Plakat Pendek Yang Terpaksa Ditandatangani Sultan Aceh Berisi?

0 Comments

Plakat Pendek Yang Terpaksa Ditandatangani Sultan Aceh Berisi
KOMPAS.com – Plakat Pendek atau Korte Verklaring adalah surat pendek atau perjanjian yang ditandatangani oleh para pemimpin Aceh pada 1904. Isi Plakat Pendek adalah Kerajaan Aceh harus mengakui kekuasaan Belanda di Indonesia. Plakat Pendek merupakan buntut dari Perang Aceh yang berlangsung selama tiga dekade, yakni sejak 1873 hingga 1904. Baca juga: Sebab Khusus Terjadinya Perang Aceh

Apakah isi perjanjian Plakat Pendek?

Pada tahun 1904, Sultan Aceh dipaksa untuk menandatangani Plakat Pendek yang isinya sebagai berikut.1. Aceh mengakui kedaulatan Belanda atas daerahnya.2. Aceh tidak diperbolehkan berhubungan dengan bangsa lain selain dengan belanda.3. Aceh menaati perintah dan peraturan Belanda.

Dipimpin oleh siapakah perlawanan rakyat Aceh dengan bangsa Belanda?

Periode – Perang Samalanga pertama pada tanggal 26 Agustus 1877. Panglima besar Belanda, Mayor Jenderal Karel van der Heijden kembali ke pasukannya setelah mendapatkan perawatan pada matanya yang tertembak Perang Aceh Pertama (1873-1874) dipimpin oleh Panglima Polim dan Sultan Mahmud Syah melawan Belanda yang dipimpin Köhler,

  • Öhler dengan 3000 serdadunya dapat dipatahkan, di mana Köhler sendiri tewas pada tanggal 14 April 1873,
  • Sepuluh hari kemudian, perang berkecamuk di mana-mana.
  • Yang paling besar saat merebut kembali Masjid Raya Baiturrahman, yang dibantu oleh beberapa kelompok pasukan.
  • Ada di Peukan Aceh, Lambhuk, Lampu’uk, Peukan Bada, sampai Lambada, Krueng Raya.

Beberapa ribu orang juga berdatangan dari Teunom, Pidie, Peusangan, dan beberapa wilayah lain. Perang Aceh Kedua (1874-1880). Pasukan Belanda dipimpin oleh Jenderal Jan van Swieten, Belanda berhasil menduduki Keraton Sultan, 26 Januari 1874, dan dijadikan sebagai pusat pertahanan Belanda.

  • Pada 31 Januari 1874 Jenderal Van Swieten mengumumkan bahwa seluruh Aceh jadi bagian dari Kerajaan Belanda,
  • Etika Sultan Machmud Syah wafat 26 Januari 1874, digantikan oleh Tuanku Muhammad Dawood yang dinobatkan sebagai Sultan di masjid Indrapuri,
  • Perang pertama dan kedua ini adalah perang total dan frontal, di mana pemerintah masih berjalan mapan, meskipun ibu kota negara berpindah-pindah ke Keumala Dalam, Indrapuri, dan tempat-tempat lain.
You might be interested:  What To Do In Aceh?

Perang ketiga (1881-1896), perang dilanjutkan secara gerilya dan dikobarkan perang fi sabilillah, Di mana sistem perang gerilya ini dilangsungkan sampai tahun 1903. Dalam perang gerilya ini pasukan Aceh di bawah Teuku Umar bersama Panglima Polim dan Sultan.