Mari Hidupkan Lagi Tradisi Keilmuan Islam di Aceh

28 Juli 2015

Tuan Di Kandang5
Banda Aceh – Aceh yang pernah berjaya sebagai pusat peradaban Islam di Asia Tenggara, diharapkan dapat membangun kembali tradisi keilmuan Islam yang selama ini hilang tergerus zaman dan minimnya kepedulian semua pihak.

Hal ini perlu menjadi perhatian semua pihak dalam upaya membangkitkan kembali keilmuan Islam di Aceh‎, sehingga bisa disegani dunia luar sebagaimana zaman Kesultanan Aceh tempo dulu. Demikian disampaikan Budayawan dan Kolektor Manuskrip Kuno Aceh, Tarmizi Abdul Hamid, Selasa, 28 Juli 2015.

Menurut kolektor naskah kuno dan manuskrip ini, tinta emas para intelektual Islam masa lalu sekaliber Hamzah Fansury, Syekh Nuruddin Ar-Raniry, Syekh Abdul Rauf As-Singkili (Tgk Syiahkuala ) dan ulama lintas zaman lainnya yang ditulis di media kertas, telah menghiasi keilmuan Islam yang sangat tinggi di sentero Asia.

Semua ulama tersebut telah menghabiskan umurnya dalam tradisi tulis menulis dengan beribu judul kitab kuno (manuskrip) di Aceh. “Keilmuan Islam dalam kitab-kitab tersebut di semua aspek sesuai dengan kebutuhan para pencari ilmu yang berbondong-bondong migrasi ke Aceh pada zaman tersebut. Negara-negara Islam lainnya pada masa itu memandang Aceh sebagai pusat pengembangan keilmuan yang berperadaban sangat tinggi, Aceh sangat aspiratif, dalam mengelola berbagai kepentingan hajat hidup semua bangsanya,” katanya.

“Nilai-nilai budaya dan sejarah itulah serta peninggalan tradisi yang ditinggalkan oleh leluhur kita yang masih dapat kita lihat, membaca dan meneliti sampai kepada zaman ini yang saya himpun dari berbagai daerah di Aceh yang saat ini tersimpan di koleksi saya berupa Naskah Kuno,” sambungnya.

Menurutnya ini adalah salah satu item yang maha penting sebagai referensi tradisi keilmuan Islam yang bisa ditransformasi kepada anak cucu.

Filolog Aceh, Hermansyah M.Th, MA, M.Hum,‎ mengatakan negara-negara maju seperti Inggris, Amerika, Jerman, Australia dan Jepang sangat meminati manuskrip Aceh yang kaya beragam keilmuan.

Dosen Fakultas Adab dan Humaniora UIN Ar Raniry Banda Aceh ini menyebutkan, negara-negara tersebut berlomba-lomba untuk membuat pusat studi Islamic dan lembaga penelitiannya khususnya dengan manuskrip yang berbahasa Arab, Melayu dan Aceh sendiri.

Dia mengajak generasi muda menyukai ilmu filologi atau yang berkaitan dengan manusktip, untuk menjaga tradisi keilmuan Islam yang telah diwarisi oleh leluhur kita. [SM]