Apa Yang Digunakan Para Pahlawan Aceh Melawan Belanda?

0 Comments

Apa Yang Digunakan Para Pahlawan Aceh Melawan Belanda
Taktik perang gerilya – Perang Aceh yang dipimpin oleh para pahlawan menggunakan taktik perang gerilya. Perang gerilya adalah taktik yang dilakukan dengan cara sembunyi-sembunyi, cepat, dan lewat sabotase. Menurut sejarah, taktik ini dianggap sangat membantu para pejuang untuk menyerang musuh yang memiliki pasukan yang banyak.

Apa itu taktik Marsose?

Keberingasan Maréchaussée di Aceh – Sebagaimana Depot Specialetroepen (DST) yang kemudian berubah menjadi Korps Specialetroepen (KST) sebagai “penerusnya” di periode 1946-1949, Marsose merupakan pasukan khusus tentara kolonial Belanda. Ketiganya juga sama-sama berdarah dingin dalam melakoni tugas.

“Korps Maréchaussée atau Marsose merupakan prajurit pilihan dari serdadu terbaik. Operasi gerilya lawan gerilya adalah konsep personel Marsose yang mengharuskan prajurit hidup seperti lawannya, yakni para pejuang Aceh di rimba yang buas dan kerapkali harus bertempur satu lawan satu dengan kelewang. Keberadaan Korps Marsose mendahului KST yang kemudian menjadi cikal-bakal Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) yang kini dikenal sebagai Komando Pasukan Khusus (Kopassus) TNI AD,” tulis Jean Rocher dan Iwan “Ong” Santosa dalam KNIL: Perang Kolonial di Nusantara dalam Catatan Prancis.

Perang Aceh yang bergulir sejak 1873 menjadi pertempuran terlama dan paling menguras keuangan pemerintah Hindia Belanda dibanding perang-perang kolonial lainnya. Kendati pemerintah mengklaim memenanginya pada 1904, faktanya perlawanan rakyat Aceh masih berjalan sampai Jepang datang tahun 1942 dan menewaskan lebih dari 37 ribu personel pasukan Hindia Belanda. Joannes Benedictus van Heutsz (kiri) & Gottfried Coenraad Ernst “Frits” van Daalen yang membentuk Marsose (Tropenmuseum) Terlepas dari banyaknya kerugian yang diderita pemerintah kolonial, Perang Aceh sedikit demi sedikit bisa diredam pasukan Maréchaussée berkat efektivitasnya,

Kelahiran Marsose merupakan perwujudan dari gagasan yang dilontarkan seorang jaksa (beberapa sumber menyebut bekas jaksa) di Kutaraja (kini Banda Aceh) bernama Mohamad Arif (beberapa sumber menyebut Muhammad Syarif). “Seorang anak Minang yang banyak berjasa membantu Belanda memenangkan Perang Aceh, yakni Muhammad Arif.

Dia menjabat jaksa di Aceh sewaktu kedudukan Belanda hanya bertahan. Sekitar 1885 muncullah Muhammad Arif dengan gagasannya. Kumpulkan para sukarelawan dari kalangan tentara, katanya, yang cukup berani mendekati musuh, berani menaklukkannya dalam pertarungan jarak dekat.

Mereka harus dipersenjatai dengan senjata tajam seperti orang Aceh, mencari musuh di tempat-tempat persembunyian mereka dan menghancurkan mereka,” ungkap Rusli Amran dalam Padang: Riwayatmu Dulu. Selain itu, kata Arif, pasukan itu harus dibentuk dengan unit-unit kecil dan persenjataan serta perlengkapan ringan agar lebih mudah bermanuver.

Perlawanan Panjang Rakyat Aceh – SINGKAP

Gagasan itu ia sampaikan kepada Gubernur Militer Aceh Jenderal Henri Karel van Teijn dan kepala staf Kapten Joannes Benedictus van Heutsz. Ketika gagasannya disetujui, termasuk oleh pemerintah pusat di Batavia, hasilnya adalah Marechaussee te Voet.

You might be interested:  Apakah Isi Plakat Pendek Yang Mengakhiri Perlawanan Aceh Terhadap Belanda?

Apa yang dimaksud dengan stelsel konsentrasi?

Jawaban: Konsentrasi stelsel adalah sistim garis pemusatan dimana belanda memusatkan pasukannya di benteng-benteng sekitar kota termasuk kota raja. Pasukan aceh tetap bertahan di daerah-daerah,sekali-sekali melakukan serangan yang cukup mengkhawatirkan pihak belanda. MAAF KALO SALAH

Apa tujuan dari konsentrasi stelsel?

Dalam perang Aceh fase kedua, perlawanan yang dilakukan oleh pihak kerajaan Aceh makin sengit dengan adanya kombinasi dari golongan Ulama dan Golongan Uleebalang (bangsawan). Pemerintah Belanda yang merasa kewalahan dengan taktik tersebut akhirnya menggunakan taktik Konsentrasi Stelsel dengan tujuan untuk menjaga garis pertahanan dan juga menjaga wilayah kekuasaan mereka agar tidak disusupi oleh pasukan Aceh.