Illiza dan Dubes Denmark Bahas ‘Green Energy’

15 November 2015

Foto: Humas Banda Aceh

Foto: Humas Banda Aceh


Banda Aceh – Wali Kota Banda Aceh Hj Illiza Sa’aduddin SE mengadakan pertemuan dengan Dubes Denmark untuk Indonesia Casper Klynge di ruang kerjanya di Balai Kota Banda Aceh, Jumat 13 November 2015. Wali Kota Illiza didampingi oleh Sekda Ir Bahagia Dipl SE dan Rektor Unsyiah Prof Dr Ir Samsul Rizal MEng.

Pertemuan ini merupakan tindak lanjut dari pertemuan sebelumnya antara Illiza dan Casper Klynge di Jakarta pada acara kunjungan Ratu Denmark ke Indonesia beberapa waktu yang lalu. Waktu itu, Illiza berkesempatan menyampaikan presentasinya terkait energi terbarukan dan pembangunan kota yang keberlanjutan di depan Ratu Margrethe II.

Kemarin, Illiza dan Casper membicarakan kemungkinan-kemungkinan kerja sama kedua belah pihak di bidang energi terbarukan, penanganan sampah, pemerintahan dan ekonomi. “Denmark sangat luar biasa di bidang green energy, dan saat ini telah mampu berkontribusi secara global. Saya berharap Denmark dapat membantu dan berkerjasama pula dengan Banda Aceh,” kata Illiza kepada Dubes Denmark.

Illiza juga mengucapkan terima kasih atas bayaknya bantuan dari Denmark untuk Aceh khususnya Banda Aceh pada masa rehab-rekon pasca tsunami. “Saat ini kami terus berupaya membangun Banda Aceh dengan konsep smart city, green sity, dan resilient city. Kami juga terus mengembangkan e-goverment. Mudah-mudahan bisa terjalin suatu kerja sama sister city dengan salah satu kota di Denmark, atau support tenaga ahli dari Denmark.”

Menjawab pertanyaan Dubes soal stigma negatif terhadap Aceh sebagai daerah bekas konflik berkepanjangan, Illiza mengatakan hal itu masih terjadi karena karena pemberitaan media di luar negeri yang menggambarkan seakan-akan konflik tak ada habisnya di Aceh. “Nyatanya, premanisme saja tak ada di Aceh. Di Banda Aceh, anda bisa ngopi di warkop 24 jam sambil nonton bola di TV,” kata Illiza.

Dalam hal pengarusutamaan gender, sambung Illiza, Banda Aceh menjadi salah satu contoh best practice di Indonesia. “Pada konferensi PBB baru-baru ini New York soal SDG’s, kita juga mendapat award dari pihak Jeman,” kata Illiza yang juga menjabat sebagai Ketua Komite Perempuan UCLG-ASPAC ini.

Hal lain yang disinggung Casper adalah mengenai kerukunan umat beragama di Banda Aceh. Terkait hal ini, Illiza menjelaskan kerukunan umat beragama di Banda Aceh yang sudah terjaga sejak masa kesultanan Aceh juga kerap menjadi rujukan dunia internasional. “Di sini kami membentuk suatu forum komunikasi antar umat beragama yang terdiri dari tokoh-tokoh lintas agama. Konferensi internasional soal keagamaan juga sering diadakan di Banda Aceh.”

Saat terjadi konflik antar umat beragama di Singkil yang berimbas pada pembakaran rumah ibadah, Pemko Banda Aceh bergerak cepat meresponnya dengan mengadakan pertemuan dengan tokoh-tokoh lintas agama demi ketenangan masyarakat. “Saat malam natal misalnya, kami juga menyiapkan pengamanan bagi umat kristiani. Gereja, vihara maupun kuil yang ada di Banda Aceh tak pernah mendapat gangguan,” katanya.

Sekda Bahagia menambahkan, saat ini Banda Aceh telah menjalin kerja sama sister city dengan beberapa kota di dunia antara lain Higashimatsushima-Jepang, Apeldoorn-Belanda, Samarkand (Uzbekistan) dan terakhir dengan Kota Vukovar (Kroasia). “Dalam waktu dekat, kami akan menyiapkan proposal untuk lebih mengkonkritkan bidang kerja sama antara Banda Aceh dan Denmark. Kami ingin memulai segera kerja sama dengan Denmark yang terkenal dengan green energy-nya,” timpal Bahagia.

Sementara itu, Casper Klynge, menyambut positif keseriusan Pemko Banda Aceh untuk menjalin kerja sama dengan pihaknya. “Saya secara khusus juga mengucapkan terima kasih kepada Ibu Illiza atas partisipasinya pada kunjungan ratu kami ke Jakarta beberapa waktu yang lalu.”

Kedatangannya ke Aceh, kata Casper, untuk mengetahui langsung kondisi Polhukam dan sosial budaya serta iklim investasi di Aceh. Menurutnya, stigma yang beredar di luar mengenai Aceh tidaklah begitu jelas dan ia mengaku lega mengetahui kondisi Aceh hari ini sudah jauh lebih baik.

“Kami akan memulai mengambil inisiasi untuk membantu Banda Aceh terutama di bidang energi. Februari tahun depan kami berencana akan menggelar pertemuan lanjutan di Banda Aceh dengan membawa para ahli energi dari Denmark,” kata Casper seraya mengutarakan beberapa program andalan pihaknya seperti pemanfaatan gas metan dari sampah, dan wind energy.

Pada pertemuan itu yang berlangsung penuh keakraban itu, Illiza menyuguhi tamunya dengan kopi Aceh dan beberapa jenis makanan khas Aceh seperti Timphan Asokaya dan kue ketan Srikaya. “It’s perfect,” kata Casper saat menyeruput kopi Aceh yang disebut Rektor Unsyiah Samsul Rizal sebagai Kopi Arabika nomor satu di dunia. [Ril|Jun]