Raja Yang Memimpin Di Kerajaan Aceh Darussalam Yakni?

0 Comments

Raja Yang Memimpin Di Kerajaan Aceh Darussalam Yakni
Kesultanan Aceh mengalami masa ekspansi dan pengaruh terluas pada masa kepemimpinan Sultan Iskandar Muda (1607 – 1636) atau Sultan Meukuta Alam.

Bagaimana awal berdirinya Kerajaan Aceh?

Jakarta – Kerajaan Aceh merupakan sejarah Kerajaan Islam di Indonesia yang berdiri di provinsi Aceh. Kerajaan Aceh disebut juga Kesultanan Aceh. Kesultanan Aceh didirikan oleh Ali Mughayat pada 1496 M. Pada awalnya Kesultanan Aceh sudah ada lebih awal dari Samudera Pasai.

  • Setelah mengambil alih Samudera Pasai pada 1524 M, Kesultanan Aceh menjadi penguasa baru di wilayah Aceh.
  • Berikut ini 5 Fakta Kerajaan Aceh yang telah dirangkum detikTravel: 1.
  • Sejarah Kerajaan Aceh Awal mula berdirinya Kerajaan Aceh yaitu pada 1496 yang berdiri di wilayah Kerajaan Lamuri yang lebih dulu ada.

Kemudian Kerajaan Aceh melakukan perluasan wilayah dengan menundukan beberapa wilayah di sekitar kerajaan, seperti wilayah Kerajaan Dayak, Kerajaan Pedir, Kerajaan Lidie, dan Kerajaan Nakur. Pada Kerajaan Aceh, pemimpin tertinggi berada pada penguasaan Sultan.

  • Namun pada saat itu Kerajaan Aceh banyak dikendalikan oleh orang kaya.
  • Dalam cerita Aceh, disebutkan ada Sultan yang diturunkan dari jabatannya yang bernama Sultan Sri Alam pada 1579 karena perilakunya yang membagikan harta kerajaan pada pengikutnya.
  • Lalu digantikan oleh Sultan Zainal Abidin, namun Sultan Zainal terbunuh setelah beberapa bulan dinobatkan.

Hal ini disebabkan karena sifatnya yang kejam dan memiliki kecanduan dalam hal berburu. Setelah peristiwa terbunuhnya Sultan Zainal, digantikan oleh Alaiddin Riayat. Namun pada kepemimpinanya ia melakukan penumpasan terhadap orang kaya yang berlawanan pada sistem kepemimpinannya.

Masa kejayaan Kesultanan Aceh terjadi pada kepemimpinan Sultan Iskandar Muda pada 1607-1636. Aceh berhasil menaklukan Wilayah Pahang, karena wilayah tersebut merupakan sumber utama timah. Selanjutnya pada 1629, Kesultanan Aceh melakukan perlawanan, dengan menyerang Portugis di wilayah Malaka. Upaya ini dilakukan untuk melakukan perluasan dominasi Aceh atas Selat Malaka dan semenanjung Melayu, namun ekspedisi ini gagal.2.

You might be interested:  Siasat Yang Dipakai Belanda Dalam Menghadapi Perang Aceh?

Kondisi Perekonomian Kerajaan Aceh terletak di jalur lalu lintas pelayaran dan perdagangan Selat Malaka. Kerajaan Aceh fokus pada laju perkembangan ekonomi pada bidang perdagangan. Pada saat pemerintahan Sultan Alaudin Riayat, Aceh mengalami perkembangan menjadi Bandar utama di Asia bagi para pedagang mancanegara seperti, Belanda, Inggris, Arab, Persia dan Turki.

Dagangan utama yang diperdagangkan dari Aceh yaitu lada, beras, barang tambang seperti, timah, perak, emas, lalu ada rempah-rempah yang berasal dari Maluku. Serta di wilayah Aceh terdapat pedagang mancanegara yang menawarkan barang dagangan, dalam hal ini bisa disebut terjadi proses impor. Misalnya produk porselin dan sutera yang dibawa dari Jepang dan China.3.

Kondisi Kehidupan Politik Akibat jatuhnya Malaka ke tangan Portugis, banyak pedagang muslim yang kemudian mengalihkan kegiatan perdagangan ke Pelabuhan Aceh. Karena itu Aceh menjadi kerajaan besar yang ditunjang oleh kemampuan militer dan ekonomi yang kuat.

Berapa jumlah raja di Aceh Darussalam?

8. Raja-Raja yang Lain – Seperti yang mungkin telah kamu baca sebelumnya, pernikahan Sultan Iskandar Tsani dan Sultanah Safiatuddin tidak mendapatkan keturunan. Maka dari itu, sang sultanah mempersiapkan beberapa anak angkatnya untuk mewarisi tahta kerajaan.

  • Mereka adalah Naqi Al-Din Nur al-Alam, Zaqi al-Din Inayat Syah, dan Kamalat Syah Zinat al-Din.
  • Ya, ketiganya adalah perempuan dan konon tidak memiliki hubungan darah dengan sultanah.
  • Setelah Sultanah Safiatuddin wafat, singgasana Kerajaan Aceh Darussalam kemudian diteruskan oleh Sri Ratu Naqi al-Din Nur al-Alam.

Tidak banyak yang dapat dikulik dari pemerintahan sultanah yang satu ini. Hanya saja, ia cukup lama memerintah dari tahun 1675 sampai 1678. Dua periode kekuasaan selanjutnya juga masih dipegang oleh perempuan. Pada tahun 1678 hingga 1688, silsilah Kerajaan Aceh Darussalam diteruskan oleh Sri Ratu Zaqi al-Din Inayat Syah.

You might be interested:  Siapa Pemimpin Perlawanan Rakyat Aceh Terhadap Jepang?

Setelah itu, baru Sri Ratu Kamalat Syah Zinat al-Din yang menjabat sebagai sultanah. Ia resmi menjadi ratu pada tahun 1688. Masa jabatannya cukup lama yaitu sampai 1699. Sepeninggal Sri Ratu Kamalat Syah, pemerintahan Kerajaan Aceh Darussalam jatuh ketangan Sultan Badr al-Alam Syarif Hashim Jamal al-Din.

Ia memrintah pada tahun 1699 hingga 1702. Selanjutnya, masih ada tujuh belas raja lagi yang meneruskan tonggak kepemimpinan kerajaan tersebut. Baca juga: Informasi Lengkap Mengenai Silsilah Raja-Raja yang Memimpin Mataram Kuno