Pejuang Wanita Yang Berasal Dari Aceh Bernama?

0 Comments

Pejuang Wanita Yang Berasal Dari Aceh Bernama
Salah satu pahlawan wanita dari Aceh yang terkenal adalah Cut Nyak Dhien. Beliau lahir pada tahun 1848 di kampung Lampadang, Aceh Besar.

Siapa pejuang perempuan yang berasal dari kesultananaceh?

Julukan Tanah Rencong melekat pada Aceh, yang berasal dari nama senjata tradisional khas Aceh yaitu Rencong. Rakyat Aceh sejak dulu terkenal sangat gagah berani, tidak kalah dengan daerah lainnya di Nusantara yang terus berjuang melawan penjajahan dan berjuang untuk mencapai kemerdekaan hingga titik darah penghabisan.

  • Atas jasa – jasa para pejuang yang tidak ternilai tersebut, gelar pahlawan nasional kemudian disematkan kepada sebagian dari mereka, yang telah dianggap memenuhi beberapa kriteria tertentu yang ditetapkan oleh pemerintah.
  • Para pahlawan nasional dari Aceh yang akan dibahas berikut ini berjumlah delapan orang yang kebanyakan berasal dari keturunan Uleebalang.

Uleebalang atau Hulubalang dalam bahasa Melayu adalah kepala pemerintahan dalam Kesultanan Aceh yang memimpin suatu daerah atau Sagoe, wilayah setingkat kabupaten. Pemegang jabatannya diberi gelar Teuku untuk pria dan Cut untuk wanita.1. Teuku Umar Lahir di Meulaboh pada 1854 dan wafat pada 1899 di Meulaboh juga, ia adalah pahlawan nasional dari Aceh yang terkenal, ditetapkan pada 1973.

  • Ia adalah anak seorang Uleebalang bernama Teuku Achmad Mahmud dengan adik perempuan Raja Meulaboh.
  • Teuku Umar berjuang dengan cara pura – pura bekerjasama dengan Belanda dan menerapkan taktik gerilya.
  • Pada usia 19 tahun ia ikut dalam Perang Aceh tahun 1873.
  • Setelah menikah dengan Nyak Sofiah, anak Uleebalang Glumpang, ia lalu menikah lagi dengan Nyak Malighai, putri Panglima Sagi XXV Mukim.

Pada 1880, ia menikahi Cut Nyak Dhien, janda dari Ibrahim Lamnga yang meninggal karena melawan Belanda. Keduanya kemudian berjuang bersama untuk melawan Belanda. Teuku Umar gugur karena peluru musuh pada pertempuran dengan pasukan Jenderal Van Heutsz yang menghadangnya di Meulaboh.

  • Etahui juga mengenai nama pahlawan nasional dari Banjarmasin, pahlawan nasional dari Jawa Timur dan pahlawan nasional dari Sumatera Utara,2.
  • Cut Nyak Dhien Pahlawan nasional wanita ini lahir pada 1850 dan wafat pada 1908.
  • Ia melanjutkan perjuangan Teuku Umar sepeninggalnya untuk melawan pasukan Belanda di pedalaman Meulaboh, Aceh Barat.

Cut Nyak Dhien ditangkap Belanda ketika sudah berusia tua dan rabun karena laporan salah seorang pengikutnya bernama Pang Laot. Konon ia melaporkan Cut Nyak Dhien karena merasa iba dengan kondisinya yang telah digerogoti berbagai penyakit. Cut Nyak Dhien yang dibawa ke Banda Aceh kemudian dirawat hingga sembuh.

Karena dianggap masih dapat memberikan pengaruh kuat kepada rakyat Aceh, ia kemudian diasingkan ke Sumedang hingga meninggal pada 6 November 1908. Makamnya berada di daerah Gunung Puyuh, Sumedang. Makamnya baru ditemukan pada 1959 setelah dilakukan pencarian atas permintaan Ali Hasan, Gubernur Aceh. Ia diberikan gelar pahlawan nasional pada tahun 1964.3.

Cut Nyak Meutia Wanita perkasa yang hidup dari tahun 1870 – 1910 ini memimpin perlawanan terhadap penjajah di Aceh Utara. Ia juga melanjutkan perjuangan suaminya, Teuku Cik Tunong yang meninggal dunia. Ia berjuang bersama suami keduanya yang bernama Pang Nanggroe, yang gugur juga pada 16 September 1910.

You might be interested:  Bagaimana Akhir Dari Kerajaan Aceh?

Apakah pahlawan Indonesia berasal dari kaum wanita?

Beberapa pahlawan Indonesia berasal dari Aceh. Bahkan banyak diantaranya berasal dari kaum wanita. Pada masa penjajahan, keberanian dan kesatriaan wanita Aceh dikenal melebihi segala wanita yang lain. ” Dari pengalaman yang dimiliki oleh panglima-panglima perang Belanda yang telah melakukan peperangan di segala penjuru dan pojok Kepulauan Indonesia, bahwa tidak ada bangsa yang lebih pemberani perang serta fanatik, dibandingkan dengan bangsa Aceh, dan kaum wanita Aceh yang melebihi kaum wanita bangsa lainnya, dalam keberanian dan tidak gentar mati.

Bahkan, mereka pun melampaui kaum laki-laki Aceh yang sudah dikenal bukanlah laki-laki lemah dalam mempertahankan cita-cita bangsa dan agama mereka”. (Kumalasari, 2016, h.2). Itu merupakan pernyataan dari H.C. Zentgraaff salah seorang prajurit sekaligus wartawan Belanda. Ia mengakui kelebihan wanita Aceh yang turut berjuang pada masa tersebut.

LAKSAMANA KEUMALAHAYATI – PEJUANG WANITA DARI TANAH ACEH

Aceh merupakan daerah yang kaya akan rempahnya. Oleh karena itu Belanda berusaha menguasai Aceh untuk kepentingan ekonomi. VOC berusaha memonopoli Aceh yang menimbulkan banyak peperangan. Sejarah panjang yang dimiliki daerah yang terletak di ujung pulau Sumatra ini membuktikan bahwa peperangan di Aceh sebagai bentuk perlawanan terhadap penjajahan tidak hanya dilakukan oleh kaum laki-laki, tetapi juga perempuan memiliki andil yang sangat besar dalam proses pembebasan negri ini dari agresi asing.

Salah satu pahlawan wanita dari Aceh yang namanya sudah banyak dikenal adalah Cut Nyak Dhien. Sebelum berjuang bersama suaminya yang kedua (Teuku Umar) ia sudah angkat senjata dan berjuang. Ia turun ke Medan perang sambil menggendong anaknya yang masih kecil. Di samping itu, ia mengasuh dan menyusui anaknya, bersamaan dengan pedang terhunus, rencong Aceh di luar sarung pinggang, ia menghadapi Belanda laksana singa betina.

Peristiwa itu terjadi pasca suami pertamanya meninggal. Namanya semakin dikenal oleh masyarakat Aceh ketika ia menikah lagi dan berjuang bersama suaminya yang baru, yaitu Teuku Umar. Ia pun telah mendapat gelar “Pahlawan Nasional” dari surat keputusan presiden pada tahun 1964. Sumber Gambar: id.wikipedia.org Cut Nyak Meutia adalah sosok wanita pejuang yang tangguh dan berani.

You might be interested:  Apa Makna Ukiran Yang Terdapat Di Rumah Aceh?

Mengapa sepak-terjang tiga pahlawan wanita asal Aceh jauh lebih gagah dan berani?

Sering kita mendengar nama-nama pahlawan yang sudah dinobatkan menjadi pahlawan nasional. Namun, di antara kita ada juga yang masih be­lum tahu dengan benar sosok pahlawan yang kita banggakan tersebut. Karena itu, tuhoe mengajak pembaca mengenal sekelumit kisah pejuang Aceh, terutama pahlawan perempuannya.

  • Bukankah akh­ir-akhir ini, para aktivis gender sedang gencar-gencar mensosialisasikan ten­tang gender, yang di dalamnya pahlawan pejuang perempuan terdahulu dielu-elukan.
  • Salah satunya, Raden Ajeng Kar­tini.
  • Hanya dengan sebuah buku “Habis Gelap Terbitlah Terang”, kita terperosok jauh ke lubang kepercayaan bahwa Kar­tinilah satu-satunya pejuang yang berani menunjukkan perempuan setara dengan laki-laki.

Padahal, jika ditilik dengan sek­sama, Cut Nyak Dien lebih dari apa yang dikatakan Kartini. Jika Kartini hanya ber­kata dari belakang meja, Cut Nyak Dien langsung terjun ke lapangan menunjuk­kan bahwa perempuan juga berhak men­jadi pemimpin. Demikian halnya dengan Cut Nyak Meutia dan Pocut Baren. Cut Nyak Dien Cut Nyak Dien, Perempuan Berhati Baja Dia dilahir­kan di Lam­padang, Aceh, 1850. Wanita ini dijuluki perempuan berhati baja, karena kegigihan, kebera­nian, dan keteguhan hatinya dalam ber­perang melawan penjajah. Tak ada kata menyerah di benaknya.

“Lebih baik mati berkalang tanah dari­pada hidup jadi tawanan kaphé Belanda.” Demikian nasihat yang selalu dipungkaskan Cut Nyak Dien kepada para pengikutnya yang menawarkan agar menyerah kepada Belanda daripada jadi buruan di hutan. Dari sini, jelas kelihatan sikap teguh pendirian seorang pemimpin yang membuat para pengikut takjub dan hormat kepadanya, kendati dia seorang perempuan.

Dien, pernah menikah dua kali. Kedua suminya adalah pejuang. Suami pertamanya bernama Teuku Ibrahim Lamnga. Suami keduanya Teuku Umar. Keduanya syahid dalam perang. Tak sekedar punya dua orang suami yang menjadi pejuang, ayah Dien juga tercatat sebagai seorang pejuang.

  1. Dien yang dibesarkan oleh kedua orangtuanya saat Aceh hiruk-pikuk dengan Belanda, menjadikan hatinya keras se­rupa baja untuk menentang kepenjajahan Belanda.
  2. Cut Nyak Dien meninggal 6 November 1968 di Sumedang, Jawa Barat.
  3. Dia dibuang di sana oleh Belanda setelah ditangkap.
  4. Dien ditangkap karena orang kepercayaanya, Pang Laot, memberitahukan pihak Belanda tempat persembunyian rombongan Cut Nyak Dien.

Hal itu dilakukan Pang Laot karena merasa kasihan melihat Dien yang tua tertatih-tatih bergerilya dalam hutan. Saat ditangkap, Dien masih memperlihatkan kebera­niannnya. Dia masih sempat mengelaurkan rencong untuk menusuk Belanda yang mencoba mendekat.

Siapa pahlawan perempuan dari Aceh mugkin?

Perempuan millenium Indonesia masih berjuang menegakkan kesamaan haknya – yang terinspirasi oleh “gerutuan” R.A. Kartini. Namun, 7 abad lalu perempuan Aceh telah menikmati hak-haknya sebagai manusia yang setara tanpa perdebatan. Barangkali selama ini yang kita kenal pahlawan perempuan dari Aceh mugkin hanya Cut Nyak Dien saja.

Hal ini dapat dipahami karena perjuangan heroiknya melawan Balanda sudah difilmkan, dimana pemeran sebagai Cut Nyak Dhien adalah Christine Hakim. Akan tetapi sebenarnya Cut Nyak Dhien hanyalah satu dari sekian banyak perempuan Aceh yang memiliki kehebatan yang luar biasa di Aceh. Dan itu sudah ada jauh sebelum isu emansipasi dikembangkan.

Sebab peran mereka melebihi peran para laki-laki pada saat itu. Di Matangkuli, Kecamatan Minye Tujoh, Aceh Utara, terdapat sebuah makam kuno yang pada nisannya bertuliskan Arab dan Jawa Kuno. Dituliskan di nisan itu, orang yang dimakamkan adalah Ratu Ilah Nur yang meninggal tahun 1365.

  • Siapa Ilah Nur ? Ilah Nur adalah seorang Ratu yang memerintah Kerajaan Pasai,
  • Eterangan itu juga dapat diperoleh di kitab Negara Kartagama tulisan Prapanca.
  • Disebutkan, Samudera Pasai merupakan daerah yang ditaklukkan oleh Hayam Wuruk, dengan Patihnya Gajah Mada.
  • Buku Hikayat Raja Raja Pasai juga menyebutkan tentang kekuasaan Majapahit terhadap Pasai.
You might be interested:  Kode Pos Kec Baiturrahman Banda Aceh?

Setelah segala sesuatunya diatur di Pasai, laskar Majapahit kembali ke Jawa. Namun, sebelum kembali, pembesar-pembesar Majapahit mengangkat seorang Raja, yaitu Ratu Nur Ilah. Ratu Nur Ilah merupakan keturunan Sultan Malikuzzahir. Tidak banyak keterangan yang didapatkan oleh peneliti tentang masa pemerintahan Ratu Ilah Nur ini.

  • Perempuan Aceh memang luar biasa.
  • Mereka mampu mensejajarkan diri dengan kaum pria.
  • Bahkan, pekerjaan peperangan pun, yang biasanya seluruhnya dilakukan oleh kaum pria, diterjuninya pula.
  • Mereka menjadi panglima, memimpin ribuan laskar di hutan dan di gunung-gunung.
  • Bahkan ada laskar wanita yang disebut Inong Bale,

Mereka ini para janda yang menuntut kematian suaminya. Para perempuan Aceh berani meminta cerai dari suaminya bila suaminya berpaling muka kepada Belanda. Kaum pria Aceh pun bersikap sportif. Mereka dengan lapang hati memberikan sebuah jabatan tertinggi dan rela pula menjadi anak buahnya.

Diantaranya mereka yang amat dikenal bahkan melegenda, seperti Cut Nyak Dhien, Laksamana Kumalahayati, dan sebagainya. Beberapa periode, Kerajaan Aceh Besar yang berdaulat, pernah dipimpin oleh perempuan. Selain Ratu Nur diatas, ada Sultanah Safiatuddin Syah, Ratu Inayat Zakiatuddin Syah, Sultanah Nurul Alam Naqiatuddin Syah dan Ratu Nahrasiyah,

Sementara yang terjun ke medan pertempuran, ada Laksamana Malahayati, Cut Nyak Dien, Cut Meutia, Pocut Baren dan Pocut Meurah Intan, Ada pula yang menjadi uleebalang (penguasa lokal). Diantara panglima-panglima tersebut, yang banyak disebut-sebut oleh pendatang Barat adalah Laksamana Malahayati.

Ratu Nahrasiyah

Dr.