Objek Wisata

Yuk, Napak Tilas Sejarah Turki di Bitai

  • Bitai (3)
  • Bitai (2)
  • Bitai (1)
  • Bitai (4)
Next
  • Bitai (3)
  • Bitai (2)
  • Bitai (1)
  • Bitai (4)
Previous
Foto: Yayan

Banda Aceh – Ingin mengetahui lebih dalam tentang hubungan Aceh dan Turki? Anda dapat berkunjung ke Gampong (Desa) Bitai, Kecamatan Jaya Baru, Kota Banda Aceh. Desa ini menjadi saksi sejarah bagaimana Aceh membina hubungan sangat dekat dengan Negara Turki.

Di sini, tersimpan fakta yang menunjukkan hubungan antara Banda Aceh dan Kekhilafahan Turki Utsmani. Sebab di tempat ini, banyak makam warga Turki (menurut catatan, ada 48 buah makam para guru, ustad, juga petugas militer) Kekhilafahan Turki Utsmani yang pernah bertugas di Aceh.

Sejarah mencatat untuk membantu melatih para rakyat Aceh mengusir penjajah, Turki Utsmani mengirimkan bantuan berupa materil dan nonmateril. Senjata lengkap dengan tentara dan pelatihnya. Ilmu lengkap dengan pengajarnya dan lain sebagainya.

Bitai adalah sebuah desa/kelurahan di Kecamatan Jaya Baru, Banda Aceh. Sebelum terjadi Gempa Bumi dan Tsunami pada 26 Desember 2004, penduduknya berjumlah 1.580 jiwa. Dari hasil sensus pasca tsunami diketahui jumlah penduduknya sekarang berjumlah 421 jiwa (2005).

Alkisah, semula para ulama Turki ingin mengajarkan Islam di Aceh dan pasantren, Perkembangan Islam di Bitai selanjutnya sangat maju karena banyak orang luar Aceh yang belajar untuk memperdalam agama Islam.

Awal Agustus 2016 lalu, sejumlah komunitas pencinta sejarah di Aceh memperingati 477 tahun hubungan Aceh dan Turki. Selain melakukan napak tilas sejarah lewat berbagai syair dan tausiyah, kegiatan ini juga mengukuhkan bahwa Desa Bitai adalah lokasi wisata sejarah di Kota Banda Aceh.

Ketua Lembaga Sejarah Indatu Lamuria Aceh (SILA), Muammar Al-Farisi berharap, kutuhan sejarah hubungan Aceh dan Turki bisa terus terjaga di Bitai. “Sehingga siapapun yang berkunjung ke Aceh dan ingin mengetahui sejarah Aceh, mereka bisa lihat satu diantaranya ada di sini, di Bitai,” jelas Muammar, 10 Agustus 2016.

Di kompleks pemakaman ini, terdapat lebih kurang 25 makam yang mengelilingi makam Sultan Salahuddin. Tujuh di antara makam itu terbuat dari batu cadas dan 18 lainnya terbuat dari batu sungai. Secara keseluruhan batu nisanya berbentuk segi delapan dan hiasannya bertuliskan kaligrafi dengan bahasa arab. Pada bagian bawah nisan terdapat pola luas tumpal, puncak nisan cembung di atasnya terdapat lingkaran sisi delapan.

Di dalam kompleks makam ini juga terdapat sebuah masjid dengan tiga buah kubah berwarna hijau jamrud. Selain itu juga ada bangunan berukuran 6×6 meter. Di dalam bangunan ini terdapat satu miniatur kapal yang dibingkai dengan kaca. Di dinding dalam ruangan tersebut digantung lukisan Sultan Selim.

Nama Bitai diambil untuk mengenang asal orang Turki tersebut dari Palestina atau Bayt Al-Maqdis, nama lain dari Yerussalem tempat Masjid Al-Aqsa berada. Desa Bitai berdekatan dengan Desa Emperom yang sekarang dijadikan satu kawasan perkampungan Turki.

Lin Hazimah (19 tahun), seorang mahasiswi dari Islam Science University Malaysia, mengaku sangat beruntung bisa berkunjung ke kawasan Bitai. “Saya bisa menambah lagi khazanah sejarah Islam, yang sebelumnya saya belum tahu,” ujarnya.

Menurut Lin, Aceh selalu menjadi referensi bagi mahasiswa di Malaysia yang ingin mempelajari sejarah Islam di Asia Tenggara. “ Dengan melawat kesini, kita jadi banyak tambahan pengetahuan, dan lokasi ini cocok sekali untuk wisata sejarah Islam,” katanya. [Yayan]

Baca juga:
Foto: Dubes Turki Ziarah ke Makam Tgk di Bitai