Apa Makna Beulangong Dalam Bahasa Aceh?

0 Comments

Apa Makna Beulangong Dalam Bahasa Aceh
Cara Memasak Kuah Beulangong – Sebelum membahas cara memasak Kuah Beulangong, apakah Anda sudah tau apa itu kata “Beulangong”? “Beulangong” artinya kuali besar atau belanga yang digunakan untuk memasak masakan khas Aceh ini. Ukurannya dipilih yang besar, berdiameter sekitar satu meter.

Apa Makna Beulangong Dalam Bahasa Aceh
Mengaduk harus dilakukan dengan tangan agar bumbu dapat masuk meresap kedalam daging tersebut – Foto: loveaceh.com/Mustajib

Selanjutnya siram dengan air putih secukupnya, aduk lagi dengan tangan. Tunggu sampai daging masak setengah matang, serta sampai bumbunya meresap sempurna. Siapkan buah nangka muda tadi atau bisa juga di tambah dengan buah pisang kapok yang telah di potong kecil-kecil, lalu masukkan ke dalam kuali bersama bawang yang telah dirajang. Tambahkan air lagi, dan biarkan hingga masak.

Apa Makna Beulangong Dalam Bahasa Aceh
Proses mengaduk Kuah Beualangong – Foto: loveaceh.com/Mustajib

Aroma bumbu yang keluar berbarengan dengan asap sangat menggoda dan gurih. Nah, Kuah Beulangong siap untuk disantap dengan nasi putih hangat. Tapi jangan menyantapnya dengan mencampur kuah masakan lain, karena sensasi kelezatan khas Kuah Beulangong ini tidak akan Anda dapatkan.

Apa Makna Beulangong Dalam Bahasa Aceh
Anak-anak tertib dan sabar menunggu sampai giliran disuruh ambil dan dimakan secara bersama-sama – Foto: loveaceh.com/Mustajib

Kuah Beulangong memang tidak dapat di pisahkan bagi warga Gampong Lamleubok atau pun Gampong-gampong lain di Kabupaten Aceh Besar dan Kota Banda Aceh. Karena Kuah Beulangong selain menjadi menu utama dalam setiap ada hajatan besar, Kuah Beulanong ternyata bisa menjalin silaturahmi antar warga dan membentuk persatuan.

Apakah bahasa Aceh memiliki ungkapan emosional?

BELAJAR BAHASA ACEH ||part 2

Dalam kehidupan sehari-hari, orang sangat sering mengungkapkan ungkapan emosionalnya, baik dalam bentuk kata, kelompok kata, maupun kalimat. Ungkapan emosional ini diucapkan di mana saja, misalnya di warung, di kedai, di sekolah, dan diucapkan oleh siapa saja, misalnya orang tua, guru, pejabat, buruh bangunan.

Dapat dikatakan bahwa ungkapan emosional merupakan salah satu bentuk kebiasaan masyarakat. Satu hal yang tak dapat dipungkiri adalah setiap bahasa di dunia ini memiliki ungkapan-ungkapan emosional. Un­gkapan-ungkapan itu dipakai dalam berbagai tempat dan situasi. Sebut saja bahasa Indonesia. Bahasa ini memiliki ungkapan-ungkapan emosional seperti sialan, bajingan, pantengong, anak bau kencur.

Bahasa lain pun demikian, seperti bahasa Inggris, juga memiliki ungkapan emosional seperti fuck you, dam, bullshit, Ungkapan-ungkapan emosional, baik dalam bahasa Indonesia maupun dalam bahasa Inggris itu dipakai untuk mengungkapkan amarah, kesal, benci.

  • Namun, tidak tertutup kemungkinan juga dapat untuk mengungkapkan rasa senang dan gembira.
  • Selain bahasa-bahasa di atas, bahasa Aceh juga memi­liki ungkapan emosional.
  • Bahasa ini juga memiliki kata, kelompok kata, atau kalimat yang berisi ungkapan emo­sional, yang dipakai dalam berbagai suasana dan tempat.
You might be interested:  Bagaimana Runtuhnya Kerajaan Aceh Darussalam Dan Apa Penyebabnya?

Perhatikan data-data berikut ini!

Informan dari Nagan Raya Informan dari Aceh Barat Informan dari Aceh Selatan Informan dari Sigli
bret mak kah kajak pap leumo kajak u bui jak kajak u bui lôp keudéh aneuk hana diaja pap ma kah waba kareuh aneuk glanteutak geureuda sampoh pantèk ma bret ma ék leumo bui/asai+kata ganti orang ék kilang ék glang ulai bak teuôt lagai ulai kamèng teutôt jampôk bui sugôt aneuek umpeun rimung aneuk glanteutak rimung sampôh waba puta umpeun ta’eun breut ma aneuk bajeung aneuk arakatèe pukoe leumo jak pap ma lam boh ku pukèe ma jak lét asèe jak lét ma keudéh lam makeuh

Ungkapan-ungkapan emosional yang disebutkan di atas tentu baru sebagian. Masih banyak ungkapan emosional lain yang jika didokumentasikan dapat mencapai pulu­han ungkapan, baik dalam bentuk kata, kelompok kata, maupun kalimat. Ditinjau dari segi makna, nuansa yang terkandung dalam ungkapan-ungkapan emosional di atas lebih tinggi.

  1. Arti­nya, jika ungkapan-ungkapan itu diucapkan kepada ses­eorang, orang yang mendengar tentu akan sangat marah.
  2. Arena tingginya nuansa makna yang terkandung dalam ungkapan-ungkapan ini, penerjemahan ke dalam bahasa lain tak dapat dilakukan.
  3. Meskipun penerjemahan dapat dilakukan, hasil terjemahan tersebut memiliki nuansa makna yang berbeda dengan ungkapan yang berasal dari bahasa yang diterjemahkan.

Coba baca kalimat ini! Bit-bit nyo kah lagèe kamèng teutet. Bandingkan nuansa makna kalimat tersebut dengan kalimat hasil terjemahan ini! Kamu benar-benar seperti kepala kambing yang dibakar. Ditinjau dari segi pilihan kata, ungkapan-ungkapan emo­sional dalam bahasa Aceh tampaknya memilih kata-kata yang memiliki derajat kesopanan yang rendah, misalnya ‘ok, pap, bret, arakatè/arekatè.