Misteri Akustik di Masjid Aceh

RAUT bahagia terpancar dari Khairil Anwar (24) saat menginjak kaki di Masjid Tuha Indrapuri, Aceh Besar. Ini kali pertama ia berkunjung setelah sekian lama mendengar cerita tentang masjid bersejarah yang terletak di tepian Krueng Aceh, Peukan Indrapuri, 24 kilometer arah utara Kota Banda Aceh.

Setelah berkeliling mengabadikan segala sudut masjid dengan kamera ponselnya, mahasiswa Kedokteran Gigi Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) ini, minta temannya memotretnya sendiri dengan latar bangunan masjid. “Buat kenang-kenangan,” ujarnya beberapa waktu lalu.

Khairil mengaku tenang berada dalam masjid ini, suasananya lebih menyatu dengan alam. “Suhunya tidak terlalu lembab seperti masjid beton. Suara kita di dalam juga lebih jelas terdengar. Kalau masjid beton agak berdengung,” katanya.

Masjid Indrapuri berdiri di area 33.875 meter persegi, denah bangunannya berbentuk bujur sangkar seukuran dua kali lapangan voly. Keseluruhannya berkontruksi kayu dengan beberapa ukiran. Tinggi bangunan mencapai 11,65 meter. Terdapat 36 tiang penyangga, berikut kuda-kuda penopang atap. Di depan masjid terdapat bak wudhu, khas masjid-masjid Aceh masa lalu.

Menurut sejarah masjid ini dibangun oleh Sultan Iskandar Muda (1607-1636) di atas reruntuhan Pura sekaligus benteng pertahanan Kerajaan Hindu Lamuri. Pura itu diperkirakan sudah ada sejak abad 10 M. Sementara masjid ini diyakini berdiri dari tahun 1207 Hijriah atau 1618 M.

Masjid Indrapuri merupakan saksi bisu berbagai peristiwa penting sejarah Aceh masa lalu. Di sini, Sultan Alaidin Muhammad Daud Syah (1884-1903) dinobatkan sebagai Raja Aceh. Ketika Istana Dalam dikuasai Belanda, masjid ini menjadi pusat pemerintahan Kesultanan Aceh sekaligus basis pertahanan pasukan Aceh.

Selain sejarahnya yang memukau, Masjid Indrapuri juga menyimpan banyak keunikan, salah satunya adalah arsitektur yang penuh seni dan kesederhanaan. Atap masjid ini yang berbentuk persegi dan mengerucut seperti piramida atau tumpang tersusun tiga, yang tiap susunannya menyisakan celah udara, menyiratkan nilai kosmopolitan Aceh.
Gaya atap mengerucut tersusun tiga ini diyakini sebagai perpaduan unsur Aceh dan budaya Hindu kuno sebagai corak bangunan masa lalu adalah kekayaan sejarah yang kini mulai dilupakan. Rata-rata masjid yang dibangun ketika Islam berkembang di Aceh waktu itu mengikuti pola seperti ini; beratap piramid.

Masjid Raya Baiturrahman sendiri bangunan aslinya juga serupa. Setelah dibakar Belanda pada 1873, masjid ini kemudian dibangun kembali kolonial. Kontruksi dan arsitekturnya dibuat lain dengan mengadopsi gaya bangunan Eropa, meninggalkan pola aslinya. Rakyat Aceh sempat menolak menggunakan masjid ini ketika baru-baru dibangun.

Selain Masjid Raya Baiturrahman, Masjid Indrapurwa di Ujong Pancu yang sudah raib dimakan abrasi laut, Masjid Teungku Di Anjong, Masjid Jantho, Masjid Fakinah dan lainnya, dulu juga beratap segitiga. Di Pidie Jaya, Masjid Teungku Madinah di Beuracan masih utuh seperti semula.

Menurut Hasnanda Putra, peminat sejarah Aceh yang juga Kabid Promosi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Banda Aceh, dalam literatur sejarah disebutkan Sultan Iskandar Muda pernah membangun tujuh masjid, termasuk Masjid Raya Baiturrahman, Masjid Indrapurwa dan Masjid Indrapuri.

“Arsitektur bangunan masjidnya seperti ini, atap segitiga. Artinya masjid asli Aceh sebenarnya ya seperti Masjid Indrapuri ini,” katanya. Arsitektur masjid beratap piramida ini, menurutnya, kemudian diadopsi daerah-daerah lain di nusantara seiring dengan tersebarnya pengaruh Islam dari Aceh.

Hasnanda mengatakan dalam catatan-catatan sejarah yang dipelajarinya, gaya bangunan masjid-masjid Aceh mulai berubah sejak agresi Belanda. Kolonial mulai memperkenalkan bangunan-bangunan beton dengan arsitektur perpaduan Persia-Eropa. Kubah sendiri diyakini lebih condong mengadopsi gaya bangunan di India, meninggalkan arsitektur khas Aceh yang beratap kerucut.

Menariknya paskatsunami 2004, ada trend baru berkembang di mana masjid-masjid yang dibangun mulai mengadopsi arsitektur ala Timur Tengah, seperti terlihat di Masjid Al Makmur, Masjid Beurawe, Masjid Ulee Kareng.

Menyusul masuknya gaya arsitektur luar negeri, masjid-masjid beratap segitiga khas Aceh mulai terlupakan. Nyaris tak ada masjid baru yang dibangun dengan pola ini. Sementara masjid-masjid tua beratap piramida yang tersisa sebagian besar juga tak terawat dengan baik, kecuali hanya beberapa yang sudah dipugar seperti Masjid Indrapuri.

Padahal masjid dengan gaya atap piramida seperti ini menyimpan banyak keunggulan. Kontruksi bangunan kayu tanpa dinding, menunjukkan nuansa sederhana yang menyatu dengan alam tropis. Kemudian dari sisi dalamnya, berdasarkan kajian ilmiah, masjid beratap triagle (segitiga) seperti ini lebih memberi aspek kenyaman bagi pengunjungnya karena memiliki tingkat akustik lebih baik.

Artinya suara dalam masjid ini terdengar lebih jelas, dibanding dengan masjid berbentuk datar atau kubah. “Inilah keunggulan dari masjid beratap triagle yang banyak tidak diketahui orang,” ungkap Pakar Akustik dari Unsyiah, Dr. Zulfian kepada majalah ini beberapa waktu lalu.

Zulfian bersama tim Laboratorium Akustik Fakultas Teknik Unsyiah pernah meneliti melalui pendekatan empiris dan simulasi komputer bangunan Masjid Indrapuri. Hasil riset ilmiah ini menunjukkan, bahwa batas jarak perambahan suara kritis secara alami di masjid ini, mendekati kriteria yang disyaratkan dalam buku ilmu akustik yakni antara 40-50 milisecond dengan kecepatan suara 344 meter per detik, sehingga jarak perambahan suara alaminya 13,76 hingga 17,12 meter.

Kondisi ini membuat pantulan suara imam atau khatib walau tanpa menggunakan mikrofon bisa terdengar jelas kepada jamaah dalam masjid, sekalipun berada di sudut paling belakang. Efek atap piramida ini juga mampu melenyapkan gangguan suara-suara lain, termasuk tingkat dengungnya. “Artinya dengan kondisi seperti ini kita lebih bisa menyatu dengan alam, orang bisa lebih kusyu dalam masjid, lebih tenang,” tutur dosen Fakultas Teknik Unsyiah ini.

Menurutnya hasil riset ini membuktikan secara ilmiah bahwa desain atap piramida bersusun tiga seperti masjid Aceh memiliki karakteristik suara paling baik, dibanding dengan bangunan berbentuk kubah atau datar. Bangunan berbentuk kubah atau datar tingkat suara dengungnya dinilai tinggi apalagi di wilayah tropis seperti di Aceh.

Hal yang perlu dicatat bahwa masjid-masjid beratap piramida tersusun tiga sudah dirancang dan berkembang di Aceh sejak abad 15-16, sementara teori akustik baru dikenal abad 20. Apakah ini membuktikan bahwa orang-orang Aceh terdahulu jenius?

“Ini patut kita banggakan bahwa nenek moyang kita dulu sudah lebih dulu membuktikannya sebelum teori akustik lahir,” ujar Zulfian.

Menurutnya orang zaman dulu lebih mementingkan nilai dan roh yang terkandung dari sebuah bangunan. Sementara manusia modern selalu menganggungkan kemegahan dan keindahan bangunan, tapi sering melupakan rohnya.

“Roh sebuah masjid adalah suara. Shalat jamaah, khutbah, mengaji semua berkaitan dengan suara,” katanya. Suara yang terdengar jelas secara alami di masjid bisa membuat orang betah berlama-lama dalam masjid, merasa lebih tenang, seperti diakui Khairil. [Salman Mardira]