Objek Wisata

Top 10 Masjid Banda Aceh
Masjid Lueng Bata

  • lueng bata6
  • lueng bata5
  • Photos: Ahmad Ariska
  • lueng bata3
  • Lueng Bata1
  • Luneg bata2
Next
  • lueng bata6
  • lueng bata5
  • Photos: Ahmad Ariska
  • lueng bata3
  • Lueng Bata1
  • Luneg bata2
Previous

Banda Aceh – Sebuah baliho terpasang besar di bagian depan Masjid Jamik Lueng Bata Banda Aceh. Baliho itu bertuliskan, bahwa pembangunan mesjid akan dilanjutkan dengan membangun tempat wudhu demi kenyamanan jamaah. Tak lupa ajakan kepada warga untuk membantu dana seikhlasnya demi pembangunan tersebut.

Ajakan melibatkan warga ini disengaja oleh pihak pengurus Masjid, agar nilai kebersamaan antar sesama umat terus terjaga, demikian dikatakan Imuem Mukim Lueng Bata, Mukhtar Hasan. “Karena dulu sejarahnya Masjid Jamik Lueng Bata ini juga dibangun atas dasar gotong royong masyarakat, baik bangunan mesjid lama (mesjid tuha) maupun bangunan yang baru sekarang ini,” jelasnya.

Untuk bangunan mesjid yang baru, sebut Mukhtar Hasan, pembangunannya dimodali oleh beras segenggam warga. “Dimana warga menabung dengan beras, segenggam demi segenggam, setiap bulan beras dikumpulkan di masjid dan kemudian beras-beras ini dijual untuk dibelikan material.”

Masjid Lueng Bata merupakan salah satu mesjid yang menyimpan nilai historis tinggi. Keberadaan masjid ini terkait dengan perjalanan sejarah panjang dari perjuangan masyarakat Aceh melawan penjajah Belanda. Masjid Jamik Lueng Bata terletak tidak jauh dari jalan Banda Aceh-Medan, tepatnya di Simpang Muhammadiyah. Daerah ini termasuk ke dalam daerah administrasi Desa Cot Masjid, Kecamatan Lueng Bata Kota Banda Aceh.

Di dalam komplek Masjid Lueng Bata terdapat dua bangunan, yaitu masjid tuha (lama) dan masjid baru. Bangunan lama merupakan peninggalan sejak zaman Belanda dan sedangkan masjid baru yang tidak jauh dari mesjid lama dibangun tahun 1968, dimana peletakan batu pertamanya dilakukan oleh Menteri Agama RI kela itu, KH Muhammad Dahlan.

Sejak diresmikannya masjid baru, masjid tuha tidak lagi digunakan untuk kegiatan keagamaan dengan alasan ukurannya sangat sempit sehingga tidak bisa menampung jamaah lagi. Masjid tuha hanya berukuran 10 x 12 meter, dengan kubah satu bersegi empat dan tidak bertingkat. Berdinding tebal sehingga dapat dijadikan benteng apabila sewaktu waktu terjadi penyerangan dari pihak Belanda.

Keberadaan nama Lueng Bata sudah ada sejak zaman Kerajaan Aceh. Saat itu Lueng Bata merupakan wilayah yang dikatagorikan sebagai sebuah mukim dengan Uleebalangnya bernama Teuku Raja. Berbeda dengan Sagi XXV mukim, Sagi XXVI dan Sagi XXII mukim. Mukim Lueng Bata merupakan wilayah yang diperintah langsung oleh Sultan. Walaupun mukim ini mempunyai wilayah lebih kecil dibandingkan dari ketiga Sagi, namun kedudukan pemimpinnya (Imum Mukim) setara dengan panglima sagi yang mengepalai XXV mukim, Sagi XXIV dan Sagi XXII mukim (KFH Van Langen 1888).

Pada zaman perang Kolonial Belanda di Aceh, Lueng Bata memegang peranan yang sangat penting. Demikian pula pemimpin Mukim Lueng Bata, Tengku Imum Lueng Bata. Ketika agresi Belanda kedua terhadap Kerajaan Aceh, Kraton (Dalam) terus menerus dibombardir oleh Belanda. Wabah kolerapun sedang berjangkit. Sultan, Panglima Polem dan Teuku Baet, menyingkir ke Lueng Bata. Pada waktu Dalam direbut oleh Belanda pada tanggal 24 Januari 1874, Belanda diminta untuk menghentikan serangan dengan harapan agar dapat memaksa sebuah persetujuan perdamaian. Pada waktu itu Sultan Mahmudsyah terkena kolera dan mangkat pada tanggal 29 Januari di Pagar Ayee (tidak jauh dari Lueng Bata), dan dimakamkan di Cot Bada, Samahani, Aceh Besar. Walaupun Dalam telah jatuh dan Sultan telah tiada, namun pasukan Aceh masih tetap terpelihara semangat juangnya.

Begitulah Lueng Bata, menjaga sejarah termasuk masjidnya. Kini Ada banyak aktifitas keagamaan yang dilakukan di Masjid Lueng Bata, di antaranya pengajian warga dan pendidikan alquran bagi anak-anak. “Kami berharap pembangunan masjid ini bisa selesai dan sempurna dalam waktu tidak terlalu lama, sehingga warga pun bisa beribadah dengan nyaman,” harap Mukhtar Hasan. [Yayan]