Malaysia Pelajari Penerapan Syariat Islam di Banda Aceh

29 September 2016

Foto: Humas Banda Aceh

Foto: Humas Banda Aceh

Banda Aceh – Tim dari negeri jiran Malaysia yang berjumlah 4 orang berkunjung ke Banda Aceh untuk mempelajari penerapan Syariat Islam di Kota Madani ini. Mereka disambut oleh asisten II Setdakota Banda Aceh Bidang Keistimewaan, Ekonomi & Pembangunan, Ir Gusmeri MT dan beberapa pejabat SKPD, Rabu 28 September 2016 di Ruang Rapat Walikota.

Rombongan ini terdiri dari kepala Biro Pemahaman dan Pemantapan Agama Kerajaan Malaysia, Datok Ahmad bin Kasim yang juga berperan sebagai ketua rombongan. Kemudian Dr Hasan Bahrum dari Partai Amanah Negara, serta Mohd Zawawi dan Mohd Muzakki dari Partai Keadilan Rakyat. Datok Ahmad bin Kasim mengatakan mereka ingin mempelajari bagaimana proses dan tahapan dari awal yang dilakukan pihak terkait di Aceh hingga bisa menerapkan Syariat Islam di Bumi Serambi Mekah ini.

Menurutnya, Aceh berada di bawah pemerintahan Republik Indonesia yang bukan negara Syariah. Nah, bagaimana pihak Aceh mengurus administrasi dan segala hal lain yang berkaitan kepada pemerintah pusat? “Dari cara ini nantinya akan kami rintis di Malaysia. Dan apakah ini kehendak masyarakat atau hanya pihak penguasa saja?” kata Datok Ahmad.

Menjawab hal tersebut, Kepala Dinas Syariat Islam(DSI) Kota Banda Aceh, Mairul Hazami mengatakan bahwa perjuangan Syariat Islam di Aceh sudah sangat lama yaitu sejak pertama kali Aceh bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia. “Sebagai daerah yang berjasa dalam mempertahankan kedaulatan Indonesia, Aceh meminta syarat kebebasan menerapkan Syariat Islam saat bergabung dengan NKRI. Dan Hal ini disetujui oleh pesiden Soekarno saat itu,” ujarnya.

Sekretaris Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kota Banda Aceh, Drs T Angkasa menjelaskan bahwa saat ini penerapan Syariat Islam telah menyentuh dunia pendidikan. Hal ini diterapkan melalui Pendidikan Diniyah yaitu pemantapan ilmu-ilmu keagamaan di luar pelajaran formal sekolah di setiap sekolah-sekolah dari SD, SMP, dan SMA. Ia mengatakan Pendidikan Diniyah yang telah dimulai sejak tahun 2011 ini berdampak signifikan terhadap siswa-siswi di Kota Banda Aceh.

Sementara itu Ketua Majelis adat Aceh (MAA), Sanusi Husen Islam telah mendarah daging pada masyarakat Aceh sejak dulu. Oleh karena itu, katanya, penerapan Syariat Islam merupakan keinginan rakyat Aceh sangat sejalan dengan adat dan istiadat setempat. Sebelumnya rombongan dari Malaysia ini telah berdiskusi dengan pihak Pemerintah Aceh dan Universitas Negeri Islam (UIN) Ar-Raniry. [AW|HFZ]