-kapal ke wilayah tersebut dijaga dengan sangat baik. Begitu pula jalur darat di selatan dan pantai barat yang tidak kalah ketat penjagaan dari pasukan kerajaan Aceh.