Apa Yang Menyebabkan Kegagalan Serangan Aceh Kepada Portugis?

0 Comments

Apa Yang Menyebabkan Kegagalan Serangan Aceh Kepada Portugis
Pada tahun 1629 Sultan Iskandar Muda menyerang kedudukan Portugis yang pada saat itu masih berpusat di Malaka. Sultan Iskandar Muda tersebut kemudian mengerahkan seluruh kekuatan tentara Aceh untuk mengalahkan Portugis. Usaha yang dilakukan oleh kesultanan Aceh tersebut mengalami kegagalan, karena kekurangan persenjataan dan strategi bahkan pasukan tentara yang telah dikerahkan oleh Sultan Iskandar Muda dapat dipukul mundur oleh pasukan Portugis yang menggunakan persenjataan modern dan taktik yang sistematis. Dengan demikian, maka pilihan jawaban yang tepat adalah A

Dari pernyataan di atas manakah yang menjadi faktor kegagalan Adipati Unus dalam menyerang Portugis di Malaka?

Adipati Unus atau Pate Unus adalah menantu dari Raden Patah yang merupakan Sultan Demak pertama. Dalam upaya untuk menyingkirkan hegemoni Portugis di Malaka maka Adipati Unus diutus untuk menyerang Portugis yakni pada tahun 1513. Serangan pertamanya ini mengalami kegagalan, akan tetapi kembalinya dari Malaka ini Adipati Unus mendapat julukan Pangeran Sabrang Lor.

  1. Percobaan berikutnya pada tahun 1521 setelah dia menduduki tahta sebagai Sultan Demak, dilakukan kembali usaha untuk menyerang Portugis di Malaka untuk kedua kalinya.
  2. Akan tetapi serangan ini lagi-lagi mengalami kegagalan, meskipun Adipati Unus memiliki jumlah pasukan yang beras.
  3. Egagalan Adipati Unus dalam menyerang Portugis dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu jarak yang terlalu jauh, peralatan dan persenjataan yang kurang, serta strategi perang yang kurang jitu.

Oleh karena itu, jawaban yang paling benar adalah C – Adipati Unus atau Pate Unus adalah menantu dari Raden Patah yang merupakan Sultan Demak pertama. Dalam upaya untuk menyingkirkan hegemoni Portugis di Malaka maka Adipati Unus diutus untuk menyerang Portugis yakni pada tahun 1513.

  • Serangan pertamanya ini mengalami kegagalan, akan tetapi kembalinya dari Malaka ini Adipati Unus mendapat julukan Pangeran Sabrang Lor.
  • Percobaan berikutnya pada tahun 1521 setelah dia menduduki tahta sebagai Sultan Demak, dilakukan kembali usaha untuk menyerang Portugis di Malaka untuk kedua kalinya.
You might be interested:  Masjid Peninggalan Kerajaan Aceh Yang Dibangun Pada Masa Pemerintahan?

Akan tetapi serangan ini lagi-lagi mengalami kegagalan, meskipun Adipati Unus memiliki jumlah pasukan yang beras. Kegagalan Adipati Unus dalam menyerang Portugis dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu jarak yang terlalu jauh, peralatan dan persenjataan yang kurang, serta strategi perang yang kurang jitu.

Bagaimana Perang Aceh itu bisa berakhir?

Akhir Perang Aceh – Untuk memenangkan Perang Aceh, Belanda menggunakan siasat berupa penyamaran Snouck Hurgronje ke pedalaman Aceh. Tujuan penyamaran ini adalah untuk mengetahui titik lemah perjuangan rakyat Aceh. Selama dua tahun menyamar, Snouck Hurgronje akhirnya bisa memberikan sejumlah usul kepada Kerajaan Belanda untuk dapat mengalahkan Aceh.

Usulan itu salah satunya dengan merebut hati rakyat Aceh. Menurut Hurgronje, Belanda harus menunjukkan niat baik kepada rakyat Aceh dengan pembangunan sarana prasarana seperti masjid, surau, jalan, dan sebagainya. Siasat Snouck Hurgronje itu diterima dan dijalankan oleh Belanda. Alhasil lambat laun Belanda dapat melemahkan kekuatan perlawanan Aceh.

Perang Aceh diakhiri dengan surat perjanjian tanda menyerah atau Traktat Pendek. Pada tahun 1903, Sultan Alauddin Muhammad Daud Syah dan Panglima Polem menyerah setelah mengalami tekanan luar biasa. Dalam perjanjian penyerahan diri itu, seluruh wilayah Aceh dikuasai Hindia Belanda dan Kesultanan Aceh dibubarkan.

Meski demikian, pada kenyataannya Belanda tidak sepenuhnya menguasai Aceh. Selain itu, perlawanan demi perlawanan terus dilakukan oleh rakyat Aceh. Sumber: Kompas.com Unej.ac.id Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram “Kompas.com News Update”, caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join.

Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Mengapa Sultan Iskandar Muda memblokade perdagangan di Aceh?

Sejarah perlawanan rakyat Aceh terhadap Portugis sudah terjadi sejak abad ke-14 Masehi. Selama bertahun-tahun lamanya, Portugis menjadi musuh Kesultanan Aceh Darussalam yang saat itu dipimpin Sultan Ali Mughayat Syah (1514-1528). Aceh semakin tumbuh menjadi kekuatan besar pada masa pemerintahan sultan Iskandar Muda.

Pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda, rakyat Aceh kembali menyerang Portugis. Dalam upaya melawan Portugis di Malaka, Sultan Iskandar Muda tidak hanya melakukan serangan fisik, namun melakukan blokade perdagangan agar kekuatan Portugis di Malaka goyah. Sultan Iskandar Muda melarang daerah-daerah yang dikuasai Aceh menjual lada dan timah kepada Portugis.

PORTUGIS KENA BACEM RAKYAT ACEH – PERANG ACEH PORTUGIS

Cara ini dimaksudkan agar kekuatan Portugis benar-benar lumpuh karena tidak memiliki barang yang harus dijual di Eropa. Upaya ini tidak berhasil sepenuhnya karena penguasa daerah yang merasa membutuhkan pemasukan secara sembunyi-sembunyi menjual barang dagangan kepada Portugis.

You might be interested:  Alamat Kantor Lion Air Banda Aceh?

Apa yang menjadi kegagalan serangan Kerajaan Mataram terhadap VOC?

Serangan pertama Sultan Agung ke Batavia (1628) – Pada 1628, Sultan Agung mengirim pasukan untuk melakukan serangan pertama ke VOC di Batavia. Serangan Sultan Agung ke Batavia yang pertama dipimpin oleh Tumenggung Baureksa, bupati Kendal. Strategi serangan pasukan Sultan Agung di Batavia pada 1628 adalah dengan membendung Sungai Ciliwung agar benteng VOC kekurangan air.

  • Meski strategi ini berhasil membuat pihak VOC terjangkit wabah kolera, tetapi dominasi Belanda belum bisa dipatahkan.
  • Pada akhirnya, pasukan Mataram memilih mundur dan kembali ke kerajaannya.
  • Mundurnya perlawanan Mataram terhadap Belanda di Batavia disebabkan oleh beberapa hal, yaitu kalah persenjataan, stamina pasukan terkuras, dan kekurangan bahan makanan.

Baca juga: Raja-Raja Kerajaan Mataram Islam

Berapa tahun Aceh dijajah oleh Belanda?

“DEMI Allah! Polim masih hidup! Bait hidup! Imam Longbata hidup! Sultan Daud Hidup! Tuanku Hasyim hidup! Menantuku, Teuku Majet di Tiro masih hidup! Anakku Cut Gambang masih hidup! Ulama Tanah Abee hidup! Pang La’ot hidup! Kita semua masih hidup! Belum ada yang kalah! Umar memang telah syahid! Marilah kita meneruskan pekerjaannya! Untuk agama! Untuk kemerdekaan bangsa kita! Untuk Aceh! Allahu Akbar!” Begitu Cut Nyak Dien menggelorakan semangat rakyat Aceh untuk terus menghunus rencong melawan Belanda meski Teuku Umar telah gugur.

  • Namun, Cut Nyak akhirnya menyerah kepada Belanda pada 1900-an awal.
  • Saat itulah Aceh baru benar-benar jatuh ke tangan Belanda.
  • Aceh menjadi wilayah Nusantara terakhir yang jatuh ke tangan penjajah.
  • Bila dikatakan Indonesia dijajah Belanda selama 350 tahun, Aceh secara utuh dijajah Belanda kurang dari 50 tahun.

Bila di buku-buku pelajaran sejarah dikatakan Indonesia dijajah selama 350 tahun, orang Aceh akan berkata, “Oh itu Jawa, bukan Aceh.” Kita semua termasuk anak-anak sekolahan tahu dan hafal Perang Jawa atau Perang Diponegoro terjadi selepas Magrib, pukul 18.25-18.30, plesetan dari tahun 1825-1830.

You might be interested:  Konflik Sosial Yang Terjadi Di Aceh Singkil, Tahun 2015?

Akan tetapi, mungkin cuma segelintir yang paham Perang Jawa itu perang antara penguasa dan pemberontak. Belanda penguasa dan Diponegoro pemberontak. Perang Aceh perang dua negara berdaulat, yakni negara Aceh dan negara Belanda. Bila kita saksikan bagaimana Cut Nyak Dien menggelorakan perlawanan rakyatnya kepada Belanda, jelas semangat keacehan dan keislaman yang menjadikan Aceh bertahan begitu lama dari upaya penaklukkan oleh penjajah.

Keacehan dan keislaman dalam fase sejarah berikutnya disertai semangat keindonesiaan, kebangsaan, dan nasionalisme. Bireuen, Aceh, pernah menjadi ibu kota negara pada 1948 selama sepekan. Pun orang Aceh patungan, mengumpulkan uang secara bersama-sama, untuk membeli pesawat pertama Republik.

  1. Justru pemerintah pusat pada satu masa mengabaikan Aceh.
  2. Pada 1950-an Aceh turun status dari provinsi menjadi keresidenan bagian provinsi Sumatra Utara.
  3. Inilah yang membuat Daud Beureueh memberontak.
  4. Pemberontakan ‘diteruskan’ Gerakan Aceh Merdeka dan berlangsung hingga masa reformasi.
  5. Pemberontakan membuat Aceh mendapat perlakuan khusus secara politik dan militer.

Pun secara ekonomi, terutama semasa Orde Baru, rakyat Aceh merasa terdiskriminasikan. Aceh begitu kaya alamnya, tetapi miskin rakyatnya. Saat menjadi presiden, Gus Dur mengintroduksi syariat Islam di Aceh. Ganjil bin ajaib tokoh pluralisme sekaliber Gus Dur mengizinkan penerapan syariat Islam.

  • Zaini Abdullah, tokoh GAM, waktu itu mengatakan Gus Dur melakukan itu untuk meredam perlawanan GAM.
  • Padahal, GAM gerakan etnonasionalisme yang memperjuangkan keacehan atau nasionalisme Aceh, bukan keislaman.
  • Toh, syariat Islam akhirnya berlaku di Aceh dan semakin luas penerapannya.
  • Yang penting, jangan sampai penerapan syariat Islam menjadikan Aceh terasing dari keacehannya sendiri dan keindonesiaan.

Tsunami 2004 membuka jalan bagi perdamaian di Aceh. GAM menjadi partai lokal. Beberapa partai lokal lain lahir.