Idul Fitri di Aceh, Kue Timphan Wajib Tersaji di Meja

20 Juli 2015

Foto: Adi

Foto: Adi


Banda Aceh – Kue timphan terhidang di atas meja ruang tamu, rumah ibu Siti, Desa Serambi Indah, Kota Langsa. Usai salat Idul Fitri, satu persatu tamu datang berkunjung.

Tuan rumah menghidangkan minuman, sambil membuka toples aneka kue kering. Sementara kue timphan tersaji di dalam piring. “Silakan dicicipi, timphannya,” ujar Ibu Siti kepada tamu.

Timphan adalah kue wajib menjamu tamu di Aceh. Hampir semua rumah di Aceh menyajikan makanan itu pada hari raya. Bahkan anggota keluarga yang pulang mudik ke rumah orang tuanya, menuntut kue itu jauh-jauh hari.

“Anak-anak suka timphan. Kami membuatnya pada malam lebaran. Ini seperti tradisi, sudah berlangsung sejak dahulu kala,” kata Siti.

Timphan adalah kue khas Aceh saat Lebaran dan Idul Adha. Biasanya timphan dibuat pada malam Lebaran. Kue itu bisa tahan sepekan. “Tak ada orang Aceh yang tak tau timphan,” kata Zulyadi, warga Banda Aceh.

Kue itu berbentuk pipih lonjong dengan berbungkus daun pisang muda, seukuran dua atau tiga kali ukuran jari orang dewasa. Timphan lembek dengan bahan utama tepung dan pisang serta isi dalamnya kelapa plus gula ataupun srikaya. Isi dalamnya tergantung selera.

Srikaya dibuat dari telur, santan, tepung terigu, gula dan nangka cincang halus. Bahan ini perlu dimasak terlebih dahulu sebelum menjadi bagian dalam timphan.

Cara membuat timphan, awalnya tepung ketan dan pisang dihaluskan dengan santan kelapa. Sebagian bahan kenyal itu kemudian ditaruh di atas daun pisang yang telah diolesi minyak goreng, lalu ditipiskan. Di bagian tengah diisi kelapa parut plus gula atau srikaya. Lalu, digulung dan dibungkus daun pisang. Selanjutnya dikukus sampai matang. Timphan siap saji, enak dimakan saat masih hangat.

Timphan yang menjadi makanan warisan nenek moyah di Aceh dulunya, punya peribahasa sendiri untuk mengungkapkan keberadaannya. Bunyinya begini; “Uroe get buluen get, Timphan ma peugoet beumeuteme rasa.” (Hari baik bulan baik, timphan bikinan ibu harus dapat kurasakan)

Hari baik dan bulan baik adalah Idul Fitri. Kerinduan akan timphan bikinan orangtua, selalu mengisi relung hati mereka, warga Aceh di hari suci. [AW|TEMPO.CO]