Jaga Budaya, MAA Banda Aceh Serahkan Perlengkapan Peusijuk

3 Agustus 2016

Wali Kota Banda Aceh saat prosesi peusijuk JCH PNS Banda Aceh | Foto: Humas

Wali Kota Banda Aceh saat prosesi peusijuk JCH PNS Banda Aceh | Foto: Humas


Banda Aceh – Majelis Adat Aceh (MAA) Kota Banda Aceh mengadakan acara Penyerahan Perlengkapan Adat Peusijuek kepada perangkat Gampong Ateuk Munjeng, Selasa 2 Agustus 2016 di Meunasah gampong Setempat.

Ketua MAA Kota Banda Aceh, Sanusi Husen, dalam sambutannya mengatakan, penyerahan perlengkapan adat peusijuk di Gampong Ateuk Munjeng tersebut merupakan pertama kali dilakukan tahun ini dan akan berlanjut ke gampong-gampong lainnya di Kota Banda Aceh.

Sanusi menjelaskan kegiatan ini bertujuan untuk menjaga dan melestarikan adat istiadat Aceh yang kental dengan nilai-nilai islami. Ia mengatakan ia merupakan bagian dari cita-cita untuk mewujudkan Banda Aceh sebagai model Kota Madani.
“Peusijuk merupakan simbol orang Aceh dalam mewujudkan kebersamaan. Dalam Peusijuk orang akan didoakan agar segala yang dilakukan dalam kehidupan diridhai oleh Allah. Orang yang hendak naik haji didoakan agar menjadi haji yang mabrur, pemuda yang menikah akan didoakan agar berkah dalam menjalani rumah tangga,” ujar Ketua MAA Banda Aceh.

Sanusi mengatakan perlu keseriusan dalam menjaga adat dan syariat. Ia berharap agar perangkat Gampong membuat Reusam yang mendukung dan memperkuat implementasi syariat Islam.

Sementara itu Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa`aduddin Djamal, melalui Asisten Bidang Keistimewaan, Ekonomi & Pembangunan, Ir Gusmeri MT, mengapresiasi MAA Banda Aceh dan masyarakat Gampong Ateuk Munjeng yang mengadakan kegiatan ini karena menjadi bagian dari upaya melestarikan adat istiadat dan budayamasyarakat Aceh yang telah ada sejak dahulu.

Gusmeri mengatakan adat istiadat dan kebudayaan Aceh tidak terlepas dari nilai-nilai keislaman yang telah ada sejak dahulu. Untuk menjaga adat istiadat dan budaya Aceh yang sangat identik dengan nilai keislaman tersebut, harus dimulai dari dalam rumah tangga masing-masing. Namun pada saat ini tidak sedikit budaya yang mulai ditinggalkan oleh generasi muda Aceh.

“Pada masyarakat Aceh, adat istiadat telah memberikan tempat yang istimewa dalam perilaku sosial dan agama. Hal ini dibuktikan dengan ungkapan `hukom ngon Adat Lagee zat Ngon Sifeut`. Artinya adat dengan hukum syariat Islam tidak dapat dipisahkan seperti zat dengan sifatnya. Diumpamakan seperti kuku dengan daging, sehingga kaidah Islam sudah merupakan bagian daripada adat,” ujarnya. [AW]