Perjanjian Yang Menjadi Sebab Perang Aceh?

0 Comments

Perjanjian Yang Menjadi Sebab Perang Aceh
Penyebab Perang Aceh – Berikut penyebab terjadinya perang Aceh dari umum ke khusus:

Penyebab umum perang Aceh adalah pemerintah Belanda melakukan perjanjian Traktat London (1824) dan Traktat Sumatra (1871). Pemerintah Belanda ingin menguasai Aceh karena memiliki kerajaan kuat dan kemampuan diplomatis tinggi. Perjanjian London (1824) membuat Aceh menjadi daerah penyangga kekuasaan Inggris di Malaka. Sedangkan Bengkulu diserahkan Inggris pada Belanda. Belanda berhak atas kekuasaan daerah Sumatra Timur yang didapatkan dari Sultan Siak. Belanda membantu Sultan Siak dalam perang saudara melalui Traktak Siak tahun 1858. Terbukanya Terusan Suez tahun 1869, membuat perairan Aceh menjadi jalur pelayaran Eropa ke Asia. Traktat Sumatra di tahun 1871, menjelaskan Inggris tidak menghalangi usaha Belanda meluaskan daerah kekuasaan sampai Aceh. Penyebab khusus perang Aceh seperti kesultanan Aceh menjalin hubungan diplomasi dengan negara Italia, Turki, dan Amerika Serikat. Belanda cemas nantinya Aceh menuntut untuk diakui kedaulatan oleh Belanda. Belanda menginginkan Aceh tunduk pada pemerintahan. Tetapi Sultan Aceh menolak tunduk pada Belanda hingga terjadi perang.

Mengapa Perjanjian Siak berpengaruh sebagai latar belakang Perang Aceh?

Perang Aceh disebabkan karena: Belanda menduduki daerah Siak. Akibat dari Perjanjian Siak 1858. Di mana Sultan Ismail menyerahkan daerah Deli, Langkat, Asahan & Serdang kepada Belanda, padahal daerah-daerah itu sejak Sultan Iskandar Muda, berada di bawah kekuasaan Aceh.

  1. Belanda melanggar perjanjian Siak, maka berakhirlah perjanjian London tahun 1824.
  2. Isi perjanjian London ialah Belanda & Britania Raya membuat ketentuan tentang batas-batas kekuasaan kedua daerah di Asia Tenggara yaitu dengan garis lintang Singapura.
  3. Eduanya mengakui kedaulatan Aceh.
  4. Aceh menuduh Belanda tak menepati janjinya, sehingga kapal-kapal Belanda yg lewat perairan Aceh ditenggelamkan oleh pasukan Aceh.
You might be interested:  Negara Yang Bantu Tsunami Aceh?

Perbuatan Aceh ini didukung Britania. Dibukanya Terusan Suez oleh Ferdinand de Lesseps. Menyebabkan perairan Aceh menjadi sangat penting untuk lalu lintas perdagangan. Ditandatanganinya Perjanjian London 1871 antara Inggris & Belanda, yg isinya, Britania memberikan keleluasaan kepada Belanda untuk mengambil tindakan di Aceh.

  1. Belanda harus menjaga keamanan lalulintas di Selat Malaka.
  2. Belanda mengizinkan Britania bebas berdagang di Siak & menyerahkan daerahnya di Guyana Barat kepada Britania.
  3. Akibat perjanjian Sumatera 1871, Aceh mengadakan hubungan diplomatik dengan Konsul Amerika Serikat, Kerajaan Italia, Kesultanan Usmaniyah di Singapura.

Dan mengirimkan utusan ke Turki Usmani pada tahun 1871. Akibat hubungan diplomatik Aceh dengan Konsul Amerika, Italia & Turki di Singapura, Belanda menjadikan itu sebagai alasan untuk menyerang Aceh. Wakil Presiden Dewan Hindia Frederik Nicolaas Nieuwenhuijzen dengan 2 kapal perangnya datang ke Aceh & meminta keterangan dari Sultan Machmud Syah tentang apa yg sudah dibicarakan di Singapura itu, tetapi Sultan Machmud menolak untuk memberikan keterangan.

Apa isi perjanjian Traktat Siak?

Merdeka.com – Pernahkah kamu mendengar tentang Perang Aceh? Perang Aceh ini terjadi di Aceh pada tahun 1873 sampai 1912. Belanda sangat sering melakukan interupsi kepada pihak Aceh karena mereka sangat ingin untuk menguasai wilayah Aceh itu. Namun, mereka terbatas sekali gerakannya karena dibatasi oleh traktat London.

  1. Di sisi lain, mereka juga punya keuntungan dari sisi geografis politis karena inggris sudah menyerahkan wilayah Sibolga dan Natal pada pihak mereka.
  2. Saat itu, mereka sudah mulai melakukan rencana-rencana mereka seperti politik adu domba.
  3. Belanda juga mulai bergerak di wilayah perairan Aceh dan juga selat Malaka.

Belanda juga mengusir bajak laut yang berkeliaran di perairan Aceh dan Selat Malaka. Untuk itu, mereka punya alasan untuk bertempat tinggal di Baros dan Singkel. Gerakan untuk bisa merebut wilayah Aceh terus dilakukan oleh Belanda. Di tanggal 1 Februari 1858, Belanda membuat perjanjian dengan Sultan Siak dan Sultan Ismail. Perjanjian inilah yang kita kenal dengan nama Traktat Siak. Traktat ini memiliki isi seperti Siak harus mengakui kedaulatan Hindia Belanda di wilayah Sumatera Timur. Artinya, daerah-daerah yang ada di bawah pengaruh Siak seperti Deli, Asahan, Kampar dan Indragiri ada di bawah kekuasaan Hindia Belanda.

You might be interested:  Musibah Tsunami Yang Menimpa Nanggroe Aceh Darussalam Dan?

Padahal sebenarnya, wilayah-wilayah itu ada di bawah kekuasaan Kesultanan Aceh dan tindakan itu sama sekali nggak diprotes oleh Kesultanan Aceh. Nah, sekarang kamu sudah tahu tentang latar belakang terjadinya Perang Aceh ini. Pihak Indonesia mengalami banyak sekali penderitaan karena perang ini terjadi selama 39 tahun.

Sikap patriotisme dan pantang menyerah yang ditunjukkan oleh para pahlawan kita tentunya patut untuk kita tiru. Materi ini menarik untuk dibaca kan?

Apa isi perjanjian Treaty of London?

Isi Traktat London – Traktat London ditandatangani pada 17 Maret 1824, yang isinya adalah sebagai berikut.

Inggris menyerahkan pabrik Fort Marlborough di Bengkulu dan semua kepemilikannya di Sumatera kepada Belanda. Kedaulatan Aceh tidak boleh diganggu Belanda, tetapi Aceh juga tidak boleh mengganggu keamanan di lautan. Inggris diberi akses perdagangan dengan Kepulauan Maluku, khususnya dengan Ambon, Banda dan Ternate. Belanda menyerahkan semua perusahaan di anak Benua India yang telah berdiri sejak 1609. Belanda menyerahkan kota dan Benteng Malaka serta setuju untuk tidak membuka kantor di Semenanjung Melayu ataupu membuat perjanjian dengan penguasa setempat. Inggris menarik pasukannya dari daerah penguasaan Belitung dan menyerahkannya pada Belanda. Belanda menarik pasukannya dari Singapura dan menyerahkan wilayah tersebut kepada Inggris. Inggris berjanji untuk tidak mendirikan kantor perwakilan di Kepulauan Karimun Jawa, Kepulauan Batam, Bintan, Lingga atau kepulauan lain di selatan Selat Singapura. Semua pemindahan properti dan pendirian akan dilakukan pada tanggal 1 Maret 1825 dan sejumlah 100.000 poundsterling harus dibayar oleh Belanda di London sebelum akhir 1825.

Baca juga: Perjanjian Salatiga: Latar Belakang, Isi, dan Dampaknya

Apa itu traktat Aceh?

Merdeka.com – Pernahkah kamu mendengar tentang Traktat Sumatera? Traktat ini ada sewaktu masa sekitar Perang Aceh. Traktat ini juga yang menjadi salah satu penyebab terjadinya Perang Aceh. Lalu, bagaimana kondisi dan keadaan pada saat itu? Perkembangan politik yang terjadi di Kesultanan Aceh semakin rusuh apalagi setelah ditandatanganinya Traktat Sumatera. Langkah-langkah perlawanan yang dilakukan Aceh itu diketahui oleh pihak Belanda. Lalu, Belanda mengancam dan memberi ultimatum kepada Kesultanan Aceh supaya tunduk di bawah kekuasaan pemerintahan Hindia Belanda. Namun, pihak Aceh nggak mau menuruti ultimatum itu begitu saja.

Belanda menganggap bahwa Aceh membangkang terhadap perintahnya sehingga di tanggal 26 Maret 1873 Belanda yang diwakili oleh Komisaris Nieuwenhuijzen mengumumkan perang melawan Aceh. Sebenarnya, Aceh sudah melakukan beberapa persiapan untuk perang ini. Misalnya saja membangun pos-pos pertahanan. Di sepanjang Aceh Besar, sudah dibangun kuta atau benteng yang bertujuan untuk memperkuat wilayah pertahanannya.

Selain kuta, jumlah pasukan Aceh juga ditingkatkan.3000 pasukan disiapkan di daerah pantai dan 4000 pasukan disiapkan di wilayah Istana. Senjata dari luar Sumatera sudah dimasukkan seperti 5000 peti mesiu dan 1394 peti senapan. Itulah awal mula dari Perang Aceh yang berlangsung selama 39 tahun ini.