Objek Wisata

Top 10 Masjid Banda Aceh
Masjid Al-Huda Kampung Laksana

  • alhuda7
  • Photos: Ahmad Ariska
  • alhuda5
  • alhuda4
  • alhuda3
  • alhuda2
  • alhuda1
Next
  • alhuda7
  • Photos: Ahmad Ariska
  • alhuda5
  • alhuda4
  • alhuda3
  • alhuda2
  • alhuda1
Previous
Foto: Ahmad Ariska

Banda Aceh – Tumbuh dan berkembang di pusat perkampungan yang padat, keberadaan Masjid Al-Huda Kampung Laksana, memiliki riwayat tersendiri, mulai dari kisah pengorbanan para warga hingga menjadi pemersatu bagi masyarakat yang heterogen.

Dibangun tahun 1965, awalnya mesjid Al-Huda hanya berbentuk sebuah rumah. Seorang warga yang kurang dikenal namanya, di Lorong Tiga, Kampung Laksana, merelakan rumah kediamannya untuk “dipermak” dan kemudian dijadikan tempat beribadah umat muslim alias meunasah. “Karena kebutuhan masyarakat akan tempat ibadah saat itu, makanya ada seorang warga yang merelakan tanah dan rumahnya direhab dan digunakan untuk tempat ibadah,” kisah Razali (57 tahun), Wakil Bendahara Masjid Al-Huda, Kampung Laksana Banda Aceh, awal November 2016.

Awalnya berstatus meunasah, namun bertahun-tahun kemudian, warga dengan bergotong royong membeli lahan untuk membangun masjid yang permanen.

Masjid yang kini berstruktur beton dan berlantai dua ini, sebagian besar dibangun atas dasar swadaya masyarakat. Tahun 1980, Masjid dibangun secara permanen di kawasan pusat Kampung Laksana Banda Aceh. “Lokasi masjid dipindah karena memang kebutuhan warga, walau lahannya tak begitu luas, namun masjid bisa menampung seluruh jemaah warga kampung Laksana,” ujar Razali.

Berada di pusat perkampungan yang padat, dikelilingi oleh penduduk yang heterogen, keberadaan Masjid Al-Huda justru menjadi penyeimbang bagi kehidupan masyarakat yang memiliki kepercayaan beragam. “Di sini kami hidup di lingkungan yang berbeda, ada banyak juga penduduk non muslim tinggal di sini tapi justru masjid menjadi perekat kehidupan bersosial dan beragama. Warga saling menghormati dan saling membantu, tak salah, jika masjid ini menjadi kebanggaan warga Kampung Laksana,” jelas Razali.

Masjid yang didominasi warna kuning keemasan ini dibangun diatas tanah seluas 1.572 meter persegi. Memiliki ruang utama dengan luas 16×20 meter persegi, sehingga bisa menampung sebanyak 1.500 jemaah. Pada tahun 2000, dengan hasil swadaya masyarakat juga, pengurus masjid membangun sebuah menara yang berada di sisi barat masjid.

“Ada banyak aktifitas masjid saat ini, ada pengajian umum, pengajian subuh, pengajian khusus kaum hawa, bahkan pengajian anak-anak atau taman pendidikan al-quran,” ujar Razali.

Menjadi pengurus masjid sejak tahun 2011 lalu, Razali mengatakan ada banyak hal yang masih ingin diwujudkan oleh pengurus masjid, di antaranya adalah membangun sebuah taman pendidikan Alquran yang permanen dengan bangunan yang khusus, sehingga menjadi sebuah lembaga pendidikan bagi anak-anak, tidak hanya di kawasan Kampung Laksana, tapi juga di Kota Banda Aceh. Harapannya, bisa mencetak generasi qurani yang terus bergulir, “dan mendekatkan selalu anak-anak dan generasi muda pada kehidupan masjid,” katanya. [Yayan]