Illiza: Banda Aceh Islamic Smart City untuk Dunia

9 September 2016

Foto: Dok Humas Banda Aceh

Foto: Dok Humas Banda Aceh


Yogyakarta – Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa’aduddin Djamal menjadi salah satu narasumber Symposium Smart City 2016 yang berlangsung di kampus Universitas Gajah Mada (UGM), Yogyakarta, Rabu 7 September 2016. Acara ini digelar oleh Center for Digital Society (CfDS) Fisipol UGM bekerjasama dengan Direktorat Jenderal Otonomi Daerah Kemendagri dan Microsoft.

Symposium Smart City 2016 yang dibuka oleh Mendagri Tjahjo Kumolo ini berlangsung hingga Jumat 9 September 2016, dengan dua rangkaian acara yaitu simposium dan diskusi panel di hari pertama dan Smart City Training di hari kedua dan ketiga. Diskusi panel dihadiri oleh 14 wali kota, sementara pelatihan kota pintar melibatkan delegasi dari 40 kota se-Indonesia.

Illiza sendiri tampil pada diskusi panel sesi ketiga bersama Wali Kota Depok Idris Abdul Shomad dan perwakilan dari Gubernur Yogyakarta. Menurut Illiza, berbicara mengenai smart city tidak hanya soal ICT semata, akan tetapi juga menyangkut banyak aspek mulai dari lingkungan, infrastruktur, transportasi, hingga pariwisata. “Kota pintar menggambarkan suatu kota yang betul-betul smart, baik masyarakatnya, pemerintahnya, maupun lingkungan masyarakatnya.”

Setelah memaparkan sekilas profil Kota Banda Aceh, Illiza kemudian menjelaskan konsep smart city di Banda Aceh tidak dapat dipisahkan dengan syariat islam yang berlaku di Aceh. “Sebagian pihak masih menganggap syariat islam menghambat suatu daerah untuk maju, salah satunya mengekang hak perempuan. Namun nyatanya saya jadi wali kota sekarang,” sebut Illiza disambut tepuk tangan hadirin.

Ia juga mengharapkan, stigma yang masih melekat yakni syariat Islam hanya akan menghambat kemajuan dan tidak matching dengan teknologi bisa segera dihilangkan. “Karena kami sangat bangga menunjukkan Banda Aceh Islamic Smart City kepada dunia,” sebut Illiza.‎

Selanjutnya, Illiza mepaparkan langkah-langkah yang telah ditempuh pihaknya guna mewujudkan Banda Aceh Islamic Smart City‎ baik berupa kebijakan, program, inovasi maupun aplikasi-aplikasi berbasis ICT yang dilahirkan oleh para staf Pemko Banda Aceh.

Sejumlah aplikasi yang dipaparkan Illiza antara lain E-Kinerja, E-Disiplin, dan penetapan Banda Aceh sebagai salah satu pilot project open data di Indonesia. “11 SKPK saat ini sudah menerapkan open data, dan targetnya seluruh SKPK pada 2017. ‎Begitu juga dengan Puskesmas, rumah sakit, dan sekolah-sekolah. Data yang ditampilkan tentu sangat dibutuhkan oleh masyarakat.”

“Selain itu, kami juga telah membuka perizinan online yang terintegrasi dengan BPJS Ketenagakerjaan, dan ini merupakan yang pertama yang diterapkan di Indonesia,” kata Illiza yang kemudian juga menjelaskan soal penerapan arsip kependudukan online dan antrian online, database pohon, penggunaan digital document (Digdoc) hingga sistem informasi pembangunan berbasis masyarakat (SIPBM) Online.

“Semua aplikasi yang kami bangun ini sifatnya merah mutih, artinya bisa diadopsi oleh siapa saja demi kemajuan Indonesia,” katanya lagi.

Ia menambahkan, perkembangan ICT di Banda Aceh begitu pesat sehingga menempatkan Banda Aceh sebagai salah satu kota pengguna internet tertinggi di Indonesia. “Hampir semua Warkop di Banda Aceh menyediakan wifi gratis. Begitu juga dengan hot spot wifi di sekolah-sekolah dan taman kota hinga ke masjid-masjid dengan program cyber masjid yang kami kembangkan,” pungkas Illiza. [AW|Ril]