Pada 1942 Rakyat Aceh Yang Dipimpin Oleh Tengku Abdul Jalil?

0 Comments

Pada 1942 Rakyat Aceh Yang Dipimpin Oleh Tengku Abdul Jalil
1. Perlawanan Rakyat Aceh terhadap Jepang – Perlawanan ini terjadi di Cot Plieng, Aceh, dan dipimpin oleh Tengku Abdul Jalil pada November 1942. Kejadian ini berawal dari kesewenang-wenangan Jepang yang memaksa untuk melakukan Seikerei dan ditolak oleh rakyat setempat karena dianggap bertentangan dengan ajaran Islam.

Mengapa perlawanan rakyat Aceh terjadi?

Pada awal kedatangannya, Jepang telah berhasil melakukan propaganda untuk menarik simpati bangsa Indonesia. Apakah kenyataannya seperti itu? Selain mengeksploitasi sumber daya alam Indonesia, Jepang juga melakukan eksploitasi sumber daya manusia. Semua itu demi kepentingan Jepang dalam Perang Pasifik.

  1. Segala bentuk penindasan dan eksploitasi Jepang telah memunculkan reaksi perlawanan dari bangsa Indonesia.
  2. Perjuangan melalui organisasi yang dibentuk Jepang (legal) dan gerakan bawah tanah (ilegal).
  3. Meskipun cara yang dilakukan berbeda, cita-cita perjuangan mereka adalah sama, yaitu kemerdekaan Indonesia.

Perjuangan melalui organisasi merupakan jalan damai yang ditempuh untuk menghindari korban jiwa dari rakyat. Namun, ada juga beberapa tokoh yang bersemboyan “Cinta kedamaian tetapi lebih cinta kemerdekaan”. Mereka menganggap perlawanan bersenjata akan lebih cepat mewujudkan kemerdekaan.

Perlawanan Rakyat di Berbagai Daerah tersebut antara lain sebagai berikut: 1) Perlawanan di Aceh Perlawanan rakyat Aceh terjadi karena penderitaan yang dialami akibat kesewenangan Jepang. Rakyat Aceh banyak dikerahkan untuk romusha. Mereka diharuskan membangun parit, lapangan terbang, jalan, dan lain-lain.

Perlawanan Aceh ini dipimpin oleh Tengku Abdul Jalil. Penyerangan terpenting adalah penyerangan di Cot Plieng yang terjadi pada tanggal 10 November 1942. Dalam serangan pertama dan kedua, rakyat Aceh berhasil memukul mundur Jepang ke Lhoksumawe. Pada serangan ketiga, Jepang berhasil merebut Cot Plieng.

  • Ebencian rakyat semakin bertambah ketika Tengku Abdul Jalil gugur di tempat saat sedang sembahyang.
  • Setelah itu, pemberontakan Jangka Buya terjadi di bawah pimpinan T.
  • Hamid.2) Perlawanan di Singaparna (Tasikmalaya) Pada bulan Februari 1944 di Singaparna terjadi perlawanan terhadap Jepang.
  • Perlawanan ini dipimpin oleh Kiai Zainal Mustofa.

Sebab perlawanan adalah adanya perintah upacara Seikerei (penghormatan kepada kaisar Jepang dengan cara membungkuk ke arah matahari terbit) dan penderitaan akibat kesewenangan Jepang. Kiai Zainal Mustofa akhirnya ditangkap pada tanggal 25 Februari 1944 dan pada tanggal 25 Oktober 1944 beliau dihukum mati. 3) Perlawanan di Indramayu Dengan alasan dan sebab yang hampir sama, di Indramayu juga muncul pemberontakan terhadap Jepang. Pemberontakan tersebut terjadi di Desa Kaplongan. Perlawanan terjadi pada bulan April 1944. Beberapa bulan kemudian tepatnya tanggal 30 Juli 1944 terjadi pemberontakan di Desa Cidempet, Kecamatan Loh Bener.4) Perlawanan di Blitar (Pemberontakan PETA) Pada tanggal 14 Februari 1945 di Blitar terjadi pemberontakan yang dilakukan para tentara PETA (Pembela Tanah Air), di bawah pimpinan Supriyadi.

You might be interested:  Yang Termasuk Karya Sastra Peninggalan Kerajaan Aceh?

Apa penderitaan rakyat Indonesia pada masa pendudukan Jepang yang mengakibatkan perlawanan rakyat Aceh dipimpin oleh?

| Mei 21, 2018 | Soal Sejarah SMA | Pada masa pendudukan Jepang di Indonesia, rakyat Indonesia mulai mengadakan perlawanan di beberapa wilayah di Indonesia. Penderitaan rakyat Indonesia pada masa pendudukan Jepang yang mengakibatkan perlawanan rakyat Aceh dipimpin oleh,a.K.H Abdul Jalil b.K.H Mashudi c.K.H Abdullah Faqih d.K.H Zainal Mustofa e.K.H Zainal Abidin Pembahasan: Perlawanan di Aceh, meletus di daerah Cot Plieng yang dipimpin oleh Tengku Abdul Jalil pada bulan November 1942.

  • Ia adalah seorang guru mengaji di Cot Plieng.
  • Jepang berusaha mendekati Tengku Abdul Jalil tetapi ditolak, sehingga pada tanggal 10 November 1942 pasukan Jepang menyerang ke Cot Plieng.
  • Serangan Jepang yang pertama ini dapat dilawan oleh rakyat Aceh.
  • Begitu juga dengan serangan yang kedua dapat dipatahkan.

Akhirnya Tengku Abdul Jalil mati ditembak oleh Jepang pada saat ia sedang melaksanakan salat. Selain itu, PETA didaerah Aceh juga melakukan perlawanan. Perlawanan meletus di daerah Pandreh Kabupaten Berena. Pemimpinnya adalah seorang perwira Giyugunyang bernama Tengku Abdul Hamid. Pada masa pendudukan Jepang di Indonesia, rakyat Indonesia mulai mengadakan perlawanan di beberapa wilayah di Indonesia. Penderitaan rakyat Indonesia pada masa pendudukan Jepang yang mengakibatkan perlawanan rakyat Aceh dipimpin oleh,a.K.H Abdul Jalil Baca juga materi: Masa Pendudukan Jepang di Indonesia Perlawanan bangsa Indonesia terhadap Jepang Organisasi Bentukan Jepang di Indonesia

Apa itu perlawanan Teungku Abdul Jalil dan pengikutnya?

Ilustrasi Teungku Abdul Jalil alias Teungku Cot Plieng. (Habil Razali/acehkini) Hari Selasa, 7 November 1942, perlawanan rakyat Aceh terhadap Jepang pecah. Perang meletus setelah seorang kompetei (polisi militer Jepang) bernama Hayasi bersimbah darah usai ditikam dengan tombak oleh pengawal Teungku Abdul Jalil alias Teungku Cot Plieng di Kompleks Dayah Cot Plieng, Bayu, Lhokseumawe, Aceh.

Muhammad Ibrahim, dkk ( Sejarah Daerah Propinsi Daerah Istimewa Aceh, 1991 ) menulis bahwa Hayasi hari itu mendatangi Dayah Cot Plieng untuk menemui sang pimpinan lembaga pendidikan Islam itu, Teungku Abdul Jalil. Ulama ini hendak dibujuk agar tak lagi menyuarakan sikap perlawanan terhadap Jepang. Sebelum mengutus Hayasi, Jepang mulai menaruh curiga dengan gerak-gerik Teungku Abdul Jalil.

You might be interested:  Pujangga Yang Terkenal Dari Kerajaan Aceh?

Sebabnya, medio Juli 1942, ulama Aceh itu bersama 400 pengikutnya mengadakan konsinyasi di kompleks Dayah Cot Plieng. Dalam pertemuan itu, mereka bersumpah untuk melawan dengan tekad fisabilillah bila datang serangan dari tentara Jepang. Setelah kabar tentang pertemuan itu merebak, kecurigaan Jepang mulai meningkat.

  1. Alhasil, Jepang pun mulai melakukan pendekatan dengan Teungku Abdul Jalil.
  2. Pemanggilan bertingkat terhadap Teungku Abdul Jalil dilakukan kompetei di Lhokseumawe, Sigli, hingga komandan kompetei Aceh.
  3. Namun, ulama itu tetap tak menyahut.
  4. Tak berhasil melalui pejabat, Jepang masuk melalui jalur pendekatan ulama dan uleebalang,

Jepang lalu mengutus uleebalang seperti Teungku Mahmud dan Abdul Azis. Sedangkan ulama yang dikirim Jepang adalah Teungku Haji Hasan Krueng Kale, guru Teungku Abdul Jalil. Hubungan ulama Aceh seperti Teungku Haji Hasan Krueng Kale dengan Jepang memang terjalin baik.

  1. Hal ini dikarenakan saat awal mula masuknya Jepang ke Aceh sebenarnya sudah ditunggu atau dipersiapkan oleh sekolompok masyarakat yang dipelopori Persatuan Ulama Seluruh Aceh (PUSA) yang dipimpin Teungku Daud Beureu-eh.
  2. Bahkan, pada 7 Januari 1942, PUSA mengirim 7 orang Aceh ke Pulau Pinang untuk menemui pihak Jepang.

Kala itu Jepang turut melatih sejumlah orang Aceh untuk menjadi tentara bertujuan mengusir Belanda. Teungku Abdul Jalil alias Teungku Cot Plieng dan perjuangan melawan Jepang. (Habil Razali/acehkini) Meski sudah dilakukan pendekatan melalui gurunya, Teungku Abdul Jalil tetap bergeming.

Semua usaha yang dilakukan Jepang berakhir sia-sia hingga kemudian Hayasi mendatangi kompleks Dayah Cot Plieng di Bayu, Lhokseumawe. Dengan terlukanya Hayasi, perang rakyat Aceh dengan Jepang pun pecah. Tgk Abdul Karim Jakobi ( Aceh Daerah Modal: Long March ke Medan Area, 1992 ) menyebutkan perlawanan Teungku Abdul Jalil dan pengikutnya itu adalah perang pertama bangsa Indonesia (Nusantara) terhadap Jepang.

Perang Bayu ini hanya berselang beberapa bulan setelah Jepang masuk ke Aceh dan wilayah lain di Nusantara, pada Maret 1942. Akibat penikaman Hayasi, Jepang kemudian mengerahkan pasukan bersenjata lengkap di Bireuen, Lhoksukon, dan Lhokseumawe. Hari itu, penyerangan Jepang ke Dayah Cot Plieng berlangsung dari pukul 12.00.

You might be interested:  Medan Banda Aceh Berapa Kilo?

Apa penyebab perlawanan rakyataceh?

Pada awal kedatangannya, Jepang telah berhasil melakukan propaganda untuk menarik simpati bangsa Indonesia. Apakah kenyataannya seperti itu? Selain mengeksploitasi sumber daya alam Indonesia, Jepang juga melakukan eksploitasi sumber daya manusia. Semua itu demi kepentingan Jepang dalam Perang Pasifik.

  • Segala bentuk penindasan dan eksploitasi Jepang telah memunculkan reaksi perlawanan dari bangsa Indonesia.
  • Perjuangan melalui organisasi yang dibentuk Jepang (legal) dan gerakan bawah tanah (ilegal).
  • Meskipun cara yang dilakukan berbeda, cita-cita perjuangan mereka adalah sama, yaitu kemerdekaan Indonesia.

Perjuangan melalui organisasi merupakan jalan damai yang ditempuh untuk menghindari korban jiwa dari rakyat. Namun, ada juga beberapa tokoh yang bersemboyan “Cinta kedamaian tetapi lebih cinta kemerdekaan”. Mereka menganggap perlawanan bersenjata akan lebih cepat mewujudkan kemerdekaan.

Perlawanan Rakyat di Berbagai Daerah tersebut antara lain sebagai berikut: 1) Perlawanan di Aceh Perlawanan rakyat Aceh terjadi karena penderitaan yang dialami akibat kesewenangan Jepang. Rakyat Aceh banyak dikerahkan untuk romusha. Mereka diharuskan membangun parit, lapangan terbang, jalan, dan lain-lain.

Perlawanan Aceh ini dipimpin oleh Tengku Abdul Jalil. Penyerangan terpenting adalah penyerangan di Cot Plieng yang terjadi pada tanggal 10 November 1942. Dalam serangan pertama dan kedua, rakyat Aceh berhasil memukul mundur Jepang ke Lhoksumawe. Pada serangan ketiga, Jepang berhasil merebut Cot Plieng.

Ebencian rakyat semakin bertambah ketika Tengku Abdul Jalil gugur di tempat saat sedang sembahyang. Setelah itu, pemberontakan Jangka Buya terjadi di bawah pimpinan T. Hamid.2) Perlawanan di Singaparna (Tasikmalaya) Pada bulan Februari 1944 di Singaparna terjadi perlawanan terhadap Jepang. Perlawanan ini dipimpin oleh Kiai Zainal Mustofa.

Sebab perlawanan adalah adanya perintah upacara Seikerei (penghormatan kepada kaisar Jepang dengan cara membungkuk ke arah matahari terbit) dan penderitaan akibat kesewenangan Jepang. Kiai Zainal Mustofa akhirnya ditangkap pada tanggal 25 Februari 1944 dan pada tanggal 25 Oktober 1944 beliau dihukum mati. 3) Perlawanan di Indramayu Dengan alasan dan sebab yang hampir sama, di Indramayu juga muncul pemberontakan terhadap Jepang. Pemberontakan tersebut terjadi di Desa Kaplongan. Perlawanan terjadi pada bulan April 1944. Beberapa bulan kemudian tepatnya tanggal 30 Juli 1944 terjadi pemberontakan di Desa Cidempet, Kecamatan Loh Bener.4) Perlawanan di Blitar (Pemberontakan PETA) Pada tanggal 14 Februari 1945 di Blitar terjadi pemberontakan yang dilakukan para tentara PETA (Pembela Tanah Air), di bawah pimpinan Supriyadi.